Risau
Pagi di potret ini, bukan pagi ini, kok.
Ini pagi yang kemarin
Pagi ini, aku melewatkannya
Tak masalah.
***
Perempuan itu tidak mengerti.
Ia tidak sadar bahwa selama ini laki-laki yang selalu ada di dekatnya itu diam-diam menyisipkan remah hatinya ke dalam hati perempuan itu. Sebab untuk langsung menaruh hati, laki-laki itu masih belum berani. Bagaimana ia akan menaruh hatinya sementara masih ada orang lain yang mengisi hampir seluruh hati perempuan itu. Maka dari itu, ya sudahlah--pikirnya. Biar kujadikan hati ini sebagai remah yang mungkin kau, dia, dan mereka anggap remeh. Tetapi ini caraku mengisimu. Aku ada di sudut hatimu yang kosong. Kelak jika ia pergi darimu, akulah yang tersisa.
Demikian pun tak masalah, karena dari awal aku adalah sisa. Sisa semangat yang sekarang kuperoleh dari senyum dan tawamu.
Laki-laki itu tidak mengerti.
Bahwa perempuan yang selalu ada di dekatnya itu sangat lemah. Dan merasa kosong sejak lama. Sekosong pedestrian di kala hujan; indah namun tak ada yang melewatinya apalagi singgah padanya.
Perempuan itu selalu merasa hujanlah penyebabnya, hujanlah yang menyepikan hatinya, hujanlah muasal kekosongan dirinya. Padahal hujan itu hanya turun rintik-rintik, untuk menyapu debu yang telah melekat di hatinya.
Hujan itu turun dari remah hati laki-laki yang selalu ada di dekatnya.
Tetapi mereka sama-sama tidak sadar
(Yogyakarta, 5 Oktober 2016)

Comments
Post a Comment