Sepucuk Surat untuk Warna
Untuk Warna
Hai, Warna.
Warni ingin berkata sesuatu padamu. Tetapi dia tidak bisa bicara, maka izinkanlah aku yang mengutarakannya.
Warni sudah lelah, Sayang.
Menunggu waktu sampai kapanpun, dia takkan pernah siap mengatakannya karena memang tak akan pernah ada waktu yang tepat. Kau pun demikian; kau takkan pernah siap mendengarnya karena kau memang tak pernah mempersiapkannya.
Kau tak mungkin pernah mempersiapkan kepergian Warni.
Warni mungkin masih mencintaimu. Mungkin juga tidak. Ia telah memiliki dunianya yang bebas. Raga mengizinkannya mengeksplorasi diri meskipun itu bukan keputusan yang benar karena Warni mulai berjalan ke arah yang salah.
Warni mulai tersesat.
Matanya mulai buta semenjak Warna mulai rabun.
Ah, iya, ia juga berkata bahwa ia tidak mau membawamu ikut serta dalam perjalanannya karena ia takut membuatmu tersesat. Sungguh, ia teramat takut membuatmu jatuh, menemui jalan buntu, atau terjerat belantara dan tak dapat kembali lagi.
Cukuplah ia yang tersesat, katanya.
Cukuplah ia yang rusak.
Warna,
Ia sungguh mencintaimu.
Namun, berjalan di jalannya masing-masing, dengan takdir masing-masing, adalah hakikat setiap makhluk hidup.
Kalian hanya tak sengaja bertemu.
Kedua garis yang tak sejajar, akan berpisah setelah menemui titik perpotongan.
Dari Warni
Yang takut berkata-kata
Yang layu dan pengecut.
Hai, Warna.
Warni ingin berkata sesuatu padamu. Tetapi dia tidak bisa bicara, maka izinkanlah aku yang mengutarakannya.
Warni sudah lelah, Sayang.
Menunggu waktu sampai kapanpun, dia takkan pernah siap mengatakannya karena memang tak akan pernah ada waktu yang tepat. Kau pun demikian; kau takkan pernah siap mendengarnya karena kau memang tak pernah mempersiapkannya.
Kau tak mungkin pernah mempersiapkan kepergian Warni.
Warni mungkin masih mencintaimu. Mungkin juga tidak. Ia telah memiliki dunianya yang bebas. Raga mengizinkannya mengeksplorasi diri meskipun itu bukan keputusan yang benar karena Warni mulai berjalan ke arah yang salah.
Warni mulai tersesat.
Matanya mulai buta semenjak Warna mulai rabun.
Ah, iya, ia juga berkata bahwa ia tidak mau membawamu ikut serta dalam perjalanannya karena ia takut membuatmu tersesat. Sungguh, ia teramat takut membuatmu jatuh, menemui jalan buntu, atau terjerat belantara dan tak dapat kembali lagi.
Cukuplah ia yang tersesat, katanya.
Cukuplah ia yang rusak.
Warna,
Ia sungguh mencintaimu.
Namun, berjalan di jalannya masing-masing, dengan takdir masing-masing, adalah hakikat setiap makhluk hidup.
Kalian hanya tak sengaja bertemu.
Kedua garis yang tak sejajar, akan berpisah setelah menemui titik perpotongan.
Dari Warni
Yang takut berkata-kata
Yang layu dan pengecut.
Comments
Post a Comment