Lamunan di Sudut Barat Daya Ruang Itu
Entah mengapa, aku menyukai sudut itu.
Sudut dimana aku bisa merasakan cahaya yang masuk melewati sela-sela kerangka besi.
Sentuhan cahaya kepada tepi kerangka besi menghasilkan pembelokan, sehingga bayangan yang tercipta menjadi buram. Tumpang tindih. Membuatnya menjadi unik dan tidak biasa; aku suka.
Melalui jendela itu, aku bisa melihat tanah di luar. Orang-orang yang memarkir kendaraan maupun yang melaju dari lapangan parkir itu. Langit yang cerah, berawan, ataupun hujan. Semua tampak dari jendela itu.
Ketika semua tampak membosankan, aku mencoba membiarkan otakku berimajinasi, menerjemahkan, dan berpikir sepuasnya.
.
Aku melihat tanah.
Tempatku bermula diciptakan, tempatku pulang ketika akhir hidupku nanti. Tempatku berpijak; sumber kehidupan setiap manusia.
Saksi bisu sejarah yang tiada habis-habisnya.
.
Aku melihat aktivitas orang-orang di lapangan parkir.
Mencerminkan siklus manusia yang selalu datang dan pergi. Orang datang, lalu pergi. Yang pergi bisa kembali, bisa juga tidak. Saat melihat seseorang datang, aku harus siap melihatnya pergi.
Lapangan parkir yang kosong, menjadi penuh dengan manusia dan kendaraannya. Kemudian menjadi lengang kembali ketika mereka pergi. Esok hari, siklus itu akan berulang kembali.
.
Dan aku melihat langit.
Sahabat tanah semenjak mereka diciptakan. Langit dan tanah sama-sama saksi bisu sejarah. Mereka sama-sama dibatasi oleh volume bumi. Mereka berdua yang kini batuk-batuk karena disuplai polutan manusia.
Bedanya, langit punya wajah yang lebih ekspresif. Warna wajahnya, awan berarak yang banyak rupanya, ia tampilkan untuk disaksikan siapa saja yang berminat. Meski kadang manusia lupa, langit selalu memayungi kita semua.
.
Seketika, suara Ibu Dosen menyadarkanku dari lamunan.
Ah, aku ini ngomong apa, sih.
Sudut dimana aku bisa merasakan cahaya yang masuk melewati sela-sela kerangka besi.
Sentuhan cahaya kepada tepi kerangka besi menghasilkan pembelokan, sehingga bayangan yang tercipta menjadi buram. Tumpang tindih. Membuatnya menjadi unik dan tidak biasa; aku suka.
Melalui jendela itu, aku bisa melihat tanah di luar. Orang-orang yang memarkir kendaraan maupun yang melaju dari lapangan parkir itu. Langit yang cerah, berawan, ataupun hujan. Semua tampak dari jendela itu.
Ketika semua tampak membosankan, aku mencoba membiarkan otakku berimajinasi, menerjemahkan, dan berpikir sepuasnya.
.
Aku melihat tanah.
Tempatku bermula diciptakan, tempatku pulang ketika akhir hidupku nanti. Tempatku berpijak; sumber kehidupan setiap manusia.
Saksi bisu sejarah yang tiada habis-habisnya.
.
Aku melihat aktivitas orang-orang di lapangan parkir.
Mencerminkan siklus manusia yang selalu datang dan pergi. Orang datang, lalu pergi. Yang pergi bisa kembali, bisa juga tidak. Saat melihat seseorang datang, aku harus siap melihatnya pergi.
Lapangan parkir yang kosong, menjadi penuh dengan manusia dan kendaraannya. Kemudian menjadi lengang kembali ketika mereka pergi. Esok hari, siklus itu akan berulang kembali.
.
Dan aku melihat langit.
Sahabat tanah semenjak mereka diciptakan. Langit dan tanah sama-sama saksi bisu sejarah. Mereka sama-sama dibatasi oleh volume bumi. Mereka berdua yang kini batuk-batuk karena disuplai polutan manusia.
Bedanya, langit punya wajah yang lebih ekspresif. Warna wajahnya, awan berarak yang banyak rupanya, ia tampilkan untuk disaksikan siapa saja yang berminat. Meski kadang manusia lupa, langit selalu memayungi kita semua.
.
Seketika, suara Ibu Dosen menyadarkanku dari lamunan.
Ah, aku ini ngomong apa, sih.

Comments
Post a Comment