Bawah Tanah
Rasanya kurang adil kalau hanya menceritakan kisah-kisah yang menyayat hati. Selagi neurotransmitterku sedang seimbang, aku ingin menceritakan beberapa hal.
Ada banyak perubahan yang terjadi belakangan ini. Perubahan yang kulakukan--dan kurasa cukup signifikan--adalah lebih banyak menghabiskan waktu di tempat yang berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya aku sangat banyak menghabiskan waktu di Pohon, maka sekarang aku lebih sering berada di Bawah Tanah. Aku telah mengenali seluruh orang di Pohon sebisaku. Memahami lika-liku yang terjadi di Pohon. Orang-orang yang datang dan pergi, singgah dan beranjak, tinggal dan meninggalkan Pohon jumlahnya tidak sedikit. Siklus itu cukup membuatku semakin terlatih dalam mengelola perasaan ketika mengalami pertemuan dan perpisahan. Aku sudah cukup banyak bercerita tentang orang-orang di Pohon, dan saat ini aku ingin cerita tentang dunia Bawah Tanah.
Sebetulnya, aku lebih dulu mengenal dunia Bawah Tanah dibandingkan Pohon. Akan tetapi, buah-buahan dan taman bunga di Pohon memang sangat menarik untuk kueksplorasi sehingga aku tidak begitu memedulikan dunia Bawah Tanah. Akhir-akhir ini, banyak yang terjadi, sehingga aku lebih sering berada di Bawah Tanah ketimbang di Pohon. Di dunia Bawah Tanah, aku mulai bertemu dengan beberapa orang baru. Ah, mungkin bukan bertemu, lebih tepatnya: berkenalan.
Selama ini aku merasa bahwa diriku agak berbeda dibandingkan orang-orang yang berada di Bawah Tanah, kurasa aku lebih cocok dengan orang-orang di Pohon. Rupanya tidak demikian. Beberapa orang yang baru kukenal di Bawah Tanah memiliki frekuensi yang serupa denganku. Aku baru ingat, bukankah kami sama-sama memilih ke Bawah Tanah untuk alasan tertentu? Sama halnya dengan Pohon, kami sama-sama ke sana untuk alasan tertentu. Alasan ini bisa berbeda-beda setiap orang, tetapi jika jumlah orangnya cukup banyak, maka peluang untuk menemukan kesamaan semakin tinggi. Meskipun kamu adalah outlier, selama populasinya berjumlah sangat banyak, maka outlier bisa tidak akan hanya satu. Statistik telah bersabda.
Sebenarnya hanya dua orang yang membuatku ingin menulis tulisan ini. Keduanya juga gemar menulis, berdiskusi, menggiati seni, serta mengapresiasi keindahan alam semesta dan fenomena yang terjadi di dalamnya. Alam semesta ini indah, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Merenung dan mengamati adalah sebagian dari metode untuk mengapresiasinya. Aku ingin mereka terdokumentasi di beranda diriku dalam bentuk kata-kata sebagaimana beberapa orang lainnya. Namun, aku tidak ingin menulisnya lebih dalam karena aku sendiri masih menggali. Yang satu memiliki sumur terbuka sehingga aku tidak perlu repot menggali, tetapi rupanya sumur itu bercabang. Yang satu lagi, entah di mana sumur-sumurnya. Aku menggali dengan mencoba mengetuk pintu-pintu pemikirannya melalui ucapan. Aku tidak tahu bagaimana mereka terhadapku dan aku tidak peduli. Sebab, aku hanya ingin tahu.
Comments
Post a Comment