Cerita kepada Mirat
Di atas meja ulin bundar berwarna cokelat kehitaman, lengan Warni terlipat manis. Sebuah lampu remang memendarkan cahaya kuning tepat di atas pusat jari-jari lingkaran meja itu. Sekelebat memori lewat, bahwa di meja itu, ia telah melewati banyak sekali perbincangan, perdebatan, diskusi, silat lidah, adu mulut, adu argumen, dan segala adu-adu lainnya yang bermakna serupa. Tak lain, lawannya tentu adalah Kaku. Bagian dari dirinya juga, tetapi memiliki sifat dan pemikiran yang amat bertentangan dengan Warni.
Setelah perkelahian yang cukup lama kemudian diikuti perang dingin di antara Warni dan Kaku, akhirnya Kaku menyerah juga. Ia angkat tangan, memutuskan untuk duduk dan beristirahat. Untuk mengantisipasi sadarnya orang-orang di sekitarnya tentang menghilangnya Kaku, Warni telah menciptakan topeng berwajah Kaku. Sesuatu yang amat mudah baginya; ia sudah biasa berkilah.
Malam itu, Warni duduk sendiri. Tidak ada Kaku. Ia menunggu seseorang: Mirat. Bagi Warni, Mirat adalah makhluk misterius yang belum benar-benar ia kenali. Sebab, saat pertama kali Warni bangkit dan hidup di ruang gelap yang sekarang ia tempati, ia hanya mengenali satu makhluk lain di sana, tak lain ialah Kaku. Suatu malam, ketika Warni dan Kaku berbincang, tahu-tahu muncul sesosok makhluk lagi yang duduk di antara mereka. Bagai kilat yang hadir tanpa hujan, saat itu Mirat benar-benar mengejutkan Warni maupun Kaku. Namun, anehnya, Mirat juga tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya memperkenalkan diri, mengamati situasi dimana Warni dan Kaku kembali melanjutkan perbincangan, selanjutnya tidak melakukan apapun. Sejak saat itu, Mirat kerap muncul dari sudut bayang-banyang ruangan tersebut.
Jika Warni digambarkan sebagai makhluk beraneka warna namun didominasi aura hitam sedangkan Kaku adalah makhluk putih polos dengan delapan titik sudut di tubuhnya, Mirat adalah makhluk yang sepenuhnya hitam namun memantulkan cahaya.
Malam itu, Warni mengundang Mirat untuk bicara.
***
"Hai, maaf lama," sapa Mirat.
"Tak apa. Aku tidak mengekspektasikan lebih," jawab Warni. "Kau datang di waktu yang tepat. Keterlambatanmu memberiku waktu untuk berpikir. Kau tahu, kan, kalau aku memanggilmu untuk mengajak bicara?" Sambungnya.
"Oh, ya! Tentu, aku tentu tahu. Nah, katakanlah apa yang ingin kaubicarakan."
"Sebetulnya aku hanya ingin bercerita, Mirat. Aku terlalu lama kesepian, tetapia malas membangunkan tidur Kaku. Aku masih bosan berdebat."
"Itu sebabnya kaumemanggilku? Hmm, kupikir kamu pribadi yang independen. Tahan banting meski lawannya kesepian."
"Kuharap juga begitu, tetapi kurasa semua orang sama. Eksistensi dalam lingkungan tertentu adalah bagian dari kebutuhan. Oh ya, yang ingin kukatakan padamu adalah bahwa masih ada satu lagi pertanyaan yang kusimpulkan, tetapi belum berjodoh dengan jawabnya."
"Dan apakah itu, Warni?" Tanya Mirat. Ia sungguh pendengar yang baik.
"Hidup. Aku percaya bahwa setiap makhluk punya tantangannya sendiri-sendiri. Masalahnya sendiri-sendiri. Kemudian, manusia akan bertindak sesuai hukum alam, yaitu berpindah secara spontan. Baik menuju ke ataupun menjauh dari. Yang belum kumengerti adalah, mengapa siklus ini terus terjadi? Mengapa kita pasrah-pasrah saja menghadapi hidup yang penuh masalah ini. Mengapa kita harus diciptakan, mengapa kita harus bertemu masalah.
"Aku direkomendasikan sebuah buku oleh Tuan Rindu dan sebuah film oleh Nona Jingga lewat obrolan di jendela. Berkaitan dengan pencarianku, katanya. Ya, aku bisa berempati betul dengan tokoh-tokoh utama dalam buku maupun film tersebut. Tetapi--"
"Tunggu," sergah Mirat. "Kau masih bisa membaca dan menonton film dalam penjara ini?"
"Itu soal mudah, Miratku sayang. Tapi tidak ada hubungannya. Boleh kulanjut lagi?"
"Oh, ya. Silakan."
"Apa yang dipertanyakan dalam diri pemeran utama buku dan film itu, kurang lebih sama dengan pertanyaanku. Konflik eksternal yang dihadapi mereka pun demikian. Aku bisa merasakan darahku berdesir kecang dan kepalaku pening saat meresapi karakter-karakter di dalamnya; aku terhanyut dalam pelarian dan pencarian mereka yang juga merupakan pencarianku. Waktu demi waktu kutempuh, berharap bisa menemukan jawaban atau paling tidak suatu petunjuk untuk mendapat kesimpulan yang kucari. Namun, aku tersadar satu hal, Mirat..."
"Apa?" Kali ini Mirat menjawab singkat.
"Aku harus melakukan pencarianku sendiri. Buku dan film tidak semerta-merta membiarkanku melahap doktrin seperti sebagaimana selama ini aku dididik. Jawaban itu tetap tersembunyi, Mirat. Aku ingin mencarinya, tetapi aku enggan mengajak Kaku. Hanya ada kamu, Mirat."
"Kaumengajakku mencari jawaban bersama-sama?"
"Semacam itu." Warni meraih telapak tangan Mirat dan menggenggamnya erat-erat. Beberapa detik kemudian, ia melepasnya. "Tetapi sungguh, malam ini aku mengantuk, Mirat... terima kasih telah mendengarkan ceritaku. Mari lanjutkan pembicaraan ini di lain waktu." Warni menutup pembicaraan dan mematikan lampu.
Comments
Post a Comment