Warni Bercerita
Di antara suara jangkrik, alunan piano serta petikan gitar, kupandang sepucuk surat baru yang dialamatkan kepadaku. Kuamati goresan tulisannya--ah, surat tak bernama ini pasti tak lain dari Warni. Isinya:
"Terima kasih.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pohon dan Rumah, serta siapa saja yang ada di dalamnya. Tanpa bisikan mereka, barangkali aku tidak akan melakukan pengembaraan selama tujuh hari ini."
Tawaku tergelak. Benar juga, sudah beberapa hari sejak ia terakhir kali menitipkan surat padaku. Pengembaraan macam apa yang ia maksud? Mungkin akan lebih menarik jika kuteruskan membaca suratnya. Masih ada lanjutan tulisannya di bagian bawah surat.
"Maaf lama tidak mengabarimu, berikut aku lampirkan catatan pengembaraanku selama tujuh hari. Dan latar belakangnya. Yah, tidak rinci, sih. Aku ingin menyampaikan apa yang ingin kusampaikan saat ini saja. Kau tahu aku, bukan? Haha!"
***
Semua dimulai dari pembicaraan Warni dengan seseorang di bawah Pohon. Orang yang sudah berteduh di bawah Pohon sejak setahun lebih dulu dari Warni itu menceritakan sesuatu.
"Mungkin kau sering melihat orang datang dan pergi, singgah dan beranjak, berteduh lalu meninggalkan Pohon. Sebenarnya, setiap yang ingin menjadi penghuni bawah Pohon, harus memenuhi sebuah persyaratan."
Warni mendengar ucapan orang itu dengan seksama. Kemudian, orang itu mengeluarkan sebuah peta dan sebuah benih dari dalam lubang Pohon.
"Ikuti peta ini, capai titik ini," ujarnya sambil menunjuk sebuah titik merah pada peta itu. "Kemudian saat kau sudah mencapainya, tentukan arahmu sendiri untuk melakukan persyaratan berikutnya: tanam benih Pohon. Selesai. Kembali ke Pohon, kemudian kabarkan pada kami di mana kaumenanam benih, apa hasilnya, dan apa manfaatnya."
"Maksudmu 'tentukan arah sendiri'... aku bebas memilih lokasi untuk menanam?"
"Ya! Tanamlah benih itu di tempat yang kaupikir membutuhkan kebermanfaatan dari Pohon."
[1]
Warni mengikuti ucapan orang itu dengan mencoba mencapai satu titik pertama dalam rute menuju titik akhir yaitu titik merah pada peta. Perjalanan pertama ia tempuh bersama beberapa rekan. Sebenarnya perjalanan itu amat melelahkan baginya; sempat terpikir untuk berhenti saja. Akan tetapi, suasana nyaman di bawah Pohon yang menjadi magnet dirinyalah, yang menjadi motor pergerakan dirinya saat ini. Jika saja ia bisa menyingkirkan keharusan menempuh titik-titik pada peta, barangkali ia akan melakukannya. Bagaimanapun juga, Warni tidak sekuat itu. Namun, kondisi itulah yang membuat dirinya mau memaksakan diri untuk belajar dan bersabar, menguatkan diri.
[2]
Belum saatnya untuk melanjutkan perjalanan ke titik-titik di peta. Saat itu, Warni pulang ke Rumah dan memiliki kekosongan waktu. Dalam kekosongan itu, ia teringat akan perkataan orang itu--penghuni bawah Pohon:
Tanamlah benih itu di tempat yang kaupikir membutuhkan kebermanfaatan dari Pohon.
Matanya tertuju pada halaman Rumah yang gersang dan berdebu. Teringatlah Warni pada catatan-catatan penghuni Pohon, bahwa belum pernah ada yang menanam benih di kawasan Rumah.
Hei, mengapa tidak--kuajak saja rekan-rekan bawah Pohon untuk menanam benih di sini. Kurasa benih Pohon dapat menghijaukan tanah gersang nan berdebu ini. Rindangnya bisa menaungi orang-orang kawasan Rumah yang selama ini tidak suka diterpa teriknya mentari dan memilih untuk tinggal di Lubang Bawah Tanah. Ya!
Warni amat bersemangat untuk mengajak yang lainnya ikut menanam di kawasan Rumah. Namun, ia menyadari satu hal. Bagaimana cara menanam benih di tanah ini? Apa tindakan yang harus dilakukan supaya benih dapat tumbuh, paling tidak dapat muncul tunasnya sebelum ditinggalkan? Beda media tanam, beda perlakuan, bukan? Menanam di kawasan Rumah pastilah berbeda dengan menanam di kawasan sekitar Pohon.
[3]
Warni yang tak pandai memendam sendiri, menceritakan ide menanam benih Pohon kepada orang Rumah. Patut disyukuri, Tipek, Ibu Rumah mendukung rencana Warni tersebut. Meskipun demikian, Tipek juga tidak tahu caranya.
"Walaupun aku tidak tahu, aku yakin ada yang tahu. Ayo, kita ke Lubang SB (red: nama salah satu tempat di kawasan Rumah) dan temui Dawi. Ia mengurusi tanah di kawasan Rumah."
Setibanya di Lubang SB, Dawi menjelaskan bahwa mengurus tanah memang bidangnya. Tetapi, ia tidak mengurus reboisasi tanah.
"Itu (red: urusan reboisasi tanah) bagiannya Yuli, atau Pak Bun, atau Nunu... mereka ada di Lubang 22, kaudatangi saja ke sana."
Hum, baiklah. Sudah kepalang tanggung.
Warni dan Tipek berjalan ke Lubang 22. Lubang 22 memiliki ruang tamu lengkap dengan penerima tamunya.
"Cari siapa?" Tanya penerima tamu.
"Yuli ada?" Tipek bertanya balik.
"Wah, Yuli belum pulang."
"Oke... Nunu?"
"Oh, kalau Nunu ada. Tunggu sebentar."
Penerima tamu masuk ke dalam. Warni dan Tipek saling tatap tanpa bicara. Sampai akhirnya Tipek mengatakan: "Sebenarnya aku asal aja nyebut Nunu... duh, kenapa bukan Pak Bun saja, ya?..."
Tak lama kemudian, Nunu muncul lalu menyambut Tipek dan Warni dengan hangat. Tipek berbasa-basi sesaat, kemudian menyampaikan bahwa Warni butuh solusi untuk 'tugas' menanamnya.
"Yak, jadi... di Lubang 22 ini, kerjaan saya dan yang lainnya memang menanam benih-benih pohon di kawasan Rumah, Dik. Ada sebagian tanah-tanah kering, gersang, dan berdebu yang sudah kami tanami. Barangkali kamu mau mengikuti kami, melihat-lihat kegiatan penanaman kami, dan mengamati tunas-tunas pohon yang telah kami tanam di kawasan Rumah?" Kata Nunu.
...
.....!
Wah!
Dengan antusias, Warni bersedia mengikuti kegiatah Nunu dan kawan-kawan di Lubang 22. Demikianlah latar belakang pengembaraan Warni dimulai.
***
"Aku ingin sekali menuliskan tentang pengembaraanku, tetapi saat ini aku lelah sekali, sehabis hari terakhir pengembaraan-tujuh-hariku...
"Tak kusangka cerita soal latar belakang saja sampai sepanjang itu, hehehe. Intinya, dalam pengembaraanku, aku dan beberapa orang dari Lubang 22 mengunjungi lubang-lubang lainnya dan melalui perjalanan itu, amat banyak hal yang baru kupelajari. Semoga bisa kusampaikan di lain waktu.
Salam,
Warni."
Habis.
Isi suratnya sudah selesai. Benar-benar sososk yang mengikuti dirinya sendiri. Semaunya sendiri, haha. Semoga saja ia benar-benar mau menceritakan pelajaran dari pengembaraannya di lain kesempatan. Salam, Warni. Terima kasih telah memakan satu jamku untuk membaca suratmu, kini biarkan aku kembali mendengar dendang lagu pembangkit kenangan sambil makan sebuah apel.
"Terima kasih.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pohon dan Rumah, serta siapa saja yang ada di dalamnya. Tanpa bisikan mereka, barangkali aku tidak akan melakukan pengembaraan selama tujuh hari ini."
Tawaku tergelak. Benar juga, sudah beberapa hari sejak ia terakhir kali menitipkan surat padaku. Pengembaraan macam apa yang ia maksud? Mungkin akan lebih menarik jika kuteruskan membaca suratnya. Masih ada lanjutan tulisannya di bagian bawah surat.
"Maaf lama tidak mengabarimu, berikut aku lampirkan catatan pengembaraanku selama tujuh hari. Dan latar belakangnya. Yah, tidak rinci, sih. Aku ingin menyampaikan apa yang ingin kusampaikan saat ini saja. Kau tahu aku, bukan? Haha!"
***
Semua dimulai dari pembicaraan Warni dengan seseorang di bawah Pohon. Orang yang sudah berteduh di bawah Pohon sejak setahun lebih dulu dari Warni itu menceritakan sesuatu.
"Mungkin kau sering melihat orang datang dan pergi, singgah dan beranjak, berteduh lalu meninggalkan Pohon. Sebenarnya, setiap yang ingin menjadi penghuni bawah Pohon, harus memenuhi sebuah persyaratan."
Warni mendengar ucapan orang itu dengan seksama. Kemudian, orang itu mengeluarkan sebuah peta dan sebuah benih dari dalam lubang Pohon.
"Ikuti peta ini, capai titik ini," ujarnya sambil menunjuk sebuah titik merah pada peta itu. "Kemudian saat kau sudah mencapainya, tentukan arahmu sendiri untuk melakukan persyaratan berikutnya: tanam benih Pohon. Selesai. Kembali ke Pohon, kemudian kabarkan pada kami di mana kaumenanam benih, apa hasilnya, dan apa manfaatnya."
"Maksudmu 'tentukan arah sendiri'... aku bebas memilih lokasi untuk menanam?"
"Ya! Tanamlah benih itu di tempat yang kaupikir membutuhkan kebermanfaatan dari Pohon."
[1]
Warni mengikuti ucapan orang itu dengan mencoba mencapai satu titik pertama dalam rute menuju titik akhir yaitu titik merah pada peta. Perjalanan pertama ia tempuh bersama beberapa rekan. Sebenarnya perjalanan itu amat melelahkan baginya; sempat terpikir untuk berhenti saja. Akan tetapi, suasana nyaman di bawah Pohon yang menjadi magnet dirinyalah, yang menjadi motor pergerakan dirinya saat ini. Jika saja ia bisa menyingkirkan keharusan menempuh titik-titik pada peta, barangkali ia akan melakukannya. Bagaimanapun juga, Warni tidak sekuat itu. Namun, kondisi itulah yang membuat dirinya mau memaksakan diri untuk belajar dan bersabar, menguatkan diri.
[2]
Belum saatnya untuk melanjutkan perjalanan ke titik-titik di peta. Saat itu, Warni pulang ke Rumah dan memiliki kekosongan waktu. Dalam kekosongan itu, ia teringat akan perkataan orang itu--penghuni bawah Pohon:
Tanamlah benih itu di tempat yang kaupikir membutuhkan kebermanfaatan dari Pohon.
Matanya tertuju pada halaman Rumah yang gersang dan berdebu. Teringatlah Warni pada catatan-catatan penghuni Pohon, bahwa belum pernah ada yang menanam benih di kawasan Rumah.
Hei, mengapa tidak--kuajak saja rekan-rekan bawah Pohon untuk menanam benih di sini. Kurasa benih Pohon dapat menghijaukan tanah gersang nan berdebu ini. Rindangnya bisa menaungi orang-orang kawasan Rumah yang selama ini tidak suka diterpa teriknya mentari dan memilih untuk tinggal di Lubang Bawah Tanah. Ya!
Warni amat bersemangat untuk mengajak yang lainnya ikut menanam di kawasan Rumah. Namun, ia menyadari satu hal. Bagaimana cara menanam benih di tanah ini? Apa tindakan yang harus dilakukan supaya benih dapat tumbuh, paling tidak dapat muncul tunasnya sebelum ditinggalkan? Beda media tanam, beda perlakuan, bukan? Menanam di kawasan Rumah pastilah berbeda dengan menanam di kawasan sekitar Pohon.
[3]
Warni yang tak pandai memendam sendiri, menceritakan ide menanam benih Pohon kepada orang Rumah. Patut disyukuri, Tipek, Ibu Rumah mendukung rencana Warni tersebut. Meskipun demikian, Tipek juga tidak tahu caranya.
"Walaupun aku tidak tahu, aku yakin ada yang tahu. Ayo, kita ke Lubang SB (red: nama salah satu tempat di kawasan Rumah) dan temui Dawi. Ia mengurusi tanah di kawasan Rumah."
Setibanya di Lubang SB, Dawi menjelaskan bahwa mengurus tanah memang bidangnya. Tetapi, ia tidak mengurus reboisasi tanah.
"Itu (red: urusan reboisasi tanah) bagiannya Yuli, atau Pak Bun, atau Nunu... mereka ada di Lubang 22, kaudatangi saja ke sana."
Hum, baiklah. Sudah kepalang tanggung.
Warni dan Tipek berjalan ke Lubang 22. Lubang 22 memiliki ruang tamu lengkap dengan penerima tamunya.
"Cari siapa?" Tanya penerima tamu.
"Yuli ada?" Tipek bertanya balik.
"Wah, Yuli belum pulang."
"Oke... Nunu?"
"Oh, kalau Nunu ada. Tunggu sebentar."
Penerima tamu masuk ke dalam. Warni dan Tipek saling tatap tanpa bicara. Sampai akhirnya Tipek mengatakan: "Sebenarnya aku asal aja nyebut Nunu... duh, kenapa bukan Pak Bun saja, ya?..."
Tak lama kemudian, Nunu muncul lalu menyambut Tipek dan Warni dengan hangat. Tipek berbasa-basi sesaat, kemudian menyampaikan bahwa Warni butuh solusi untuk 'tugas' menanamnya.
"Yak, jadi... di Lubang 22 ini, kerjaan saya dan yang lainnya memang menanam benih-benih pohon di kawasan Rumah, Dik. Ada sebagian tanah-tanah kering, gersang, dan berdebu yang sudah kami tanami. Barangkali kamu mau mengikuti kami, melihat-lihat kegiatan penanaman kami, dan mengamati tunas-tunas pohon yang telah kami tanam di kawasan Rumah?" Kata Nunu.
...
.....!
Wah!
Dengan antusias, Warni bersedia mengikuti kegiatah Nunu dan kawan-kawan di Lubang 22. Demikianlah latar belakang pengembaraan Warni dimulai.
***
"Aku ingin sekali menuliskan tentang pengembaraanku, tetapi saat ini aku lelah sekali, sehabis hari terakhir pengembaraan-tujuh-hariku...
"Tak kusangka cerita soal latar belakang saja sampai sepanjang itu, hehehe. Intinya, dalam pengembaraanku, aku dan beberapa orang dari Lubang 22 mengunjungi lubang-lubang lainnya dan melalui perjalanan itu, amat banyak hal yang baru kupelajari. Semoga bisa kusampaikan di lain waktu.
Salam,
Warni."
Habis.
Isi suratnya sudah selesai. Benar-benar sososk yang mengikuti dirinya sendiri. Semaunya sendiri, haha. Semoga saja ia benar-benar mau menceritakan pelajaran dari pengembaraannya di lain kesempatan. Salam, Warni. Terima kasih telah memakan satu jamku untuk membaca suratmu, kini biarkan aku kembali mendengar dendang lagu pembangkit kenangan sambil makan sebuah apel.
Comments
Post a Comment