Sangatta: Kota Tambang dan Romantika Tahun Baru
Perumahan Batu Putih masih tenggelam dalam keheningan seperti biasanya. Tak ada suara kembang api atau sekadar bunyi kendaraan yang lewat. Bahkan, suara cicak tak terdengar malam ini. Hanya bunyi kipas angin membelah udara kamar ini yang terdengar di telingaku.
(*)
(*)
Malam ini, saya nyatakan bahwa Sangatta, ibukota Kabupaten Kutai Timur, memang benar merupakan Kota Tercinta. Mungkin bukan Tercinta sebagai akronim dari Tertib Ceria Indah Aman Takwa seperti yang dimaksudkan. Sangatta ialah Kota Tercinta dalam artian layak untuk dicintai.
Kota yang tak lepas dari debu pertambangan batu bara ini elok dalam kesederhanaannya. Di malam tahun baru ini, pemandangan Swarga Bara--nama salah satu daerah di Sangatta Utara--masih tetap sama seperti yang dulu. Lapangan becek sisa hujan sebelumnya, sebuah panggung beserta seperangkat lighting dan sound system-nya, stan-stan yang diisi oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan UMKM lainnya, serta ramai penduduk (yang sebenarnya jumlahnya sedikit apabila dibandingkan dengan kota-kota besar di Pulau Jawa) dengan kesederhanaannya. Ah iya, sebelumnya kujelaskan padamu, bahwa kota ini hidup oleh batu bara.
PT KPC, perusahaan tambang batu bara yang mengelola salah satu pertambangan open-pit terbesar di dunia dengan kantor pusat yang berlokasi di Sangatta, telah memberi kontribusi yang amat besar terhadap perkembangan kota ini. Dalam mengelola area konsesi dan pertambangan dengan luas mencapai 90.938 hektar, KPC mampu mencapai kapasitas produk batu bara lebih dari 50 juta ton per tahun. Hal ini mampu diwujudkan sebab dukungan dari 5.200 oramg karyawan dan 21.500 personel dari kontraktor.
Pada mulanya, sebagian besar Kota Sangatta merupakan rawa-rawa. Rumah-rumah dibangun dengan struktur rumah panggung. Ketika KPC membutuhkan karyawan dari luar daerah, strategi yang dilakukan agar dapat bersaing dengan perusahaan tambang lainnya ialah membangun kompleks perumahan karyawan. Dengan disediakan tempat tinggal, harapannya, orang-orang dari luar Kalimantan Timur mau bekerja di tempat yang cukup terpencil ini. Benar saja, penduduk Kota Sangatta meningkat atas kedatangan para pekerja dari luar. Dengan perkembangan pembangunan ini, rumah-rumah panggung pun disesuaikan; dilakukan pengerukan dan penimbunan terhadap rawa-rawa sehingga saat ini di sisi kanan dan kiri Jalan Yos Sudarso (jalan utama Kota Sangatta) bangunan berdiri di atas tanah, bukan lagi rawa-rawa.
Selain di bidang pembangunan kota, perekonomian masyarakat Sangatta mengalami peningkatan. Dengan jumlah pekerja KPC yang telah disebutkan sebelumnya, hitunglah berapa jumlah keluarga, jiwa, yang hidupnya bergantung oleh gaji kerja di perusahaan ini maupun perusahaan kontraktor. Tak sampai di situ, peningkatan jumlah penduduk meningkatkan kebutuhan hidup. Timbullah usaha-usaha di kota ini yang memanfaatkan peluang tersebut seperti warung makan, toko sembako, pakaian, buku, dan lain-lain. Dari situ, terciptalah perputaran ekonomi yang semakin meluas di kota ini.
Pada tahun 1999, Kabupaten Kutai yang beribukota di Tenggarong, mengalami pemekaran. Tenggarong menjadi ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara, sementara ibukota Kabupaten Kutai Timur diserahkan kepada Sangatta yang pada saat itu mengalami kemajuan paling besar bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya di daerah Kutai Timur. Dengan dijadikan sebagai ibukota kabupaten, pembangunan Sangatta semakin pesat, orang-orang semakin berani berwirausaha atau berinvestasi di kota ini, sehingga kemajuan ekonominya semakin terakselerasi.
Jika sebelumnya cukup banyak tenaga kerja asing yang bekerja sebagai karyawan KPC, hal itu disebabkan karena mulanya KPC memang berada di bawah BP yang merupakan perusahaan minyak dan gas global, serta Rio Tinto (CRA) yang merupakan perusahaan tambang multinasional British-Australia. Akan tetapi, pada tahun 2003, PT. Bumi Resources Tbk. (Persero) mengakuisisi PT KPC. Sejak saat itu, tenaga kerja asing mulai berkurang sehingga tenaga kerja dari dalam negeri pun meningkat.
Jika Anda membayangkan perusahaan tambang mengeksploitasi sumber daya alam besar-besaran, sebagai orang yang tumbuh besar di kota tambang dan telah melihat conveyor pengangkut batu bara, lubang galian dan tanah timbunan bekas tambang, truk pengangkut ban kendaraan alat berat, dan berbagai pemandangan pertambangan batu bara lainnya; jawaban saya adalah: ya. Batu bara ditambang dan diekspor dengan sangat masif. Tetapi, apakah itu buruk--khususnya mengenai dampak lingkungannya?
PT KPC memiliki komitmen yang tinggi, demikian ujar salah satu manajer perusahaan ini. Ketika saya bertanya pada karyawan di bagian Community Empowerment, ia menjelaskan mengenai isu pengelolaan pascatambang. Saat ini, daerah-daerah pascatambang PT KPC telah dikelola menjadi Pesat (Peternakan Sapi Terpadu), Telaga Batu Arang (sedang dalam proses pengembangan), dan peternakan sapi serta ayam petelur di Pit-J. Dalam pengelolaannya, PT KPC bermitra dengan instansi-instansi masyarakat Kutai Timur. Pengelolaan pascatambang ini tak lain dilakukan sebagai program pengembangan masyarakat. Hal ini akan saya bahas lebih lanjut pada pembahasan kemudian, atau Anda dapat membaca di website KPC yang telah saya cantumkan di bagian paling akhir dari posting ini.
Hmm, kurasa ceritanya menjadi melebar kemana-mana (haha).
Kembali pada sosok Sangatta sebagai Kota Tercinta yang indah oleh kesederhanaannya. Sejauh yang saya ketahui, setiap tahun, selalu ada perayaan tahun baru yang diselenggarakan di Swarga Bara. Terakhir kali saya hadir di acara ini yaitu pada dua tahun yang lalu, dimana musik yang dilantunkan dari panggung kebanyakan merupakan musik pop yang umum. Tahun ini, panggung Swarga Bara digetarkan dengan musik rock, dan katanya, dari sebelum malam, musik yang dimainkan oleh band pengisi acara ialah musik-musik metal. Wow. Pantas saja, malam ini banyak anak muda memakai baju-baju bernuansa hitam dengan gambar-gambar dan grafitti yang mencerminkan band-band metal.
Yang saya senangi adalah, wajah tanpa ekspresi para penonton yang menyaksikan acara di panggung. Saya memang hanya sebentar berada di acara itu, tetapi yang saya amati ialah: di bawah warna-warni lampu dari mainan baling-baling anak-anak yang diterbangkan, sebagian orang dewasa berdiri tegak, menyaksikan band di atas panggung, dengan wajah tanpa ekspresi. Saya tahu, mereka menikmati lagu. Jika tidak, tentu mereka takkan berdiam diri di sana dan bertepuk tangan ketika lagu telah usai. Mereka hanya tak ekspresif, dan menurut saya itu lucu, menarik untuk diamati. Salah satu bentuk kesederhanaan penduduk Sangatta.
Setelah berkeliling stan dan menyaksikan panggung untuk sesaat, saya dan keluarga makan malam di Town Hall, Swarga Bara. Kakak saya memesan bakso, sementara saya memesan sate sapi. Sambil menunggu makanan datang, di hadapan saya, seorang anak perempuan yang masih kecil, asyik bermain dengan barang dagangan orang tuanya: bungkusan minuman dan snack sachet. Anak itu bermain di tempat yang riskan, yakni di atas papan stan jualan orang tuanya. Cukup tinggi dan saya sedikit khawatir apabila anak itu jatuh... Untungnya, agak lama kemudian, bapak anak itu datang membawakan mainan kincir dan bola plastik, lalu memeluk dan menggendong anaknya. Tampang bapak itu sedikit seram dengan rambut gondrong berubannya yang diikat serta kumisnya, tetapi sorot matanya yang hangat, menunjukkan sisi penyayangnya terutama ketika sedang mendekap anak perempuannya. Anak itu tertawa kecil, memainkan kincir barunya.
Usai menunggu lama, pesanan kami datang. Rasa sate dan bakso itu masih sama dengan terakhir kali kami memakannya--barangkali sekitar 4-5 tahun yang lalu. Membawaku melambung ke ingatan saat diriku masih mengenakan seragam sekolah khas YPPSB, rok kulot kotak-kotak.
(*)
Kembali pada keheningan malam tahun baru 2017. Semua orang rumah (sepertinya) sudah tidur, sementara saya masih terjaga. Menikmati keheningan adalah kesederhanaan yang romantis buat saya, dan Sangatta memberikan itu.
Selamat Tahun Baru!
Pada mulanya, sebagian besar Kota Sangatta merupakan rawa-rawa. Rumah-rumah dibangun dengan struktur rumah panggung. Ketika KPC membutuhkan karyawan dari luar daerah, strategi yang dilakukan agar dapat bersaing dengan perusahaan tambang lainnya ialah membangun kompleks perumahan karyawan. Dengan disediakan tempat tinggal, harapannya, orang-orang dari luar Kalimantan Timur mau bekerja di tempat yang cukup terpencil ini. Benar saja, penduduk Kota Sangatta meningkat atas kedatangan para pekerja dari luar. Dengan perkembangan pembangunan ini, rumah-rumah panggung pun disesuaikan; dilakukan pengerukan dan penimbunan terhadap rawa-rawa sehingga saat ini di sisi kanan dan kiri Jalan Yos Sudarso (jalan utama Kota Sangatta) bangunan berdiri di atas tanah, bukan lagi rawa-rawa.
Selain di bidang pembangunan kota, perekonomian masyarakat Sangatta mengalami peningkatan. Dengan jumlah pekerja KPC yang telah disebutkan sebelumnya, hitunglah berapa jumlah keluarga, jiwa, yang hidupnya bergantung oleh gaji kerja di perusahaan ini maupun perusahaan kontraktor. Tak sampai di situ, peningkatan jumlah penduduk meningkatkan kebutuhan hidup. Timbullah usaha-usaha di kota ini yang memanfaatkan peluang tersebut seperti warung makan, toko sembako, pakaian, buku, dan lain-lain. Dari situ, terciptalah perputaran ekonomi yang semakin meluas di kota ini.
Pada tahun 1999, Kabupaten Kutai yang beribukota di Tenggarong, mengalami pemekaran. Tenggarong menjadi ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara, sementara ibukota Kabupaten Kutai Timur diserahkan kepada Sangatta yang pada saat itu mengalami kemajuan paling besar bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya di daerah Kutai Timur. Dengan dijadikan sebagai ibukota kabupaten, pembangunan Sangatta semakin pesat, orang-orang semakin berani berwirausaha atau berinvestasi di kota ini, sehingga kemajuan ekonominya semakin terakselerasi.
Jika sebelumnya cukup banyak tenaga kerja asing yang bekerja sebagai karyawan KPC, hal itu disebabkan karena mulanya KPC memang berada di bawah BP yang merupakan perusahaan minyak dan gas global, serta Rio Tinto (CRA) yang merupakan perusahaan tambang multinasional British-Australia. Akan tetapi, pada tahun 2003, PT. Bumi Resources Tbk. (Persero) mengakuisisi PT KPC. Sejak saat itu, tenaga kerja asing mulai berkurang sehingga tenaga kerja dari dalam negeri pun meningkat.
Jika Anda membayangkan perusahaan tambang mengeksploitasi sumber daya alam besar-besaran, sebagai orang yang tumbuh besar di kota tambang dan telah melihat conveyor pengangkut batu bara, lubang galian dan tanah timbunan bekas tambang, truk pengangkut ban kendaraan alat berat, dan berbagai pemandangan pertambangan batu bara lainnya; jawaban saya adalah: ya. Batu bara ditambang dan diekspor dengan sangat masif. Tetapi, apakah itu buruk--khususnya mengenai dampak lingkungannya?
PT KPC memiliki komitmen yang tinggi, demikian ujar salah satu manajer perusahaan ini. Ketika saya bertanya pada karyawan di bagian Community Empowerment, ia menjelaskan mengenai isu pengelolaan pascatambang. Saat ini, daerah-daerah pascatambang PT KPC telah dikelola menjadi Pesat (Peternakan Sapi Terpadu), Telaga Batu Arang (sedang dalam proses pengembangan), dan peternakan sapi serta ayam petelur di Pit-J. Dalam pengelolaannya, PT KPC bermitra dengan instansi-instansi masyarakat Kutai Timur. Pengelolaan pascatambang ini tak lain dilakukan sebagai program pengembangan masyarakat. Hal ini akan saya bahas lebih lanjut pada pembahasan kemudian, atau Anda dapat membaca di website KPC yang telah saya cantumkan di bagian paling akhir dari posting ini.
Hmm, kurasa ceritanya menjadi melebar kemana-mana (haha).
Kembali pada sosok Sangatta sebagai Kota Tercinta yang indah oleh kesederhanaannya. Sejauh yang saya ketahui, setiap tahun, selalu ada perayaan tahun baru yang diselenggarakan di Swarga Bara. Terakhir kali saya hadir di acara ini yaitu pada dua tahun yang lalu, dimana musik yang dilantunkan dari panggung kebanyakan merupakan musik pop yang umum. Tahun ini, panggung Swarga Bara digetarkan dengan musik rock, dan katanya, dari sebelum malam, musik yang dimainkan oleh band pengisi acara ialah musik-musik metal. Wow. Pantas saja, malam ini banyak anak muda memakai baju-baju bernuansa hitam dengan gambar-gambar dan grafitti yang mencerminkan band-band metal.
Yang saya senangi adalah, wajah tanpa ekspresi para penonton yang menyaksikan acara di panggung. Saya memang hanya sebentar berada di acara itu, tetapi yang saya amati ialah: di bawah warna-warni lampu dari mainan baling-baling anak-anak yang diterbangkan, sebagian orang dewasa berdiri tegak, menyaksikan band di atas panggung, dengan wajah tanpa ekspresi. Saya tahu, mereka menikmati lagu. Jika tidak, tentu mereka takkan berdiam diri di sana dan bertepuk tangan ketika lagu telah usai. Mereka hanya tak ekspresif, dan menurut saya itu lucu, menarik untuk diamati. Salah satu bentuk kesederhanaan penduduk Sangatta.
Suasana Panggung di Swarga Bara, Sangatta Utara.
Setelah berkeliling stan dan menyaksikan panggung untuk sesaat, saya dan keluarga makan malam di Town Hall, Swarga Bara. Kakak saya memesan bakso, sementara saya memesan sate sapi. Sambil menunggu makanan datang, di hadapan saya, seorang anak perempuan yang masih kecil, asyik bermain dengan barang dagangan orang tuanya: bungkusan minuman dan snack sachet. Anak itu bermain di tempat yang riskan, yakni di atas papan stan jualan orang tuanya. Cukup tinggi dan saya sedikit khawatir apabila anak itu jatuh... Untungnya, agak lama kemudian, bapak anak itu datang membawakan mainan kincir dan bola plastik, lalu memeluk dan menggendong anaknya. Tampang bapak itu sedikit seram dengan rambut gondrong berubannya yang diikat serta kumisnya, tetapi sorot matanya yang hangat, menunjukkan sisi penyayangnya terutama ketika sedang mendekap anak perempuannya. Anak itu tertawa kecil, memainkan kincir barunya.
Anak perempuan itu; sesaat sebelum bapaknya datang membawa mainan.
Usai menunggu lama, pesanan kami datang. Rasa sate dan bakso itu masih sama dengan terakhir kali kami memakannya--barangkali sekitar 4-5 tahun yang lalu. Membawaku melambung ke ingatan saat diriku masih mengenakan seragam sekolah khas YPPSB, rok kulot kotak-kotak.
(*)
Kembali pada keheningan malam tahun baru 2017. Semua orang rumah (sepertinya) sudah tidur, sementara saya masih terjaga. Menikmati keheningan adalah kesederhanaan yang romantis buat saya, dan Sangatta memberikan itu.
Selamat Tahun Baru!
Ditulis di Sangatta,
Kota tambang yang layak dicinta atas kesederhanaannya.
***
Referensi:
http://www.kpc.co.id/about/overview?locale=id
http://www.bp.com/en/global/corporate/about-bp/bp-at-a-glance.html
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rio_Tinto_Group
https://putrilulukfatimah.wordpress.com/2014/07/09/sejarah-singkat-pt-kpc/
http://www.kpc.co.id/sustainabilities/community?locale=id


Comments
Post a Comment