Syukur

Saat kamu merasa bosan dengan hidupmu, bersyukurlah.

Kalimat yang seharusnya selalu saya ingat, namun justru kerap kali saya lupakan.
Sejak kapan saya jadi sering menyalahkan keadaan? Padahal apa yang ada di dekat saya saat ini sudah lebih dari cukup. Lantaran merasa ladang tetangga lebih hijau, saya lebih sering menatap ke sebelah dibanding memelihara rumput di tanah sendiri. Ketika tanah ini hendak diambil, barulah saya merasa bahwa bagaimanapun juga, tanah ini merupakan yang terbaik untuk saya.
Sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu ingin mencapai kebahagiaan, kesempurnaan; padahal tidak ada yang benar-benar final kecuali akhir dari kehidupan. Itulah sebabnya mengapa kita terkadang merasa belum puas, selalu ada yang kurang. Sehingga, tak jarang bila rasa syukur abai dari benak.
Akibat kekurangsyukuran itu, saya pikir saya sudah menyakiti orang-orang terdekat... rumah dan keluarga, saya rasa merekalah tempat pulang di dunia yang sesungguhnya. Suatu saat nanti ketika saya berkeluarga, mampukah kami membangun 'rumah' yang dirindukan?
Sedangkan saat ini saya masih begini.
Saya ingin jadi orang 'bener'.

***

Saya masih ingat ketika teman-teman mengajak berbuat baik bersama-sama. Menarik saya untuk ikut mengisi kehidupan dengan hal-hal yang lebih berfaedah, haha. Ketika mencoba menyusun rencana dan cita-cita yang menurut kami baik dan mulia, menikmati idealisme anak remaja, kemudian merangkai mimpi bersama-sama. Saat salah seorang teman, dengan keterbatasan diri tetapi disertai keteguhan hati yang masih selalu saya kagumi, mengutarakan cita-citanya yaitu menjadi guru TK yang akan mengajari anak-anak mengaji. Dia akan menikah dengan laki-laki yang rajin shalat ke masjid, kemudian tinggal di rumah yang sederhana saja, yang penting cukup untuk kehidupannya. Ia akan melanjutkan dan menjaga hafalan Alqurannya, dengan suaminya yang akan menuntunnya.
Kemudian teman yang lain mengatakan, ingin terus belajar, mencari beasiswa supaya bisa melanjutkan studi di luar negeri, dan akan mengisi sela-sela waktunya untuk bekerja supaya tidak merepotkan keluarganya lagi.
Merekalah yang mengajari dan mengingatkan saya bagaimana harus menyikapi hidup, yakni dengan bersyukur. Bersyukur karena masih ada keluarga, rumah, kehidupan, saudara sekeyakinan. Saat itu rasanya mimpi begitu dekat; kami menikmati hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan orang-orang. Langit, pohon, lampu taman, rumput, jalanan, dedaunan kering, hingga lapangan parkir, menjadi sasaran sarana kami dalam rangka menikmati dan mensyukuri hidup.
Saya rindu semua itu.
Namun sadarlah, itu sudah lewat, saatnya saya bangkit dan mensyukuri hal-hal kecil yang ada di dekat saya.
Seperti itulah seharusnya, wahai diri.
Menjadilah [...].

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri