Perjalanan Pulang
Mungkin aku seharusnya
Tidak usah pulang saja
Kalau hanya untuk menambah luka
Mungkin aku seharusnya
Tidak usah pulang saja
Kalau hanya untuk menghabiskan air mata
Pulangku adalah menuju ruang hampa
Sepi yang mengusik, meminta nama
Untuk dijadikan korban
Dapatkah berubah?
Jika Rumah yang kurindukan
adalah sepasang bola mata dan seutas senyuman
Rumah yang takkan mampu kubangun sendiri
Rumah yang telah kurancang, kubangun, kuhancurkan, kubuat kembali
Rumah yang memakan hari dan hati
Rumah yang pada akhirnya akan mengalami perpindahan atau renovasi
Kemanakah aku melangkah pulang?
Masih adakah Rumah yang siap memelukku?
Atau mungkin aku
Merindukan Rumah yang kekal
Karena di sana ada Dia yang menunggu
Aku juga diam-diam menunggu
Tapi yang manapun juga
Semuanya telah tertutupi debu
dan sarang laba-laba
Usang ditempa waktu
Tolong bantu aku pulang
ke Rumah-Nya yang abadi
Aku telah mengetuk
Namun Dia masih tutup pintu
Comments
Post a Comment