Permainan
O, Semesta, apakah kau mempermainkanku?! Mempertemukan dua insan yang akhirnya melahirkanku, membiarkanku telanjur hidup. Sungguh, hidup adalah ketelanjuran yang masih sulit kuterima. Mungkin seperti kata Raitis--tokoh film dala FFD 2018 yang baru saja kutonton: (aku percaya bahwa) kecantikan ada pada sesuatu yang tertata dan ideal, bukan sesuatu yang chaos. Meskipun itu artinya harus mati atau sampai pada keadaan equilibrium.
Hidup tidak demikian. Tidak ada sesuatu yang benar-benar ideal. Lantas untuk apa aku ada di sini? "Aku tidak menghendaki hidup!" Ujarku yang bahkan tidak ingat kehidupan sebelum lahir, pun tidak tahu perjalanan setelah mati.
Semesta, Kau mau apa? Kau mau aku bagaimana?
Salahkah kepercayaanku terhadap-Mu? Apakah memang harus berinteraksi melalui ajaran?
Aku tidak mengerti lagi, apakah memang aku punya kehendak bebas atau bagaimana. Kupikir aku telah melakoni hidup ini sesuai aliran-Mu saja, sebab aku tidak tahu lagi ke mana harus berjalan. Hidupku tidak sendiri, ada orang-orang di sekitarku yang kusayangi. Masalahnya, mereka memiliki cara yang berbeda-beda dalam memandang-Mu. Namun kupikir semuanya baik. Mengapa tak bisa bersatu? Kami mengakui-Mu, dengan cara yang berbeda-beda. Apakah Kau tak menghendaki demikian?
Aku lelah dan tidak berdaya. Apapun yang kulakukan, aku tidak akan mampu menandingi-Mu yang pada akhirnya dapat memutuskan apa-apa yang terjadi dalam hidupku.
Semesta, hanya Engkau yang paling mengerti bagaimana aku berteriak. Bagaimana gores ini tumbuh. Semesta, aku ingin utuh. Semesta, aku merindukan keindahan khayali bernama kesetimbangan.
Aku tidak mengerti, Kau ingin aku apa?!
Pedih. Tapi aku pilih.
Semesta.
Resah. Tapi aku suka.
Sebut lagi.
Aku takut kehilangan segalanya. Aku egois. Aku ingin segalanya. Apa Kau ingin menunjukkan kekuatan-Mu? Bahwa hanya dengan Kau, aku utuh, kuat, dan dapat menjalani hidup?
Semesta, kalau boleh kumemohon, jagalah mereka yang aku cintai...
Kuatkan mereka menjalani drama yang Kauciptakan
Maafkan aku yang menghardik-Mu
Aku memang tidak kunjung paham
Comments
Post a Comment