Kala Ingatan Jadi Benang Panjang
Apa itu rindu? Apa itu haru?
Apakah dengan menitikkan air mata ketika mengingat sesuatu, itu artinya kita merindukan sesuatu?
Waktu terus berlalu dan kejadian demi kejadian bergulir, berubah menjadi kenangan. Tentu lebih menyenangkan bila mengingat sesuatu yang indah dan mengasyikkan, bukan? Kemudian di dalam diriku akan timbul perasaan yang kuat. Perasaan yang sulit dideskripsikan. Perasaan yang mendorong air mata keluar dari dalam kelenjarnya.
Segalanya terasa menjadi sangat cepat.
Aku telah kehilangan hasrat.
Berubah adalah sesuatu yang aneh. Siapa diriku?
Ingatan demi ingatan mendesakku terus menulis dan memejamkan mata erat-erat, seolah kilat melintas tepat di depanku.
Sedikit kabut, maut berdenyut.
Aku tergetar atas pertanyaannya.
Seberapa jauh aku telah melangkah? Kemana sajakah?
Percakapan menjadi gangguan atas sajak Joko Pinurbo yang dilantunkan di masa itu. Suara jangkrik sayup-sayup, mengingatkanku pada masa yang telah lalu. Sebelum Pohonku berubah.
Dapatkah aku berkarya tanpa resah.
Tuhan yang Kudus, kusembunyikan nama-Mu dalam cemas.
Lantunan sajak berubah menjadi lagu yang pernah kutulis untuk seseorang. Benarkah hidup ini bukan soal pengulangan?
Kemudian puisi Suparmiati:
Kau ajari aku memetik gitar kehidupan
Agar tercipta kasih yang lama tak kudendangkan
Kau ajari aku mengeja nama Tuhan
Yang lama telah tersingkir dalam benak
Tahukah kau?
Semua itu membuat kekagumanku tandas untukmu
Kau izinkan aku duduk di beranda hatimu
Agar cukup kudongakkan kepalaku
Untuk melihat apa yang tersimpan di sana
Dan mengambil sebongkah cinta untukku
Kau ajari aku sisa hidup
Menghitung karunia yang tak terhingga
Bersama sapu tangan jingga di langit biru
Dalam usia yang semakin luas
Dan mari kita bersandar di tiang kasih
Yang kita tegakkan
Mari kita berteduh di bawah pilar kebersamaan
Yang kita bangun
Puisiku berganti menjadi denting piano yang tak pernah kudengar secara langsung selama lebih dari 5 tahun. Oh, sudah sejauh itukah aku berjalan? Apa yang telah kulakukan dan kulewatkan?
Dendang gitar yang kudengarkan di malam bulan puasa. Di tengah pergolakan batin dan pemberontakan. Akankah berbuah penyesalan?
Bocah kecil di dalam diriku menjerit tak henti-henti. Meminta kasih yang telah lama aku kubur dengan dendam dan ketakutan.
Sayangnya, aku tidak menemukan cangkul untuk menggali kembali.
(Apakah kau yang akan melatihku menggali dengan tangan?)
Comments
Post a Comment