Saya dan Uang
Siapa yang tak butuh uang? Saya rasa, saat ini semua orang tentu butuh uang. Saya pribadi suka mengumpulkan dan menyimpan uang meskipun belum tahu akan dibelanjakan untuk apa. Namun jujur saja, berada dalam keadaan "memiliki uang" merupakan ketenangan dan kenyamanan sendiri untuk saya.
Saya ingat ketika baru masuk kelas 7 SMP. Saat itu, seorang teman meminta kepada saya untuk menggambar kakak OSIS yang merupakan kakak pendamping MOS-nya sebagai ungkapan terima kasih teman saya kepada seniornya tersebut. Kebetulan, saya memang hobi menggambar sejak kecil. Atas permintaan itu, saya menawarkan dia untuk dua buah gambar yang akan saya warnai dengan menggunakan Adobe Photoshop, saya cetak, dan masing-masing dihargai (kalau tidak salah) sekitar Rp3.000,00. Kami sepakat dan saya pun segera membuat pesanannya. Sepertinya itu merupakan usaha pertama saya. Menurut saya (sekarang) sih, harga beli dengan nilai produknya sangat tidak sebanding, haha. Soalnya, waktu itu saya iseng saja membuatnya; kebetulan senang nggambar dan suka duit.
Sepertinya kegemaran saya mengumpulkan uang tumbuh dari lingkungan keluarga saya yang merupakan pedagang. Waktu SMA, saya pernah menjadi reseller cable protector untuk teman-teman di asrama. Produk tersebut saya peroleh dari Mas (kakak saya) yang saat itu sedang berkuliah di Jogja. Kali ini, harga jual produk benar-benar saya pertimbangkan berdasarkan harga beli dan biaya pengiriman. Tentu dengan sebisanya saya saja. Saya berjualan protektor kabel saat kelas XI dan berhenti karena merasa produk tersebut kurang andal dalam melindungi kabel (sebagaimana seharusnya) dan terkadang warna yang muncul tidak sesuai dengan fotonya. Kalau seperti itu, saya jadi merasa seperti menipu pembeli, makanya saya berhenti.
Pada saat semester ganjil kelas XII SMA, kelas saya bermaksud mengumpulkan uang. Saya lupa untuk apa, pokoknya teman-teman memutuskan untuk berjualan es kelapa dan makanan ringan pada saat classmeeting, momen yang dirasa mengumpulkan banyak siswa dan melelahkan sehingga berpeluang besar untuk berjualan makanan ringan dan minuman segar. Tetapi, saya menolak untuk bergabung dan menawarkan alternatif lain dari saya pribadi. Saya membuka jasa desain cover buku untuk tugas Bahasa Inggris (kebetulan tugas "membuat buku" itu dibebankan untuk seluruh angkatan saya) dan setengah pemasukan saya akan saya berikan kepada kelas. Menurut saya sih, penghasilan waktu itu cukup luar biasa karena pesanan sangat banyak. Meskipun ada teman lain yang membuka usaha yang sama dengan harga yang jauh lebih murah, pesanan saya tetap banyak. "Kamu bikinnya maksimal sih, sampai gambar sendiri segala. Nggak apa-apa, kualitasmu sesuai kok sama hargamu," kata teman saya ketika saya khawatir bila harga yang saya tawarkan kepada pemesan jasa terlalu tinggi.
Memasuki dunia perkuliahan, kebutuhan uang semakin tinggi, terutama untuk kegiatan berorganisasi. Berbagai macam usaha dana dilakukan oleh mahasiswa. Saya sendiri pernah berjualan kaos dan mengerjakan survei lapangan untuk mendapatkan dana demi bisa melaksanakan kegiatan semacam ekspedisi kecil ke Bali dalam organisasi saya. Kemudian entah terpicu oleh apa, saya ingin melakukan usaha dana untuk diri saya pribadi. Saya seneng nggambar, saya seneng nyari duit.
Tercetuslah pikiran untuk kembali melakukan pengumpulan uang melalui kesenangan saya sedari kecil: menggambar. Ajaibnya, Semesta mendukung harapan saya ini. Menurut saya, harapan ini diawali dengan kebetulan yang sangat luar biasa. Secara tidak sengaja, saya terhubung kembali dengan seorang teman bernama Zainal yang sebenarnya belum pernah saya temui sebelumnya pada saat itu. Ceritanya sedikit panjang bila saya jelaskan tentang latar belakangnya. Singkat cerita, ketika saya menceritakan kepada Zainal bahwa saya ingin mulai mencari uang dengan cara menggambar, dia langsung semangat dan berkata: "Kalau begitu, aku yang jadi pembeli pertama! Gambarin mukaku, ya." Percakapan ini terjadi via chat LINE, ia pun mengirimkan fotonya. Saya mengiyakan permintaannya dan mulai mengerjakan pesanan tersebut. Ketika selesai, saya foto kemudian saya unggah di Instagram. Kami pun bertemu lalu gambar itu saya serahkan, dan uang sesuai harga yang saya minta dipindahtangankan kepada saya. Kaching.
Perjalanan saya dalam mengumpulkan uang dengan cara menggambar berlanjut pada permintaan seorang senior di sekretariat tetangga untuk membuat mural di dinding sekre-nya. Sebetulnya belum langsung meminta, sih. Beliau baru bertanya apakah saya bisa melakukan itu atau tidak. Beruntung, selama kuliah, saya sudah pernah ikut lomba mural (dengan media tripleks), sehingga saya berusaha tampil percaya diri dan bilang: ya. Saya rasa itu adalah kenekatan saya yang pertama. Melukis di dinding ruangan organisasi lain? Oke, mari dicoba. Saya dan dia pun menyepakati harga dan teknis pengerjaan. Singkat cerita, saya telah menyelesaikan proyek tersebut dan kembali mendapatkan uang. Kaching.
Setelah itu, pesanan mural justru lebih banyak ketimbang sketsa wajah di kertas. Dinding demi dinding saya arungi demi kepuasan batin sebab menggambar masih menjadi kesenangan buat saya. Mungkin kalimat sebelumnya terkesan berlebihan ya, padahal saya sendiri baru pernah melukis di 4 dinding, hehe. Semuanya menyenangkan!
Sampai saat di mana saya merasa buntu. Sejak selesai mengerjakan mural di salah satu TK di Sleman, saya mendapat pesanan melukis di sepatu kanvas. Pada saat pengerjaannya, saya merasa betul-betul buntu: saya tidak tahu harus melanjutkan gambar seperti apa; dengan warna apa, gambar apa, teknik bagaimana. Saya merasa tidak berhasrat lagi untuk menggambar. Akhirnya pun proyek melukis di sepatu itu saya usaikan dengan hasil yang jauh di bawah ekspektasi saya, meskipun orang yang memesan kepada saya tampak betul-betul senang. Bahkan karena buntu, proyek itu baru saya selesaikan setelah sekitar setengah tahun.
Hari ini, ide baru tercetus di kepala saya karena sebetulnya saya senang mengumpulkan uang. Bukan benar-benar ide baru sebab ide ini telah saya berikan kepada seseorang berkali-kali, dan ide ini juga sebetulnya merupakan ide yang telah umum. Menulis.
Ya, dari kecil pun sebenarnya saya senang menulis. Sampai sekarang, saya masih terus menulis. Menulis telah memiliki berbagai peran di sepanjang hidup saya, sama seperti menggambar. Ia telah menjadi wadah bagi saya untuk mencurahkan berbagai macam perasaan, atau untuk sekadar memenuhi kepentingan teknis. Bagaimana jika saya mencoba menulis--untuk mengumpulkan uang?
Barangkali dengan menceritakan di sini, Semesta kembali mendukung. Sebetulnya bukan sekadar uangnya; tapi barangkali uang bisa menjadi objek target konkret yang bisa memotivasi saya agar kembali beraktivitas sebagaimana mestinya. Saya pikir, membaca dan menulis merupakan aktivitas yang baik.
Demi hidup yang lebih baik(?), aye!
Setelah itu, pesanan mural justru lebih banyak ketimbang sketsa wajah di kertas. Dinding demi dinding saya arungi demi kepuasan batin sebab menggambar masih menjadi kesenangan buat saya. Mungkin kalimat sebelumnya terkesan berlebihan ya, padahal saya sendiri baru pernah melukis di 4 dinding, hehe. Semuanya menyenangkan!
Sampai saat di mana saya merasa buntu. Sejak selesai mengerjakan mural di salah satu TK di Sleman, saya mendapat pesanan melukis di sepatu kanvas. Pada saat pengerjaannya, saya merasa betul-betul buntu: saya tidak tahu harus melanjutkan gambar seperti apa; dengan warna apa, gambar apa, teknik bagaimana. Saya merasa tidak berhasrat lagi untuk menggambar. Akhirnya pun proyek melukis di sepatu itu saya usaikan dengan hasil yang jauh di bawah ekspektasi saya, meskipun orang yang memesan kepada saya tampak betul-betul senang. Bahkan karena buntu, proyek itu baru saya selesaikan setelah sekitar setengah tahun.
Hari ini, ide baru tercetus di kepala saya karena sebetulnya saya senang mengumpulkan uang. Bukan benar-benar ide baru sebab ide ini telah saya berikan kepada seseorang berkali-kali, dan ide ini juga sebetulnya merupakan ide yang telah umum. Menulis.
Ya, dari kecil pun sebenarnya saya senang menulis. Sampai sekarang, saya masih terus menulis. Menulis telah memiliki berbagai peran di sepanjang hidup saya, sama seperti menggambar. Ia telah menjadi wadah bagi saya untuk mencurahkan berbagai macam perasaan, atau untuk sekadar memenuhi kepentingan teknis. Bagaimana jika saya mencoba menulis--untuk mengumpulkan uang?
Barangkali dengan menceritakan di sini, Semesta kembali mendukung. Sebetulnya bukan sekadar uangnya; tapi barangkali uang bisa menjadi objek target konkret yang bisa memotivasi saya agar kembali beraktivitas sebagaimana mestinya. Saya pikir, membaca dan menulis merupakan aktivitas yang baik.
Demi hidup yang lebih baik(?), aye!
Comments
Post a Comment