Satu Malam di Bulanmu

Kamu di dekatku, kita hendak keluar
Berjalan bersama-sama
Aku menggenggam tanganmu
Memastikan tidak ada yang menghalangi kita
Tapi tidak sayang, di sana kita kan dihadang

Lalu aku bercerita kepadamu melalui telepon
Sebagaimana malam-malam sepi di sini
Kau tertawa, tulus mendengarku
Dan aku melekat padamu
Jatuh hati tanpa mitigasi
Semakin kusadari terutama setelah terdengar suara lain
Suara yang kuketahui adalah cinta terakhir dan buah hatimu

Bagaimana bisa mimpi membawakan perasaan yang kian nyata
Menolak untuk mereda,
Memohon untuk dikecap

Apakah mimpi adalah tuangan pemikiran dan kekhawatiran
Apakah mimpi adalah peringatan
Apakah mimpi adalah teguran
Apakah justru pertanda akan sebaliknya
Mana mungkin kita tahu
Yang kuyakini, kini perasaan ini nyata
Mewujud jadi sesak.

Lalu pada kata seorang guru, kuteringat:
Apakah kita berjuang untuk bisa tetap bersama setiap hari?
Satu hari lagi, satu hari lagi--
Betapa beratnya setiap hari!
Saya justru memilih bersama dengannya,
Seseorang yang saya takkan bisa hidup tanpanya meski hanya satu hari

Saya ingin kamu bahagia
Saya ingin, walau sedikit, bisa melengkapimu meski tahu itu mustahil untuk saat ini
Saya ingin bisa tulus tertawa dalam kebahagiaan keluargamu yang terngiang di telinga saya
Di dalam mimpi
yang meskipun sejujurnya, amat saya takuti bila jadi nyata.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri