Belajar 'Belajar Filsafat'

Kali ini, saya ingin membahas tentang sebuah ilmu yang selama ini dianggap tabu di dalam lingkungan keluarga saya: filsafat.
Dari kecil, saya sering diceritakan oleh Ibu bahwa filsafat merupakan ilmu yang aneh. Pada saat kuliah, ibu mendapat mata kuliah filsafat yang sampai saat ini beliau ingat, beliau ceritakan berulang-ulang, sehingga saya juga jadi ingat. "Ini meja. Mengapa ini meja? Apa yang menjadikan meja adalah meja? Kakinya? Bagian atasnya? Kayunya? Mengapa itu juga meja? Mengapa yang itu bukan meja?" Demikianlah pembahasan dosen filsafat Ibu. Saya yang masih kecil, menanyakan pada Ibu, apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan dosen tersebut dan kemana arahnya. Ibu bilang, psikologi kan belajar tentang manusia. Hal yang selanjutnya dibahas adalah, apa yang menjadikan manusia adalah manusia?
Bagi Ibu, filsafat adalah suatu ilmu yang tidak jelas sebab Ibu suka pada hal-hal praktis. Selain itu, orang filsafat katanya 'aneh'. Coba, buat apa mempertanyakan hal-hal semacam itu? Meja, ya, dipakai saja. Lagipula kita sama-sama mengerti kalau ini meja dan itu bukan. Sepaham saya, Ibu sempat menyatakan bahwa dirinya berharap agar anaknya tidak mendalami hal-hal semacam itu dan berpikir terlalu 'nyeleneh'. Tapi rupanya keingintahuan telah membawa saya semakin nyeleneh.
Beberapa hari yang lalu, saya menemui sebuah tulisan yang cukup menggelitik di blog yang ditulis oleh seorang senior. Biasanya, saya yang suka wara-wiri dari satu blog ke blog yang lain, dapat menahan diri untuk tidak membawanya ke dalam pembicaraan secara langsung karena saling menulis dan membaca sudah cukup buat saya. Namun, kali ini, saya tidak bisa tahan untuk diam saja. Saya pun mengirimkan pesan kepadanya lalu kami berdiskusi, tentang hidup, mati, pencarian, dan bunuh diri. Sampai pada akhir pembahasan, ia menyarankan saya untuk membaca esai "The Myth of Sisyphus" yang ditulis oleh Albert Camus. Sebuah tulisan yang belum pernah saya baca sama sekali. Katanya, tulisan itu berisi tentang absurditas dan bunuh diri.
Saya yang penasaran, mencoba mencari tahu informasi tentang buku itu. Dari wikipedia, saya membaca rangkuman setiap bab yang terdapat di dalamnya. Hasilnya, saya bingung. Begitu banyak istilah yang tidak saya mengerti, teori yang tidak saya pahami, dan lain-lain. Dari kebingungan tersebut, saya mencoba menelusuri pertanyaan saya satu-persatu--tentu masih melalui pencarian di internet. Semakin saya membaca, semakin muncul banyak pertanyaan baru, sehingga kebingungan saya bertambah banyak. Sepertinya ini soal filsafat. Saya perlu belajar dari awal.
Setiap orang punya metode belajarnya masing-masing; selama ini saya cukup cocok dengan cara Hank Green menjelaskan dalam video-videonya di YouTube. Maka, mulailah saya mengakses kanal Crash Course Philosophy dan berusaha mengikuti serta mempelajari dari dasar. Di sini, saya baru mulai mengenal seperti apa sebetulnya yang dipelajari mereka yang kampusnya di timur sana. Ada banyak teori yang ditemukan oleh masing-masing tokoh pada waktu tertentu, karena pengalaman dan pemikiran tertentu. Teori-teori ini diterbitkan lalu dikritisi oleh orang-orang lain, sehingga timbul pemahaman-pemahaman yang baru lagi. Kurang lebih itu yang saya tangkap secara umum; masih sangat jauh dari kedalaman.
Dari 'kursus filsafat' singkat saya, hal utama yang saya temukan adalah: manusia telah banyak mempertanyakan hal-hal yang sama dengan apa yang saya pertanyakan, dan mereka punya jawabannya. Ada beberapa hal yang saya percayai, rupanya telah ditemukan dan dipercayai juga oleh seseorang yang terpisah ruang dan waktunya dengan saya begitu jauh. Literaturlah yang berperan menjadi penghubungnya. Jadi sebetulnya, saya tidak perlu serepot itu mencari ke dalam diri saya, karena di luar sana pun sebetulnya sudah ada. Meskipun demikian, saya tetap percaya bahwa saya pun tetap harus menyintesa setiap ide yang masuk untuk bisa mempercayai sesuatu. Pembelajaran mengenai filsafat akan menambah wawasan tentang ide dan metode untuk menyintesis ide tersebut.
Besar kemungkinan saya masih jauh dari kata paham untuk mendeskripsikan bagaimana relasi saya dengan filsafat, sehingga jangan langsung percaya pada apa yang saya sampaikan. Yang jelas, bagi saya saat ini, filsafat bukanlah ilmu 'aneh' meski mungkin 'nyeleneh'. Soalnya, pertanyaan-pertanyaan yang timbul tentu berpotensi merusak apa-apa yang telah kita pahami dan yakini selama ini. Itu semua tergantung Anda. Bagaimana Anda meletakkan landasan pikiran dan asumsi dasar akan menghasilkan pemahaman atau kepercayaan yang bisa berbeda-beda.
Jika sebelumnya sudah terbiasa mempertanyakan banyak hal, merapikannya, dan menelusurinya secara bertahap, seharusnya tidak akan ada masalah. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang di sekitar yang telah membantu saya merapikan pikiran ini. Saya tidak peduli lagi; pertanyaan-pertanyaan ini datang, memohon untuk dijawab, dan akan memberontak jika dikekang. Cogito ergo sum.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah