Satu Hari di Bulan Juni
Aku tahu konsekuensinya, dari awal. Aku tahu peluangnya, dan kita berusaha bersama-sama menaikkan peluang itu. Waktu pun berjalan dan banyak hal yang terjadi. Hari ini, kita sama-sama saling mengatakan bahwa peluang itu sudah berubah, dari yang tadinya cukup tinggi, menjadi hampir nol.
Bukannya aku tidak sadar. Aku tahu hari ini akan datang. Aku sudah menghitungnya sejak beberapa waktu yang lalu, tapi aku tidak sanggup mengatakannya. Logika matematisku sudah berjalan, namun aku tetap ingin bertaruh pada peluang yang kecil itu. Aku tetap ingin berharap ada keajaiban terjadi untuk kemungkinan yang hampir mustahil itu. Meski pikiranku selalu berkata bahwa cinta yang sejati adalah mengusahakan untuk memberikan yang terbaik, bukan memaksakan untuk sesuatu yang tidak semestinya.
Inilah aku yang lemah dan egois; menginginkanmu untuk tetap hanya denganku. Eksklusifitas yang kta bangun memang telah membuatku nyaman. Aku jatuh cinta tanpa mitigasi.
Sejujurnya, saat genggaman tanganmu terasa goyah, aku sibuk mencari pegangan kesana kemari. Kemanakah aku harus bersandar jika kamu tidak lagi ada? Kemanakah aku harus berlabuh kalau kamu bukan lagi menjadi orangnya?
Tuhan, patahkan saja hatiku, agar aku kembali pada-Mu. Aku rindu--
adalah doa yang aku panjatkan dua tahun lalu. Tapi kenapa sekarang aku tak bisa kembali mempercayai-Mu?
Apakah kau akan mengabulkan doaku dan doanya sendiri dengan cara ini?
Bahkan aku tidak berani menjadikan pernyataanku barusan sebagai suatu hal yang final. Semesta, berapa lama kita tidak saling menyapa? Apakah Engkau bisa kugapai? Adakah Engkau sebagaimana yang kubayangkan; atau ia dan mereka bayangkan?
Tuan Hitam, jangan pergi dulu, aku mohon.
Comments
Post a Comment