Mengingat
Malam itu, ia bereksperimen lagi. Hanya satu jenis obat yang ia minum. Ia ingin tahu apakah dirinya sanggup berkegiatan dengan sokongan satu jenis obat, antipsikotik, tidak dengan penawarnya. Ia juga telah menurunkan dosis obat itu menjadi 0,5 mg. Bukan dosis yang dianjurkan oleh dokter, tetapi dokter telah mengizinkannya. Sampai saat ini, belum ada efek samping yang begitu berarti.
Malam itu juga, ia keluar rumah dan mengikuti keramaian. Saat ia berjalan melewati sawah, disaksikannya kunang-kunang yang begitu banyak jumlahnya. Kunang-kunang itu mengingatkannya pada masa kecil yang pernah ia lewati. Terakhir kali ia melihat kunang-kunang sebanyak itu adalah ketika ia berjalan-jalan di lapangan golf. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu.
Sepuluh tahun yang lalu, usianya masih setengah dari usia dirinya saat ini. Sepuluh tahun yang lalu, ia masih tinggal di kota kecil nun jauh di sana. Ia masih bercita-cita menjadi pribadi yang baik. Ia masih punya cita-cita. Ia tidak takut. Baru sejenak ia mengizinkan dirinya mengingat masa lalu, hatinya sudah bergejolak hebat. Rasa rindu, takut, menyesal, sedih, dan sebagainya, bercampur membuat dirinya merasa tak menentu. Ia ingin merusak dirinya lagi.
Apa yang salah dengan masa lalu? Apa yang salah dengan mengingat kenangan? Mengapa ia begitu hancur ketika ada sesuatu yang memicu dirinya untuk mengingat masa lalu?
Comments
Post a Comment