Nona, Bersabarlah

Akhirnya, tiba juga pertemuan yang ditunggu-tunggu gadis itu. Sudah setahun lebih, gadis itu duduk di atas bangku kayu panjang menunggu kedatangan lelakinya. Tak sekalipun gadis itu memeriksa arlojinya, atau menekuk senyum penantiannya, bahkan sekadar memejamkan matanya. Ia telah bersolek demi kedatangan lelakinya semenjak lebih dari setahun yang lalu. Senyum itu telah disetelnya persis seperti saat pertama kali mereka bertemu sebelumnya. Di kepalanya, rangkaian kata-kata tak henti-hentinya ia susun sedemikian rupa sehingga ia takkan kehabisan pembicaraan saat bertemu lelakinya.
Dan hari ini, detik ini: lelakinya datang.
Betapa bermekaran bunga yang hampir layu di hatinya itu. Gadis itu terdiam, menunggu lelakinya menyapa duluan. Sang Lelaki tidak berujar apapun, hanya diulurkannya tangannya untuk kemudian menggenggam lentik jemari Sang Gadis. Sang Gadis pun bangkit setelah setahun lebih tidak berpindah sedikitpun dari bangku itu; mereka berjalan bergandengan tangan tanpa percakapan apapun.
Mereka menyusuri jalanan, siang dan malam. Melewati kota, taman, pepohonan, ladang, dan kebun. Kendaraan lalu-lalang, orang-orang lain berseliweran, terkadang hujan turun; tetapi siapa yang bisa menghentikan sepasang kekasih yang ingin melunasi rindunya setelah setahun lebih lamanya?
Hingga mereka sampai pada suatu tempat. Sebuah rumah kecil di tengah hutan, dengan jalan setapak menuju pintu depannya. Mereka saling tatap, kemudian tanpa berucap apapun, mereka melanjutkan tapak kaki menuju gazebo di belakang rumah.
Sore itu cuaca cerah dan udara sedikit lembab. Sang Lelaki melepas genggamannya, menarik sebuah kursi kemudian menyilakan gadisnya untuk duduk. Sang Gadis duduk, masih dengan senyumannya tetapi kini lebih berseri. Betapa lelakinya tidak ikut berbunga-bunga. Sang Lelaki pun duduk di hadapannya dan memulai percakapan:
"Ceritakanlah padaku tentang apapun."
Gadis itu tertawa. Matanya menyipit, menyembunyikan rangkaian kalimat yang kian lama kian buyar. Runyam semua rencananya. Air mata haru tumpah, dan ia mulai bercerita dengan sebuah kalimat yang mewakili seluruh penantiannya selama setahun lebih:
"Saya rindu kamu," ujarnya sambil tergelak campur tangis.
Lelakinya hanya tersenyum seperti biasa. Menunggu kalimat selanjutnya meluncur dari bibir merah muda gadisnya itu.
"Saya telah melewati banyak hal. Takkan habis dalam semalam jika saya ceritakan semuanya. Kau masih mau dengar?" Tanya Sang Gadis.
"Kapan saya menolakmu bercerita?" Tanya lelakinya balik.
"Hahaha, baik. Semua bermula semenjak perpisahan kita; saya menangis di hadapanmu karena kamu menghilangkan kado perpisahan kita. Bodoh!" Tangan gadis itu seperti hendak menampar lelakinya, tetapi tidak jadi. Bagaimanapun juga, ia sedang mengingat kembali kisah bodoh yang dirindukan.
"Saya lanjutkan. Kita berpisah, kau pergi berlayar ke luar benua sedangkan saya masih di sini. Saya di sini, menunggu kamu kembali.
"Tetapi kamu belum juga kembali. Saya sadari, saya tidak boleh hanya diam menunggu. Maka saya persilakan pikiran ini meninggalkan jasadnya di bangku tempat saya menunggumu, untuk berlayar kesana kemari pula agar saya punya persediaan cerita yang tak akan kalah darimu.
"Ia bertemu dengan teman-teman baru, di tempat-tempat baru. Masalahnya adalah, ia mulai melupakan jasadnya. Ia terlalu asyik bermain: berlari, melompat, berenang, bernyanyi, bermain sampai larut, minum tuak, meninggalkan jalannya selama ini...
"Ia kehilangan arah. Sampai kamu datang. Ketika kamu datang, ia segera kembali ke jasadnya. Ia rindu kamu. Sama seperti saya yang merindukanmu."
Seketika, suasana berubah. Sang Lelaki terdiam, teringat kalimatnya: saya tidak akan kembali dan menemuimu kalau kamu menjadi buruk.
"Apakah saya terlampau buruk?" Tanya Sang Gadis.
Lelakinya hanya menarik napas singkat, lalu berkata: "Kau tahu sendiri jawabannya."

Jangan...
Dunia berputar. Pandangan Sang Gadis semakin buram dan tidak karuan, ingin ia berteriak ketika menyadari lelakinya beranjak pergi, tetapi tidak satupun kata dapat mengalir dari tenggorokannya seperti sebelumnya. Ia coba ulurkan tangan tetapi tak bisa, bayangan lelakinya semakin hilang dan putaran dunia semakin tidak jelas arahnya.

Jangan...
Gelap.
Gelap semakin mencekat, mengajak jiwanya berkelana kesana kemari, kembali meninggalkan jasadnya seperti setahun lebih sebelumnya. Tetapi kali ini ia ingin mencegahnya, amat ingin sampai-sampai dicekiknya lehernya sendiri.

JANGAN!
Sang Gadis pingsan sesaat, kemudian terbangun oleh dering ponsel di genggamannya. Ia masih duduk di bangku itu, menunggu lelakinya datang. Sebuah pesan masuk:
'Maaf, tunggulah 2-3 tahun lagi.'

Oh Tuhan, aku harus tersesat berapa tahun lagi?



Bangku panjang selasar
Kampus di selatan Pulau Dewata

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri