Cinta dan Potongan Puzzle
"Cinta itu sederhana;
bila tak bisa buat dia tertawa,
cukup jangan buat ia terluka.
Cinta itu sederhana;
bila tak bisa bertahan lama,
cukup buat ia percaya,
dan terus yakinkan dia
bahwa hanya dirimulah yang selalu ada."
-sepotong lirik dari sebuah lagu berjudul ' Cinta Itu Sederhana'.
Nyatanya cinta bisa sesederhana itu. Ataupun sangat rumit, jauh dari kata sederhana. Lama saya tidak merenungkan kata ini, barangkali sekitar semenjak ketakutan akan tanggung jawab yang begitu besar ketika kita harus mencintai; memilih dan hidup bersama pasangan, anak, dan keluarga yang baru muncul dan menguasai pikiran ini.
Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata saya menemukan sisi baru dari dalam diri ini. Saya menyukai perihal saling menyayangi--terkadang saya merasa berkelimpahan kasih sayang tetapi tidak tahu harus membaginya pada siapa semenjak tidak ada satu orang yang bisa saya sandarkan diri ini kepadanya. Menyayangi dan disayangi itu menyenangkan. Hal-hal kecil dapat menjadi begitu berarti, waktu-waktu mengikuti hukum relativitas berdasarkan momen yang terjadi saat itu. Membuatkan atau memberi sesuatu yang sederhana, melihat seseorang tersenyum atas kesederhanaan itu seperti sepotong puzzle dengan suatu warna yang menyusun perasaan di dalam menjalani kehidupan.
Namun, potongan-potongan puzzle itu mulai rontok, jatuh dan terselip entah kemana. Saya mencoba membuat potongan-potongan baru dengan alat dan bahan seadanya. Tetapi pun, saya tidak tahu harus menempatkan potongan puzzle itu di mana. Saya kehilangan arah.
Akhirnya ketika saya merasa menemukan bingkai yang menarik, saya coba tempatkan puzzle ini di sana. Rupanya kurang tepat. Beberapa kali proses ini berulang; tetap saja tak ada yang sempurna.
Saya menginginkan bingkai yang sesuai.
Tetapi kesesuaian itu pun sebenarnya ditentukan pula oleh bentuk puzzle yang saya buat.
Dan nyatanya dalam beberapa kali mencoba menempatkan puzzle pada bingkainya, karena ukuran dan kesesuaian bentuk yang tidak benar-benar tepat, rupanya ada jejak yang tertinggal pada potongan puzzle maupun bingkainya.
Saya harus apa, berhenti memproduksi puzzle?
--tapi warna-warna potongan puzzle ini, lucu.
bila tak bisa buat dia tertawa,
cukup jangan buat ia terluka.
Cinta itu sederhana;
bila tak bisa bertahan lama,
cukup buat ia percaya,
dan terus yakinkan dia
bahwa hanya dirimulah yang selalu ada."
-sepotong lirik dari sebuah lagu berjudul ' Cinta Itu Sederhana'.
Nyatanya cinta bisa sesederhana itu. Ataupun sangat rumit, jauh dari kata sederhana. Lama saya tidak merenungkan kata ini, barangkali sekitar semenjak ketakutan akan tanggung jawab yang begitu besar ketika kita harus mencintai; memilih dan hidup bersama pasangan, anak, dan keluarga yang baru muncul dan menguasai pikiran ini.
Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata saya menemukan sisi baru dari dalam diri ini. Saya menyukai perihal saling menyayangi--terkadang saya merasa berkelimpahan kasih sayang tetapi tidak tahu harus membaginya pada siapa semenjak tidak ada satu orang yang bisa saya sandarkan diri ini kepadanya. Menyayangi dan disayangi itu menyenangkan. Hal-hal kecil dapat menjadi begitu berarti, waktu-waktu mengikuti hukum relativitas berdasarkan momen yang terjadi saat itu. Membuatkan atau memberi sesuatu yang sederhana, melihat seseorang tersenyum atas kesederhanaan itu seperti sepotong puzzle dengan suatu warna yang menyusun perasaan di dalam menjalani kehidupan.
Namun, potongan-potongan puzzle itu mulai rontok, jatuh dan terselip entah kemana. Saya mencoba membuat potongan-potongan baru dengan alat dan bahan seadanya. Tetapi pun, saya tidak tahu harus menempatkan potongan puzzle itu di mana. Saya kehilangan arah.
Akhirnya ketika saya merasa menemukan bingkai yang menarik, saya coba tempatkan puzzle ini di sana. Rupanya kurang tepat. Beberapa kali proses ini berulang; tetap saja tak ada yang sempurna.
Saya menginginkan bingkai yang sesuai.
Tetapi kesesuaian itu pun sebenarnya ditentukan pula oleh bentuk puzzle yang saya buat.
Dan nyatanya dalam beberapa kali mencoba menempatkan puzzle pada bingkainya, karena ukuran dan kesesuaian bentuk yang tidak benar-benar tepat, rupanya ada jejak yang tertinggal pada potongan puzzle maupun bingkainya.
Saya harus apa, berhenti memproduksi puzzle?
--tapi warna-warna potongan puzzle ini, lucu.
Comments
Post a Comment