Malam Itu
"Aku menulis, untuk mengingat."
Demikianlah katamu dalam perbincangan kita malam itu. Ketika kita menyusuri jalan setapak diantara pepohonan yang tak bergerak. Bintang-gemintang tak terlihat; diselimuti awan mendung. Tidak ada senter, tidak ada lampu. Bias sinar rembulan izinkan kami tetap melangkah di jalan setapak itu.
"Yah, entahlah. Aku merasa senang. Sangat senang. Tetapi aku merasa gelisah. Dan itu tak kupungkiri; sebab aku belum memahami maksud Tuhan."
"Bagaimana maksudmu?" Tanyaku.
"Aku berencana meninggalkan tempat ini jika aku terjatuh lebih dari lima kali. Kupikir, itu tandanya aku memang tak cocok berada di sini. Itulah sebabnya aku tidak membawa penerangan apapun.
Tuhan bisa saja menaruh kerikil di jalanku, atau lubang di hadapanku. Bisa saja ia gelapkan malam ini sekelam gua yang dalam, bisa saja ia turunkan badai. Sehingga, aku jatuh dan akhirnya memutuskan untuk pergi.
Tetapi tidak.
Tuhan justru membiarkan rembulan tetap ada, membuatku tidak terjatuh sekalipun sepanjang perjalanan ini. Bagaimana aku tidak mengerti? Padahal aku sudah berencana pindah ke tempat yang terang, sehingga aku dapat berjalan menuju tempat peribadatan sehingga aku bisa memuja-Nya dengan mudah."
"Bersabarlah. Tuhan sedang ingin memberitahumu sesuatu, kau yang tak mengerti."
Ia menoleh ke arahku. Langkahnya berhenti, diikuti aku yang mematung. Matanya membelalak, tampak emosi di buram air wajahnya.
"Aku lelah dengan semua ini!"
Kepalan tangannya bergetar di kanan-kiri tubuhnya. Air mata menetes, satu demi satu, mengalir di pipinya. Mengerling, seakan gantikan kelap-kelip bintang yang tak mau muncul malam itu. Kupeluk ia dalam dekapan empatiku.
"Kau hanya butuh waktu," kubilang.
Menangis ia tanpa suara.
"Tandanya, kepintaranmu pun tak mampu pecahkan teka-teki-Nya," lanjutku.
Kita menyatu di tengah malam. Karena aku adalah kamu, dan kamu itu aku. Mari sama-sama menunggu waktu untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini. Legakanlah, lepaskanlah. Wahai Kamu, aku peringatkan kepadamu bahwa aku telah memutuskan sesuatu. Kali ini, ikutilah aku.
Mari tetap menyusuri jalan ini, tetapi sekarang gunakan senter. Tuhan telah sediakan penerangan buat kita, mengapa memilih berjalan di tengah kegelapan?
Comments
Post a Comment