Learning is Amazing: Belajar Lintas Disiplin

Dalam tulisan sebelumnya tentang beberapa tokoh yang saya kagumi, saya sempat menyelipkan sebuah nama yang tidak begitu saya bahas. Nama itu adalah Hank Green. Saya mengagumi Hank Green karena karya-karya beliau di Youtube, khususnya Crash Course dan SciShow. Video yang pertama kali saya ikuti dari beliau adalah Crash Course Chemistry dan Biology; saat itu saya sedang tertatih-tatih memahami materi kimia dan biologi SMA. Beruntung, saya menemukan video-video tersebut dan saya merasa sangat terbantu. Saya merasa video tersebut dibawakan dengan runtut, analogi-analogi yang sangat sesuai, dan animasi yang membantu berimajinasi. Kendala terbesar saya adalah kecepatan bicara Hank Green yang begitu cepat, tetapi ini tidak begitu menjadi masalah karena di Youtube, saya bisa menghentikan sesaat dan mengulang kembali bagian yang belum saya mengerti. Pertemuan saya dengan video-video Hank Green membawa saya pada pertemuan berikutnya dengan kanal-kanal sains yang lain dan sempat memantik saya untuk bercita-cita membuat video pembelajaran dalam bahasa Indonesia. Sebab, beberapa teman SMA memang terkendala bahasa ketika mencoba melakukan metode pembelajaran yang saya sarankan.
Setelah mengikuti video Crash Course Chemistry, Biology, Philosophy, dan beberapa Psychology, serta video SciShow, saya penasaran: bagaimana beliau bisa begitu piawai dalam menjelaskan berbagai ilmu pengetahuan? Beliau memang memiliki latar belakang pendidikan di bidang biokimia dan lingkungan, tetapi saya rasa penjelasan beliau lebih dari itu. Memang, tidak semua video ditulis olehnya (dalam video Philosophy dan Psychology, Hank Green hanya berperan sebagai host), namun saya rasa, beliau perlu memahami berbagai ilmu pengetahuan itu sehingga beliau dapat menjelaskannya dengan baik. Kemudian, bagaimana beliau bisa memahami ilmu pengetahuan yang sangat beragam itu?
Dalam kuliah yang saya ikuti, khususnya Biofisika dan Nanoteknologi, saya, teman-teman mahasiswa, dan dosen banyak membahas unit terkecil penyusun makhluk hidup dan tak hidup. Ketika kami masuk ke skala yang begitu kecil, sebetulnya perbedaan antara yang hidup dan yang mati tidak lagi menjadi jelas. Definisi biologi menjadi kabur. Selain itu, unit-unit terkecil seperti atom, sel, molekul, dan lain-lain, dapat ditinjau secara fisika dan kimiawi--dan keduanya saling berhubungan. Artinya, sebetulnya fisika, kimia, dan biologi adalah definisi yang manusia ciptakan untuk membatasi ilmu pengetahuan supaya lebih mudah dalam mempelajarinya. Jika kita mau, batas-batas itu dapat kita tembus. Batasan itu tidak betul-betul ada. Realitas tidak memiliki batas, manusialah yang menciptakannya. Maka, saya pikir kita bisa menggunakan salah satu ilmu pengetahuan sebagai landasan untuk mempelajari bidang ilmu yang lain.
Saya akan mengambil contoh yang saya sendiri alami. Saat ini, saya sedang berkuliah di Teknik Fisika, maka ilmu pengetahuan yang paling diajarkan adalah fisika. Sependek pemahaman saya, ilmu fisika mempelajari fenomena-fenomena yang dialami oleh objek-objek fisis baik secara konseptual maupun kuantitatif. Ilmu fisika membantu kita memahami bagaimana perilaku suatu objek fisis di alam semesta dengan landasan data empirik. Untuk memahami ilmu fisika, diperlukan pemahaman terhadap matematika yang berperan sebagai bahasa untuk mengomunikasikan hal-hal kuantitatif, serta bahasa "biasa" seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain itu, dengan mempelajari ilmu fisika secara mendalam, kita bisa menggunakan pendekatan fisika untuk objek biologi dan atom-atom. Pemahaman terhadap atom membantu kita memahami proses-proses kimia. Lalu, pemahaman terhadap mekanisme biologi dan proses kimia dapat membantu kita memahami perilaku manusia. Pemahaman terhadap pola-pola sebelumnya akan membantu kita memahami pola-pola berikutnya. Manusia suka dengan pola. Nah, dengan menjadi "orang fisika", maka sebetulnya kita bisa menjadi orang matematika, bahasa, biologi, kimia, dan pola perilaku manusia sekaligus :)
Mungkin itulah bagaimana Hank Green bisa menjadi demikian; menggunakan pemahaman sebelumnya untuk menuju pemahaman berikutnya. Kalau salah ya sudah, maaf ya :'D Paling tidak, saya mencoba seperti itu, dan mungkin Anda yang membaca ini juga tertarik melakukannya.
Tentunya, orang fisika yang mempelajari perilaku manusia akan memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang sosiologi yang mempelajari perilaku manusia. Metode pembelajaran ilmu alam dan sosial humaniora memang memiliki sejumlah perbedaan. Namun, saya pikir itu bukan penghalang untuk belajar. Perbedaan cara berpikir dan metode pendekatan terhadap suatu bidang ilmu "hanya" menjadi catatan untuk "menyimpulkan", "mempercayai", dan "menggunakan" ilmu tersebut. Saat kita belajar, maka kita sedang memupuk pemahaman terhadap diri kita sendiri. Namun, saat kita sudah memutuskan untuk menyimpulkan, percaya, dan menggunakan suatu ilmu, apalagi mengomunikasikannya dengan orang lain, maka berhati-hatilah. Barangkali kita belum benar. Barangkali pemahaman kita belum utuh.
Saya merasa tulisan ini sangat kurang runtut dan kurang menjelaskan poin-poin yang ingin saya sampaikan dengan baik, hahaha. Mungkin saya perlu banyak belajar menulis lagi. Semoga Anda (dan saya) dapat menikmati proses belajar :)

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah