Learning is Amazing (2): Fisika
Waktu masih SMP, saya paling suka dengan pelajaran biologi. Buat saya, biologi menarik karena kita dapat mempelajari ilmu alam pada makhluk hidup. Saya lebih mudah membayangkan objek-objek molekuler di dalam tubuh makhluk hidup ketimbang listrik dan gravitasi yang diajarkan di pelajaran fisika. Biologi menjelaskan keanekaragaman hayati dan bagaimana masing-masing makhluk hidup dapat menghidupi dirinya. Selain itu, saya juga menikmati video-video bedah pada tubuh manusia. Organ tubuh dan darah adalah sesuatu yang memukau untuk saya. Oke, mungkin yang terakhir ini terdengar sedikit mengerikan, hahaha.
Ketika masuk bangku SMA, saya mencoba mendaftar bimbingan olimpiade biologi di sekolah dengan mengikuti ujian seleksi. Namun, hasil seleksi menunjukkan bahwa saya tidak bisa masuk dalam tim olimpiade biologi. Alih-alih masuk tim biologi, nama saya justru ada di tim kimia. Guru kimia saya (yang memang cukup dekat dengan saya) ingin agar saya ikut tim kimia saja. Ajakan itu saya terima saja, yang penting ikut bimbingan olimpiade, saya pikir.
Sedikit demi sedikit, kegemaran saya berpindah. Saya masih suka biologi dan banyak mempelajari sendiri, namun saya dipertemukan dengan guru yang kurang membuat saya nyaman. Saya kadang mendebat guru saya jika saya rasa perkataannya bertentangan dengan apa yang saya baca dari buku. Puncak "konflik" saya dengan guru biologi SMA saya adalah ketika saya mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab (saat ini pun saya pikir, pertanyaan itu memang tidak bisa dijawab). "Mengapa sel bertindak seperti itu? Mengapa organel bertindak seperti itu?" Saya tidak ingat persis bagaimana diskusi kami pada saat itu. Yang saya ingat, jawaban beliau tidak memuaskan saya.
Merasa kurang mendapat "teman diskusi biologi" yang menyenangkan dan semakin lama hafalan biologi semakin menyiksa, saya pun mengeksplorasi seni dan bahasa lebih kencang. Di kelas 2 SMA, saya berlatih menulis esai, debat, bermusik, dan story telling. Selain itu, di kelas 2 SMA, saya memang ketinggalan informasi terkait seleksi tim olimpiade, sehingga saya tidak lagi tergabung dalam tim manapun.
Pada akhir masa kelas 2 SMA, tahu-tahu seorang teman mengajak saya untuk ikut lomba fisika. Saya tentu bingung dan merasa tidak akan mampu melakukannya sebab saya tidak pernah menekuni fisika. Ia bilang, coba saja dulu, pasti bisa dan menyenangkan. Akhirnya, saya pun mengikuti dia dan kami bersama-sama belajar bersama teman-teman lain dan guru pembimbing. Disitulah pertama kali saya mulai mengenali fisika lebih dalam.
Saya mulai tahu bahwa pelajaran bernama fisika sangat menarik karena bisa menjelaskan mengapa--pertanyaan yang tidak terjawab di biologi. Di dalam ilmu fisika, kita mencoba mengurai fenomena-fenomena pada objek fisik di alam semesta yang dapat kita indera secara langsung maupun dengan perantara alat. Penjelasan fisika pun dapat dinalar, tidak seperti biologi yang benar-benar mengharuskan kita untuk menghafal. Asal memahami konsepnya, rumus-rumus dapat diturunkan sendiri jika lupa.
Teman yang mengajak saya itu pun mengatakan, "Saya suka fisika karena ia ada dimana-mana. Di sekitar kita. Aku betul-betul bisa mengaplikasikan apa yang dipelajari di fisika pada objek dalam kehidupan sehari-hari. Kamu ingat materi benda yang disandarkan ke dinding, lalu kita bisa memprediksi apakah ia akan jatuh atau tidak dengan mengetahui sudut dan gaya geseknya? Aku betul-betul mencobanya dengan menggunakan sapu dan busur di dinding kamarku. Itu sangat menyenangkan."
Saya sepakat dengan ucapannya bahwa fisika ada dimana-mana. Fisika itu universal karena objek kajinya merupakan seluruh objek fisis, termasuk biologi dan kimia yang sempat saya tekuni. Kapanpun dan dimanapun, dalam skala mikro hingga makro, kita akan menemui fenomena fisika dengan berbagai karakternya. Meskipun demikian, tentu ada keterbatasan dari ilmu fisika karena ia punya metode pendekatan yang berbeda dengan ilmu yang lain, misalnya sosial-humaniora.
Ketika kuliah, saya pun menyadari bahwa fisika juga tidak bisa betul-betul menjawab pertanyaan mengapa. Saat kita bertanya "Mengapa objek ini bertindak seperti itu?" dan mencari tahu jawabannya, kita mungkin merasa mendapat jawabannya. Namun, sependek pengalaman saya, saat kita mendapat jawabannya, saat itulah kita mendapat penjelasan bagaimana suatu fenomena terjadi dan pertanyaan baru: mengapa fenomena itu terjadi. Absurd.
Buat saya sendiri, kunci untuk mendekati fisika adalah nalar, imajinasi, dan matematika. Alam semesta ini bekerja dengan luar biasa menakjubkan. Fisika mencoba melukiskan keindahan itu. Bukankah menakjubkan ketika kita dapat mengetahui seperti apa sesuatu yang ukurannya sejuta kali lebih kecil atau lebih besar daripada tubuh kita? Bukankah luar biasa jika kita dapat memprediksi fenomena seribu tahun lalu dan seribu tahun ke depan, padahal umur kita belum tentu sampai seabad?
Manusia itu tidak tahu dan mereka mencoba mengejar keingintahuannya dengan cara apapun. Fisika hanya salah satunya.
Pengetahuan paling luar biasa dari manusia adalah manusia tahu kalau dia tak tahu apa-apa. Hal ini membuat manusia selalu belajar. Akibatnya manusia lebih bercaya kepada "ilmu pengetahuan" karena menyajikan harapan yang dianggap lebih pasti daripada percaya kepada orang-orang tertentu untuk tetap menerima apapun (yang terjadi di abad-abad sebelumnya).
ReplyDelete