Tapis
"Sama seperti menulis, mungkin isi pikiranmu sulit kaukeluarkan karena kau terlalu banyak berpikir dan menganalisis."
Pikiran dan analisis yang menggunakan nalar adalah tapis. Setiap orang butuh penapis supaya tetap waras, atau kalau katanya, beradaptasi dengan manusia lain di sekelilingnya. Penapis harus tetap ada, baik terhadap arus ke dalam maupun arus keluar. Ini adalah bentuk prinsip reciprocity yang tidak pada tempatnya alias saya cuma ngomong ngawur biar seolah keren.
Penapis adalah alat yang menjaga superego seorang manusia. Di sisi lain, penapis adalah rajutan benang yang dipilin dari dalam dan luar diri seseorang. Warna tapis dan tingkat kerapatan lubang-lubangnya ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal seseorang.
Lalu ketika sakit, tapis itu seperti meronta-ronta karena terkoyak. Yang terbendung meminta keluar. Di sela-sela tapis yang tersisa, alam bawah sadarku menahan diriku untuk melontarkan kata-kata yang tak wajar atau tindakan yang tak lazim, sedang nalarku semakin terkikis. Aku memutus kontak dengan dunia luar, namun suara dari dalam diriku memanggilku agar aku merespons yang bukan mereka ucapkan.
Ketika tapis itu mulai koyak, bukan hanya pikiranku yang memberontak. Otot-otot di tangan dan kakiku seperti ditarik dari dalam. Jalanan, manusia, dan bangunan berubah rupa menjadi menakutkan. Aku ingin masuk ke dalam pelukan tubuhku kemudian mengunci pintu itu rapat-rapat.
Seseorang mengetuk pintu lalu kuizinkan ia masuk. Kami bercakap-cakap.
Ia pun bertanya, apa bagian dari dalam dirimu yang sudah kaumaafkan?
Aku memaafkan perbuatan jahatku. Dulunya, aku kerap merasa bersalah sesudah berbuat jahat. Kini aku tak merasa bersalah lagi.
Tak selamanya memaafkan itu baik.
Ia pamit pergi. Ia tidak menanggapi lagi jawabanku, barangkali ia hanya penasaran, atau aku kelewat batas. Aku lupa pakai tapisku.
Comments
Post a Comment