2019
Tinggal kurang dari 2 bulan lagi, tahun 2019 akan berakhir. Kalau ditanya satu frasa yang bisa mewakilkan satu tahun ini, jawabanku: rumah sakit. Sejak bulan Februari, aku bolak-balik ke rumah sakit. Aku masih ingat betul bagaimana perasaanku setelah keluar dari rumah sakit untuk pertama kalinya. Hancur, sedih, dan rasanya putus asa. Aku menangis di sepanjang jalan pulang dari rumah sakit ke kampus. Hampir seminggu kemudian, aku merasakan efek samping obat yang membuatku akhirnya masuk rumah sakit lagi. Kali itu, aku harus rawat inap di rumah sakit sekitar 3 malam. Setelah itu, aku melakukan kontrol sebanyak 3 kali, hingga aku menyerah dengan dokter yang terakhir.
Beberapa bulan setelahnya, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena kondisiku menurun lagi. Sementara itu, aku harus bisa beraktivitas secara normal karena pelaksanaan KKN. Aku ke rumah sakit sekali sebelum KKN. Ketika KKN, aku pergi ke rumah sakit 2 kali. Pulang dari KKN, aku ke rumah sakit 4 kali untuk kontrol terkait masalah yang sama. Pada saat KKN, aku mulai merasakan ada sesuatu yang lain yang bermasalah. Masalah ini akhirnya membuatku ke rumah sakit lagi sebanyak 2 kali.
Tahun ini, temanku dirawat inap di rumah sakit karena gejala DBD. Aku menjenguknya. Setelah pulang KKN, temanku yang lain juga masuk rumah sakit dan dirawat inap. Aku pun menemaninya ketika ia masuk IGD untuk pertama kalinya. Baru saja, ibuku dirawat inap di rumah sakit karena melakukan operasi pengangkatan tahi lalat. Aku sempat menungguinya.
Mari merangkum. Untuk urusanku sendiri, aku ke rumah sakit 7 kali dan 2 kali (kubedakan karena urusannya berbeda). Untuk urusan orang lain, aku ke rumah sakit 3 kali. Wah.
Hari ini, aku belum mengonsumsi obat rutinku. Aku ingin uji coba lagi. Aku tidak suka obat, aku ingin lepas darinya. Urusan rumah sakit memelintir kondisi finansialku. Aku merasa membaik, tetapi memang belum stabil. Ah, mataku mulai sedikit merabun lagi.
Comments
Post a Comment