Dali, Van Gogh, dan Descartes

Saya mudah mengagumi seseorang, terutama jika karyanya menggugah diri saya. Namun, ada beberapa orang yang saya kagumi karena selain karyanya, mereka telah melewati hidupnya dengan luar biasa, menurut saya. Tiga nama itu adalah René Descartes, Vincent Van Gogh, dan Salvador Dalí. Oh, sebetulnya ada satu lagi: Hank Green. Tapi kali ini saya hanya ingin membahas tiga nama pertama yang sudah saya sebutkan.
Salvador Dalí adalah nama pertama yang saya kenal dari ketiga nama tersebut, tetapi biografinya merupakan cerita yang baru saya ketahui belakangan. Saya telah mengenal karyanya sejak SMP. The Persistence of Memory adalah karya Dalí yang membuat saya pertama kali mengaguminya. Keeksentrikannya tingkah laku dan penampilannya adalah ikon yang membuat saya mudah sekali mengingatnya sampai sekarang. Namun, cerita hidupnya membuat saya memasukkan namanya ke dalam tulisan ini. Silakan baca biografi beliau melalui internet atau menonton ulasan tentang hidupnya melalui Youtube (saya merekomendasikan video ini). Video tersebut menceritakan Dalí berdasarkan paper ini. Sebetulnya, Dalí telah menulis autobiografinya yang berjudul "The Secret Life of Salvador Dalí". Namun, saya belum menemukan akses untuk membacanya.
Setelah Dalí, saya ingin sedikit mengulas tentang pelukis lain yang namanya masuk di dalam tulisan ini, yaitu Van Gogh. Saya juga mengenal nama Van Gogh dan cerita bahwa ia pernah memotong telinganya sendiri sejak SMP, tetapi seorang psikolog yang menyebutkan nama itu akhir-akhir ini membuat saya mengingat kembali namanya. Sebulan berikutnya, saya mendapatkan film yang berjudul "Van Gogh: Painted with Words". Film itu menceritakan kisah hidup Van Gogh berdasarkan surat-surat yang ditulisnya kepada Theo, adik laki-lakinya. Saya merasa benar-benar bisa berempati dengan pengalaman dan perasaan Van Gogh yang dialami semasa hidupnya.
Satu lagi nama yang belum saya sebut adalah Descartes. Berbeda dari kedua nama sebelumnya, Descartes dikenal sebagai seorang matematikawan dan ahli filsafat (entah kenapa terdengar aneh pada saat saya mencoba menerjemakan kata philosopher). Di sisi lain, sama seperti kedua nama sebelumnya, saya mengenal karyanya dulu sebelum biografinya: koordinat Cartesian. Selanjutnya, saya mendengar frasa terkenalnya: cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Lama setelah itu, saya mulai belajar filsafat dan menemukan nama Descartes dalam video Crash Course Philosophy. "Perkenalan" saya dengan Descartes inilah yang membuat saya terkesima atas frasa yang "ditemukannya".
Saya rasa sebetulnya ketiga nama ini bukanlah nama-nama yang saya kagumi. Mungkin lebih tepat apabila saya menyebutkan bahwa saya bisa berempati dengan mereka bertiga, dan saya kagum karena mereka bisa menghasilkan karya yang luar biasa dalam keadaan hidup yang mereka alami. Saya sengaja tidak menulis kisah hidup mereka di sini karena tentu teks ini akan menjadi luar biasa panjang.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri