Eksperimen
Aku menikmati sensasi dingin yang mengalir dari ujung kaki dan ujung jemari tanganku pada pagi ini. Kudengar suara serangga berbunyi, berulang-ulang, dengan ketukan yang selalu konstan. Langit membiru; tetangga depan rumah mematikan lampu halaman. Suara ngaji masjid tak kunjung usai, menggema menutupi sayup-sayup suara masjid lainnya. Denging di telinga kiri masih tak kunjung hilang.
Pilihan macam apa yang kuambil lagi kali ini? Namun sebetulnya, aku tidak peduli lagi. Yang terjadi biarlah terjadi. Semoga hatiku bisa mengerti.
Ada yang datang dan menengok. Ada yang bersiul lalu batuk. Ada yang memperbaiki pakaian. Sebetulnya indera kita sangat luar biasa untuk mengidentifikasi sesuatu.
Lagi-lagi, aku memilih untuk menepi sendirian. Bepergian untuk keramaian lalu bersembunyi.
Beberapa jam yang lalu, dorongan itu kembali datang. Aku sempat terhanyut, tetapi kemudian akalku cukup kuat untuk ingin mengobservasi diriku dengan lebih baik lagi. Kupikir, itu bisa menjadi peganganku. Atau tepatnya, alternatif tindakan yang bisa kulakukan. Rasanya aku setuju kalau aku berada di antara beberapa kemungkinan. Jika kondisiku mencapai skenario terburuk, maka sebetulnya catatanku akan menjadi lebih menarik lagi. Jika pun membaik, mungkin catatan ini berfungsi untuk membantu orang lain yang berada di dalam situasi yang serupa.
Diri adalah objek eksperimen paling dekat. Dan eksperimen, merupakan aksi paling menarik dan menantang karena menyimpan rahasia di balik metode.
Comments
Post a Comment