Sang Penari, Lampu, dan Bayangannya
Seorang penari menggerakkan jemarinya satu demi satu,
kemudian melentingkan kakinya di bawah sorot lampu putih. Sang penari tak sendirian,
ia menari bersama bayangan yang ada di bawah kakinya. Ketika sang penari
bergerak ke kanan, bayangan itu ikut bergerak ke kanan. Jika sang penari berputar,
maka bayangan itu ikut berputar. Para penonton takjub melihat keharmonisan sang
penari dengan bayangannya. Jika sang penari mampu tersenyum dan menampakkan
ekspresi jiwanya melalui otot-otot wajahnya, sang bayangan dapat membesar dan
mengerdil.
Sang penari terus menari meskipun tidak ada seorang pun
yang menyaksikannya. Bahkan, musik telah mati sejak tadi. Apalah arti alunan
musik jika sang penari dapat mendengarkan setiap degup jantungnya, suara napasnya,
dan gesekan kakinya dengan lantai sebagai pengiring irama buatnya menari.
Kadang ia memejam, kadang pula ia membuka mata. Ia tidak merasakan apapun:
senang, sedih, takut, marah, terkejut, dan jijik. Ia menari karena ia adalah seorang
penari.
Lama-kelamaan, lampu putih yang menyorotinya meredup. Bayangan
sang penari mulai melebur dengan kegelapan di sekitarnya. Sang penari baru
mulai merasa gugup; ia akan kehilangan sesuatu. Ia akan kehilangan pasangan
yang selama ini mendampinginya ketika sedang menari. Ia semakin mempercepat
tempo tariannya, mengekspresikan kegugupan dirinya. Bagaimanapun juga, lampu
itu akan mati sebentar lagi dan ia tidak akan bisa menghentikannya. Sebab,
sampai kapanpun, sang penari akan tetap menjadi penari. Ia bukanlah operator
lampu yang dapat mengatur kapan lampu itu nyala, kapan lampu itu mati.
Tepat pada saat lampu itu mati, sang penari menghentikan
gerakannya. Peluh keringat menetes sekejap, kemudian menguap dan melebur
bersama udara. Sang bayangan tidak ada lagi, karena ia memang tidak pernah ada.
Sang penari tak nampak lagi, meskipun sejak semula tidak ada yang
menyaksikannya. Setelah beberapa detik berhenti menari, sang penari mulai
menyentuhkan kedua telapak tangannya ke permukaan lantai yang dingin, mencoba
mencari bayangan yang tersisa. Rupanya, ia menemukan bayangan itu dimana-mana. Sangat
besar, memeluk dirinya setelah lampu telah mati. Sang penari mengangat tangannya
dari lantai, kemudian merasakan kegelapan itu memeluknya.
Comments
Post a Comment