Celoteh
Saat ini, aku sedang berada dalam masalah. Sebetulnya masalahnya mungkin sepele, tetapi masalah itu menjalar ke mana-mana sehingga aku bingung bagaimana menyelesaikannya. Tidak ada yang mengejarku kecuali asumsiku sendiri tentang waktu. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali aku menghadapi diriku sendiri, berbincang, dan merumuskan penyelesaiannya bersama. Masukan dari luar sudah terlalu banyak memenuhi kepalaku. Kini, aku benar-benar harus menghadapi diriku sendiri.
Mau sampai kapan?
Aku tidak tahu, aku tidak bisa apa-apa, biarlah Semesta bekerja demikian adanya.
Tapi, diriku adalah orang yang sangat sulit. Sulit memutuskan, sulit untuk jujur dan apa adanya.
Apakah aku hidup di dalam kepalsuan?
- Menurutmu?
Kita berdua hidup dalam satu tubuh yang sama. Kita berperan ganda, kadang aku dan kadang dirimu. Kita berpikir di kepala yang sama, bertindak dengan tangan dan kaki yang sama. Tak ada aku dan kau, kita bersama.
Hidup dalam peran ganda, sesungguhnya, melelahkan. Tapi mau bagaimana lagi, luar dan dalam diriku menuntut demikian.
Apakah aku sedang berpikir untuk tujuan yang baik?
Ataukah aku sedang menghancurkan diriku sendiri perlahan-lahan?
Yang manapun itu, tidak usah dipikirkan.
Karena, untuk apa?
Mau sampai kapan?
Aku tidak tahu, aku tidak bisa apa-apa, biarlah Semesta bekerja demikian adanya.
Tapi, diriku adalah orang yang sangat sulit. Sulit memutuskan, sulit untuk jujur dan apa adanya.
Apakah aku hidup di dalam kepalsuan?
- Menurutmu?
Kita berdua hidup dalam satu tubuh yang sama. Kita berperan ganda, kadang aku dan kadang dirimu. Kita berpikir di kepala yang sama, bertindak dengan tangan dan kaki yang sama. Tak ada aku dan kau, kita bersama.
Hidup dalam peran ganda, sesungguhnya, melelahkan. Tapi mau bagaimana lagi, luar dan dalam diriku menuntut demikian.
Apakah aku sedang berpikir untuk tujuan yang baik?
Ataukah aku sedang menghancurkan diriku sendiri perlahan-lahan?
Yang manapun itu, tidak usah dipikirkan.
Karena, untuk apa?
Comments
Post a Comment