Tuan Hitam dan Panggilan (yang Tak Kunjung Tiba)
"Aku menyadari perubahanmu; kamu mencoba untuk tidak lagi memperlakukanku sebagaimana dulu kaupercaya bahwa aku dapat menujumu. Kamu tidak lagi percaya bahwa aku dapat meyakini apa yang kauyakini dan kita dapat bersama. Bukan begitu?"
"Demi aku dan dirimu, kamu sengaja mengubah sikapmu. Kamu ingin kita berjalan masing-masing karena demikianlah yang terbaik buat masing-masing dari kita berdua. Sebab logikamu begitu kuat, kamu tidak akan mengorbankan diri untuk perasaan. Sebaik-baiknya perasaan, akal sehat tetap penting dipakai sebagai dasar dalam memilih keputusan."
"Bagaimana aku jadi tidak semakin mencintaimu kalau kau mencintaiku dengan cara yang indah? Kamu membimbingku, menemaniku, memedulikanku, hingga akhirnya perlahan meninggalkanku. Semua yang kaulakukan kupandang sempurna buatmu dan buatku. Dan mungkin itu yang membutakanku. Aku yang haus akan ilmu pengetahuan kausirami dengan kasih."
"Dalam keadaan begini, bukan tidak mungkin aku ingin mencari tangan lain untuk kugenggam. Aku takut jatuh sendirian. Tapi aku sadar, bukan begini caranya. Bahkan aku tak ingin dirimu menggenggam tangan lain sebelum genggaman tangan kita, kita lepaskan."
Aku belum mendapat panggilan itu. Jalan yang panjang, siapa yang tahu arahnya? Langit yang luas, siapa yang tahu mana yang akan memanggil? Kapan? Aku tidak tahu.
Siapa yang bisa menentukan soal panggilan?
Siapa yang bisa menentukan soal siapa yang memanggil, siapa yang dipanggil, dan kapan panggilan itu akan tiba?
Mengapa aku jadi peduli (lagi) soal panggilan?
Di saat seperti ini, aku meminta untuk dipanggil? Dengan cara apa?
Kayaknya aku salah sambung.
Comments
Post a Comment