Dia, Dirinya, dan Senja Emas [1]
Senja itu--langit mengalami transisi warna lantaran mentari mengucap selamat tinggal pada hari dengan kilaunya. Kilau emas yang memesona dan tidak biasa. Meminta untuk diabadikan dalam untaian kata-kata dari para pujangga.
Namun, justru seseorang hanya diam saat itu.
Ia sosok yang termenung kala senja.
Ia tak tertarik mendengar suara kepak sayap burung yang beterbangan pulang menuju sarangnya. Ia tak berminat menatap awan berarak yang mengiringi kepergian mentari. Ia tak peduli meski gejala senja sedang indah-indahnya kala itu.
Tak ia acuhkan segala hal.
Ia sosok yang sedang menipu diri dengan menjadi abai terhadap sekitarnya.
Sesuatu telah mengusiknya.
Sesuatu yang telah datang dan terus berada di sisinya, tetapi kemudian menghilang seiring senja.
Bukan, ini bukan soal kekasih hati. Bukan pula soal keluarga, teman, bahkan lawan.
Ini hanya tentang dirinya kala senja. Tentang ia dan tujuh menit sebelum senja berakhir. Empat ratus dua puluh detik sebelum lembayung berangsur gelap.
Cukup dia, senja, dan waktu.
Siapa dia?

Siapa dia?
ReplyDeleteUntuk menjawab pertanyaan ini, mohon maaf karena belum bisa dijelaskan untuk saat ini.
DeleteSiapa dia?
Anda bebas menafsirkan siapa dirinya, atau tanyakan kembali ketika alur telah berakhir serta bila masih ada yang mengganjal.
Terima kasih :)