Posts

Nona, Bersabarlah

Akhirnya, tiba juga pertemuan yang ditunggu-tunggu gadis itu. Sudah setahun lebih, gadis itu duduk di atas bangku kayu panjang menunggu kedatangan lelakinya. Tak sekalipun gadis itu memeriksa arlojinya, atau menekuk senyum penantiannya, bahkan sekadar memejamkan matanya. Ia telah bersolek demi kedatangan lelakinya semenjak lebih dari setahun yang lalu. Senyum itu telah disetelnya persis seperti saat pertama kali mereka bertemu sebelumnya. Di kepalanya, rangkaian kata-kata tak henti-hentinya ia susun sedemikian rupa sehingga ia takkan kehabisan pembicaraan saat bertemu lelakinya. Dan hari ini, detik ini: lelakinya datang. Betapa bermekaran bunga yang hampir layu di hatinya itu. Gadis itu terdiam, menunggu lelakinya menyapa duluan. Sang Lelaki tidak berujar apapun, hanya diulurkannya tangannya untuk kemudian menggenggam lentik jemari Sang Gadis. Sang Gadis pun bangkit setelah setahun lebih tidak berpindah sedikitpun dari bangku itu; mereka berjalan bergandengan tangan tanpa percakap...

Sajak Pagi

/1/ Selamat pagi; Salam hangat dari dapur berantakan yang menunggu untuk dibereskan. Kacang, tempe, dan teri di nampan    tampak tenang, menanti untuk diolah jadi makanan. /2/ Selamat pagi; Salam hangat dari dasar hati yang berserakan dan menanti untuk ditata rapi. Rindu, cinta, angan, dan benci seolah siap bersemi lagi. /3/ Selamat pagi; Waktunya bangun dari mimpi.

Cinta dan Potongan Puzzle

"Cinta itu sederhana; bila tak bisa buat dia tertawa, cukup jangan buat ia terluka. Cinta itu sederhana; bila tak bisa bertahan lama, cukup buat ia percaya, dan terus yakinkan dia bahwa hanya dirimulah yang selalu ada." -sepotong lirik dari sebuah lagu berjudul ' Cinta Itu Sederhana'. Nyatanya cinta bisa sesederhana itu. Ataupun sangat rumit, jauh dari kata sederhana. Lama saya tidak merenungkan kata ini, barangkali sekitar semenjak ketakutan akan tanggung jawab yang begitu besar ketika kita harus mencintai; memilih dan hidup bersama pasangan, anak, dan keluarga yang baru muncul dan menguasai pikiran ini. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata saya menemukan sisi baru dari dalam diri ini. Saya menyukai perihal saling menyayangi--terkadang saya merasa berkelimpahan kasih sayang tetapi tidak tahu harus membaginya pada siapa semenjak tidak ada satu orang yang bisa saya sandarkan diri ini kepadanya. Menyayangi dan disayangi itu menyenangkan. Hal-hal...

Malam Itu

"Aku menulis, untuk mengingat." Demikianlah katamu dalam perbincangan kita malam itu. Ketika kita menyusuri jalan setapak diantara pepohonan yang tak bergerak. Bintang-gemintang tak terlihat; diselimuti awan mendung. Tidak ada senter, tidak ada lampu. Bias sinar rembulan izinkan kami tetap melangkah di jalan setapak itu. "Yah, entahlah. Aku merasa senang. Sangat senang. Tetapi aku merasa gelisah. Dan itu tak kupungkiri; sebab aku belum memahami maksud Tuhan." "Bagaimana maksudmu?" Tanyaku. "Aku berencana meninggalkan tempat ini jika aku terjatuh lebih dari lima kali. Kupikir, itu tandanya aku memang tak cocok berada di sini. Itulah sebabnya aku tidak membawa penerangan apapun. Tuhan bisa saja menaruh kerikil di jalanku, atau lubang di hadapanku. Bisa saja ia gelapkan malam ini sekelam gua yang dalam, bisa saja ia turunkan badai. Sehingga, aku jatuh dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Tetapi tidak. Tuhan justru membiarkan rembulan tetap...

Sepotong Percakapan (Teks) Tadi Malam

"Mungkin ini gara-gara saya patah hati, ya." "Ha? Patah hati kenapa? Lu ditolak?" "Kagak, ditolak mah gak sesakit ini.." "Terus?" "Ini gebetan saya ngaku, dia udah punya pacar. Pacarnya cewek." "Anjir! Doi lesbi? Atau biseks?" "Lesbi. Mana dia sempet ngode-ngode lagi sama saya." "Ngode gimana?" "Titip salam sama keluarga saya, lah. Ngajak nge- date . Tapi yang penting sih, saya punya prinsip. Kalo doi punya pacar kan, saingan saya cuma satu. Sekali jalan, ngapain berhenti di tengah jalan, hehehe." "Jadi lu tetep ngegas nih? Emang dia mau sama cowok?" "Yaa ngegas dikit-dikit. Pacarnya dulu cowok." "Ooh, jadi sambil tetep nge- keep  doi, lu sambil ngelirik yang lain? Iya mah, mending cari yang lain aja.." "Susah, belum ada yang menggetarkan hati. Hahaha!" "Dasar lu mah." ... ... "Temen-temen disana lagi pada 420....

Tabu

"Mengapa ada saya di sini?" *** Kiranya, itulah pertanyaan yang terlontar dari dalam lubuk hati gadis itu. Ia tengah duduk di atas lantai, berdampingan dengan seseorang yang berumur sekitar delapan tahun lebih tua darinya. Pun orang-orang di ruangan itu, kira-kira umurnya lebih tua sekitar sepuluh tahun darinya. Agaknya ia merasa asing di sana. Tetapi suasana syahdu malam itu, menyenangkan buat dirinya. Dari sudut matanya, terpantul dua musisi yang menyanyi di depan sana. Yang satu wanita berambut pendek, dengan suara yang lembut dan kerasnya menyesuaikan emosi lagu yang di bawakannya. Yang satunya lelaki berambut panjang juga beruban, dengan gitar akustik di pangkuannya serta mikrofon di dekat bibirnya untuk menyanyikan suara pengiring. Mereka membawakan musikalisasi puisi kesukaan gadis itu--inilah yang membawanya ke sana. Tetapi ini tidak biasa. Ini malam Ramadhan, dimana ia seharusnya di rumah. Beribadah dengan khidmat, mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang diy...

123, 1234

Image
Jangan menatapku terlalu tinggi. Aku tidak ada di atas sana, yang kaulihat hanya refleksiku. Proyeksi yang aku ciptakan. Aku di bawah sini. Di dalam lubang kelam yang pernah kutinggali sebelum mereka datang menolongku. Saat mereka pergi, aku kembali melompat, jatuh ke dalam lubang dalam. Menikmati pesta pora dalam kegelapan. Kau ada disini. Kau menatap langit, melihat wajahku, seolah-olah aku ada di atas sana--tidak! *** [1] Barangkali ini munafik, seperti yang dia bilang. Aku ingin menipu diri dengan tersenyum di hadapan cermin. Supaya kulihat wajah bahagiaku begitu menyenangkan, walaupun munafik, aku tak peduli. Walau menipu, biarlah! Aku ingin tersenyum dan menari. [2] Barangkali ini munafik, seperti yang dia bilang. Aku ingin jadi orang baik. . . [3] Namun, barangkali tidak ada yang peduli. Tentang kekanakanku ataupun dewasaku. Atau aku yang kurang bersyukur? Karena aku selalu kabur. Lihatlah, bahkan ketika mereka datang, senyum pun tak ...

Usailah Asa

Akhirnya kembali, sama seperti waktu itu. Tuhan, kupasrahkan pada-Mu. Engkau tahu yang terbaik untukku, Engkaulah yang membolak-balikkan hati. Barangkali bertahan di sini memang jalanku dan itu yang terbaik untukku, Engkau akan mempertahankanku di sini. Namun jika memang ini sungguh buruk bagiku, Engkau mampu membelokkanku dengan segala cara-Mu. Tuhan, aku pasrah. Telah lama kuterbuai dan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana, yang semakin tak jelas arahnya. Aku lelah berada dalam kegamangan, aku letih berputar dalam kegetiran. Dalam lubuk hati kecilku, aku berharap mereka berusaha mempertahankanku. Nyatanya aku sekarang yakin bahwa Engkau ciptakan kami sebagai makhluk individu. Yang mengejar sesuatu untuk diri sendiri. Mereka tidak akan memaksaku bertahan. Mereka membebaskanku. Pun mereka-mereka yang lain. Aku punya kebebasan memilih; namun sekarang kupasrahkan pada-Mu Tuhan, kemanakah kaki ini akan memilih langkahnya. Engkau dapat pertemukan aku dengan siapapun,...

Balada Seorang Penari

Image
"Inilah cinta seorang penari" ***           Tangan                Men                   cuat                      di                        at                        as                      penari Kami terus menari, Tiada berhenti Seolah kami tak peduli lagi Kami terus berlari, Mengejar mimpi-mimpi Meski ragu lantaran tak pasti Kami terus bernyanyi, Pada terbit dan tenggelam mentari Iringi siang dan malam yang berganti Mengisi kosong yang ada di hati      Nihil.           Sampai mati           Akan terus menari     ...

Kala Sepi Mencekat

Kala sepi mencekat Apa yang dapat kuperbuat Hatiku dirubung lalat; Yang belatungnya menggeliat. (*) Barangkali aku sempat Memekik, meraung, menyayat Luka dalam yang kudekap erat Hingga sekarat-- Berkarat. Bersama sajak yang tengah kubuat, Aku menunggu surat Dengan secarik kertas yang terlipat Dalam amplop yang tertutup rapat Datang lamat-lamat, bawakan ayat-ayat (*) Rindu adalah sepi yang mencekat Rasa pahit juga sepat Tambah kopi makin nikmat Sakau dekatkanku pada kiamat (*) Bejat!   --Kauka