123, 1234

Jangan menatapku terlalu tinggi.
Aku tidak ada di atas sana, yang kaulihat hanya refleksiku. Proyeksi yang aku ciptakan.
Aku di bawah sini. Di dalam lubang kelam yang pernah kutinggali sebelum mereka datang menolongku. Saat mereka pergi, aku kembali melompat, jatuh ke dalam lubang dalam. Menikmati pesta pora dalam kegelapan.
Kau ada disini. Kau menatap langit, melihat wajahku, seolah-olah aku ada di atas sana--tidak!

***

[1]
Barangkali ini munafik, seperti yang dia bilang.
Aku ingin menipu diri dengan tersenyum di hadapan cermin. Supaya kulihat wajah bahagiaku begitu menyenangkan, walaupun munafik, aku tak peduli. Walau menipu, biarlah! Aku ingin tersenyum dan menari.

[2]
Barangkali ini munafik, seperti yang dia bilang.
Aku ingin jadi orang baik.
.
.

[3]
Namun, barangkali tidak ada yang peduli.
Tentang kekanakanku ataupun dewasaku.
Atau aku yang kurang bersyukur?
Karena aku selalu kabur.
Lihatlah, bahkan ketika mereka datang, senyum pun tak kaulemparkan!
Sumpah serapah yang kaubatin, adalah untukmu sendiriii!

***

Tik.
Tok
Tak.
Kut.

Kutulis sajak tentang sumpah serapah.

[1]
Sumpah
Serapah
Sampah
Sempurna.
Sempurna bukan milik kita
Sempurna tunggal milik-Nya
Berproses adalah satu-satunya sempurna yang dianugerahkan kepada kita
Mengapa kaumenuntut Yang Mahakuasa?

[2]
Sempurna
Sampah
Serapah
Sumpah.
Sumpah demi diriku sendiri
Yang hanya mampu mengiri
Terseok berjalan, berupaya berdiri
Lalu berlari sambil menari

[3]
Serapah
Sumpah
Sempurna
Sampah.
Kaulah sampah itu, kata cermin
Usaikanlah kesombonganmu, kau bukan pemimpin
Sembunyilah kau di dalam lamin!
Usah berpikir, telan aspirin

[4]
Sampah
Sempurna
Sumpah
Serapah.
Sumpah serapah kasar kutumpah dalam kata, membuncah.
Geram.
Deram.
Malam.
Temaram.
Dalam kegelapan aku menikam
Sembilu di wajahmu
Sisa asa di dalam kalbu
Ketakutan yang membelenggu--
Adalah aku
Adalah engkau.




Yogyakarta, 25 Mei 2017

Ditulis di
Kota berhati nyaman
Dengan hati tanpa rasa aman

Comments