Percakapan dengan Telaga

Halamanku sepi lagi. Burung-burung, lebah, kumbang, bahkan kucing, tak lagi mampir walau barang sesaat. Sepi, memang. Namun kupikir, justru inilah saatnya aku bisa menatap dalam-dalam telaga di tengah halamanku. Supaya aku bisa melihat refleksi diriku, sambil bercakap-cakap dengan mentari dan rembulan yang wajahnya terpantul di permukaan telaga.
Duhai, mentari, rembulan; duhai wajah yang terpantul di riak air telaga. Tidakkah dirimu lelah, terus mengorbit, pancarkan cahaya, pantulkan cahaya; ceritakan dirimu, tanggapi yang lain.
Barangkali kau belum sanggup mengatasi gejolakmu, emosi yang terbendung, pun kesepian. Bersabarlah. Jangan cepat memutuskan, jangan gelap mata. Berpikirlah dengan waras, gunakan rasionalitasmu. Apalah arti cinta dalam usia sedini dirimu.
Lembut sinar rembulan, mengelus pipiku malam ini. Buatku ingin ceritakan semua; izinkanlah aku menikmati malam kesendirianku.
Duhai, rembulan. Sungguh, aku belum mengerti mengapa kami--lelaki dan wanita, memang diciptakan begini. Jikalau lelaki hanya bisa menggenggam sebuah pikiran, wanita memiliki lingkaran dengan titik sudut berupa pikiran-pikirannya. Di saat lelaki cenderung mampu mengatasi dirinya dengan logika, wanita justru memiliki emosi yang meluap-luap.
Mengapa sebagian lelaki mampu bertingkah demikian: sekadar pancingan berhadiah.
Mengapa sebagian wanita mudah berharap, mengharapkan kondisi yang meyakinkan.
Aku ingin melompat ke telaga saja. Indahnya yang fana telah membuaiku.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri