Laut
Saat purnama tiba di puncaknya dan air laut berada pada keadaan pasang tertingginya, aku justru memilih untuk berjalan di pesisir, membiarkan kakiku terendam asinnya air laut dan bayangan tubuhku terefleksi di atas permukaannya.
Kemudian pagi menjelang, air laut mulai surut; aku yang tak mau lepas dari air laut karena sudah kepalang basah justru mengikuti surut laut. Menjauhi pesisir. Semakin jauh sampai aku tak sadar kini ada di mana.
Laut tetap cantik dengan pesonanya, sementara fajar menyingsing dan aku kehilangan daratan. Kakiku semakin lelah untuk menopangku berdiri. Air setinggi leher; aku harus tetap bernapas.
Namun diri ini semakin lelah. Matahari yang telah terbit, burung-burung yang terbang bebas di angkasa, langit biru, dataran hijau...
Ah, manusia di tengah laut sama halnya dengan ikan di tengah darat. Sekali habis napasku, usailah semua.
Kucelupkan kepalaku ke dalam laut, lalu kusaksikan betapa indahnya pemandangan di bawah laut. Kusadari bahwa ini adalah fana, tetapi apa yang dapat kuperbuat? Kembali ke darat pun aku tak sanggup, sebab tidak ada tangan yang bisa menarikku kembali ke daratan.
Atau mungkin bukan tidak ada? Akulah yang menepis tangan-tangan itu.
Dan aku terjebak dilema untuk berenang kembali ke daratan atau membiarkan diri ini terseret hingga ke lautan lepas.
Terbujuk rayu pemandangan indah di bawah sana, aku pun menyelam. Semakin dalam.
Tanpa tahu kapan kudapat kembali.
Angan semakin hilang seiring gelap lautan dalam.
Comments
Post a Comment