Usailah Asa

Akhirnya kembali, sama seperti waktu itu.
Tuhan, kupasrahkan pada-Mu. Engkau tahu yang terbaik untukku, Engkaulah yang membolak-balikkan hati.
Barangkali bertahan di sini memang jalanku dan itu yang terbaik untukku, Engkau akan mempertahankanku di sini. Namun jika memang ini sungguh buruk bagiku, Engkau mampu membelokkanku dengan segala cara-Mu.
Tuhan, aku pasrah.
Telah lama kuterbuai dan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana, yang semakin tak jelas arahnya. Aku lelah berada dalam kegamangan, aku letih berputar dalam kegetiran.
Dalam lubuk hati kecilku, aku berharap mereka berusaha mempertahankanku. Nyatanya aku sekarang yakin bahwa Engkau ciptakan kami sebagai makhluk individu. Yang mengejar sesuatu untuk diri sendiri.
Mereka tidak akan memaksaku bertahan. Mereka membebaskanku.
Pun mereka-mereka yang lain. Aku punya kebebasan memilih; namun sekarang kupasrahkan pada-Mu Tuhan, kemanakah kaki ini akan memilih langkahnya.
Engkau dapat pertemukan aku dengan siapapun, bagaimanapun, dekatkan aku dengan dunia manapun. Kuasa-Mu tak berhingga--aku yang takabur telah meragukannya.
Tuhan,
Dekap aku dalam peluk erat-Mu.
Penuhi kekosongan hatiku, usir sepi yang menyedot habis asaku.
Apalah arti memiliki,
Jika tubuh ini pun bukan milik kami sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah