Tabu

"Mengapa ada saya di sini?"

***
Kiranya, itulah pertanyaan yang terlontar dari dalam lubuk hati gadis itu. Ia tengah duduk di atas lantai, berdampingan dengan seseorang yang berumur sekitar delapan tahun lebih tua darinya. Pun orang-orang di ruangan itu, kira-kira umurnya lebih tua sekitar sepuluh tahun darinya. Agaknya ia merasa asing di sana. Tetapi suasana syahdu malam itu, menyenangkan buat dirinya.
Dari sudut matanya, terpantul dua musisi yang menyanyi di depan sana. Yang satu wanita berambut pendek, dengan suara yang lembut dan kerasnya menyesuaikan emosi lagu yang di bawakannya. Yang satunya lelaki berambut panjang juga beruban, dengan gitar akustik di pangkuannya serta mikrofon di dekat bibirnya untuk menyanyikan suara pengiring. Mereka membawakan musikalisasi puisi kesukaan gadis itu--inilah yang membawanya ke sana.
Tetapi ini tidak biasa.
Ini malam Ramadhan, dimana ia seharusnya di rumah. Beribadah dengan khidmat, mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang diyakininya. Berdoa lalu bercucuran air mata penyesalan atas kelakuannya. Sebagaimana mestinya; sebagaimana yang ia lakukan selama tiga tahun sebelum ini.
Tetapi nyatanya tidak.
Gadis itu berada di sana, di belakang wanita berambut seleher sehingga tampak tato Bunda Maria di tengkuknya. Di samping kanannya, wanita lain yang tak dikenalnya menggenggam sebotol minuman keras yang telah habis dengan tangan kirinya. Sementara di sebelah kiri gadis itu, lelaki berambut gondrong nan gimbal duduk menikmati nyanyian dan iringan musik dengan khidmat.
Ah, kalian mungkin langsung berpikiran macam-macam ketika mendengar tato, minuman keras, dan rambut gimbal. Seperti aku sebelum menikmati tempat semacam ini.
Getar gawai di genggaman pecahkan lamunan gadis itu. Tiga kata dalam sebuah kalimat tanya dari Ibu: "tadi tarawih nggak?", mengacaukan pikirannya.

Mengapa
Saya disini?

Ditutupnya kembali sarung telepon genggamnya. Dibiarkannya dirinya terhanyut dalam alunan musik syahdu.
Rusak sudah.

Teringat akan tanya dari orang-orang baik itu: "tidakkah mereka yang ragu-ragu itu, lelah dan gelisah?"

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri