Sepotong Percakapan (Teks) Tadi Malam

"Mungkin ini gara-gara saya patah hati, ya."
"Ha? Patah hati kenapa? Lu ditolak?"
"Kagak, ditolak mah gak sesakit ini.."
"Terus?"
"Ini gebetan saya ngaku, dia udah punya pacar. Pacarnya cewek."
"Anjir! Doi lesbi? Atau biseks?"
"Lesbi. Mana dia sempet ngode-ngode lagi sama saya."
"Ngode gimana?"
"Titip salam sama keluarga saya, lah. Ngajak nge-date. Tapi yang penting sih, saya punya prinsip. Kalo doi punya pacar kan, saingan saya cuma satu. Sekali jalan, ngapain berhenti di tengah jalan, hehehe."
"Jadi lu tetep ngegas nih? Emang dia mau sama cowok?"
"Yaa ngegas dikit-dikit. Pacarnya dulu cowok."
"Ooh, jadi sambil tetep nge-keep doi, lu sambil ngelirik yang lain? Iya mah, mending cari yang lain aja.."
"Susah, belum ada yang menggetarkan hati. Hahaha!"
"Dasar lu mah."
...
...
"Temen-temen disana lagi pada 420."
"Iya. Eh, gua mimpi buruk tau gak sih soal begituan."
"Mimpi buruk apaan tuh?"
"Gak inget detailnya gua, pokoknya gua masuk penjara gara-gara itu, hahaha."
"Lah, di penjara kan justru lebih banyak."
"Iya yak? Pokoknya ada gua ama temen gua, tangan kami diborgol gitu. Kamu hati-hati, ya..."
"Iya makanya, ya kamu gausah pake."
"Kagak mah gua. Tapi kamu percaya gak sih, kalo itu mendatangkan kerusakan ke tubuhmu?"
"Percaya, lah. Saya pun akui kalo minuman itu gak baik."
"Gua takut mati.."
"Itu sih, semua orang juga takut. Saya juga takut mati. Tapi saya lebih takut temen-temen saya pergi duluan, hehe."
"Dulu gua bingung, hal-hal kayak gitu sebenernya bener apa nggak..."
"Asal tahu dosis; segala yang berlebihan itu nggak baik."
"...iya, tapi setelah gua pikir-pikir, kalo gua punya keluarga, gua gak mau keluarga gua pake gituan. Gua takut mereka cepet mati. Ya walopun urusan mati Tuhan yang atur, sih."
"Hmm."
"Oi."
"Apa?"
"Gua masih belum bisa nerima keadaan gua yang sekarang."
"Yaelaah. Saya aja udah bisa. Santai, sih. Tunggu waktunya doang."
"Kamu juga dulu begini? Kayak gua?"
"Iya, lah. Saya dulu mikir, orang sukses ya mereka yang berprestasi. Rajin kuliah. Jadi mahasiswa aktif. Saya takut ketemu orang-orang yang seperti sekarang ini, sampai saya ketemu mereka. Saya melihat apa yang belum saya lihat sebelumnya.
Saya sempet mikir, kenapa saya ketemu mereka? Kenapa saya jadi begini? Mulai meragukan Tuhan sendiri, hehe.
Sampai saya ketemu jawabannya.
Soal agama, menurut saya, Tuhan itu satu. Kita memeluk agama yang berbeda-beda. Jadi nama, cara, dan bentuknya aja yang beda-beda.
Soal temen, ya saya menemukan arti keluarga di sini.
Saya nggak nyesel jatuh cinta sama seorang lesbian. Saya nggak nyesel jadi peminum, punya teman-teman pengguna."
"Soal Tuhan, yaa emang banyak sih yang punya pemikiran kayak gitu. Yang bikin gua ragu dan bingung adalah, kenapa Alquran nulis kalo dia yang paling benar, sedangkan yang lain keliru? Dengan keadaan, Alquran yang isinya seperti itu.
Gua bingung, sumpah.
Gua bingung kenapa ada di sini. Dulu gua sholat di masjid kampus ini, bilang ama Tuhan: kalo gua keterima, gua bakal rajin sholat di sini. Nyatanya?
Tuhan pasti tahu kalo gua bakal jadi begini. Kenapa Tuhan kasih saya ini? Apa alasan gua ada disini? Rasanya gua pengen pergi, ngulang semuanya dari awal lagi. Tapi kok mager ya kalo mesti cabut, haha!"
"Hmmm, yaa begitulah. Dulu gua juga gitu, pengennya rajin, hehe. Kenapa, ya? Setan aja berbuat satu kesalahan, langsung dijatuhkan ke neraka sama Tuhan. Jadi sebelumnya, neraka itu ada atau nggak, ya? Terus kalau ada, fungsinya apa?
Entahlah. Saya jarang baca kitab.
Tapi, ya, kayak kata mbak yang kemaren aja. Kalo kamu yakin bahwa ini salah, seharusnya kamu sudah pergi dari sini. Nyatanya? Kamu masih bertahan."
"Iya, bener..."
...
...
Makanya gua masih mikir juga; yakin gua mau bertahan? Gua mau cabut. Cabut pelan-pelan, mungkin.
Cukup. Cukup waktu gua abis buat ini. Berapa banyak kesempatan yang udah gua korbanin demi ini.



Ditulis pada era digital;
Dimana percakapan bukan lagi soal suara, melainkan teks yang dikirim melalui gelombang elektromagnetik.
Kaltim-Kaltara-Yogyakarta

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah