Posts

Terali

Image
Melangkah Dengan kaki dirantai Merebah Dengan duri di lantai Menebas Jerjak yang ditanam di jalan Meretas Sandi yang mengunci ucapan Memandang Panorama yang terhalang terali Menyadari bahwa lapang Adalah abadi untuk tak kembali Ruang; Satu-satunya kenyataan yang kumiliki Untuk kujelajahi Sebagai tempatku menyelisik Sampai nanti kauberbisik: "Aku pulang"

Sebuah Kisah (oleh) Butir Air

Image
Jabat tanganku, maka dinginlah yang akan kaurasakan. Karena aku adalah butir air. Aku adalah sebutir air yang menetes kala hujan. Entahlah, aku tidak sadar ketika masih bersemayam di atas awan sana. Tahu-tahu aku sudah jatuh, menari mengikuti ritme angin dan tarikan gravitasi. Kau tahu? Aku merasa sangat indah saat itu. Di saat mayoritas manusia tetap sibuk dengan aktivitasnya, sebagian lagi justru memilih menggilaiku. Lihatlah kepada para pecandu hujan! Mereka yang menulis bait-bait sajak, yang melantunkan lagu-lagu sendu, yang mencari inspirasi dari tetesan hujan, hingga yang sengaja menitikkan air mata dengan harapan basahnya wajah dapat tertutupi rintik hujan. Akulah pesona; Sang Hujan yang mereka nikmati! . Tetapi sungguh, itu hanya terjadi dalam sekejap. Seketika tubuhku menghantam daun di ujung ranting, tergelincir di tulangnya. Jatuh lagi kemudian terhempas ke atas tanah. Bersatu dengan butiran air lainnya dan partikel-partikel tanah. Tak lagi jernih. Kini akulah Si Ku...

Lamunan di Sudut Barat Daya Ruang Itu

Image
Entah mengapa, aku menyukai sudut itu. Sudut dimana aku bisa merasakan cahaya yang masuk melewati sela-sela kerangka besi. Sentuhan cahaya kepada tepi kerangka besi menghasilkan pembelokan, sehingga bayangan yang tercipta menjadi buram. Tumpang tindih. Membuatnya menjadi unik dan tidak biasa; aku suka. Melalui jendela itu, aku bisa melihat tanah di luar. Orang-orang yang memarkir kendaraan maupun yang melaju dari lapangan parkir itu. Langit yang cerah, berawan, ataupun hujan. Semua tampak dari jendela itu. Ketika semua tampak membosankan, aku mencoba membiarkan otakku berimajinasi, menerjemahkan, dan berpikir sepuasnya. . Aku melihat tanah. Tempatku bermula diciptakan, tempatku pulang ketika akhir hidupku nanti. Tempatku berpijak; sumber kehidupan setiap manusia. Saksi bisu sejarah yang tiada habis-habisnya. . Aku melihat aktivitas orang-orang di lapangan parkir. Mencerminkan siklus manusia yang selalu datang dan pergi. Orang datang, lalu pergi. Yang pergi bisa kembali, ...

Tentang Cahaya

Image
Cahaya putih, sebenarnya memiliki spektrum yang berwarna-warni. Sumber cahaya yang berbeda, akan menghasilkan spektrum yang berbeda pula. Meskipun cahaya yang dihasilkan tampak sama. Putih misalnya. Pun, kita sebagai manusia. Dengan fisik kita yang sama; dua mata, satu kepala, dan seterusnya (dengan asumsi tanpa cacat), Kita manusia, punya 'spektrum' masing-masing. Spektrum dengan susunan yang berbeda untuk masing-masing individu. Manusia seperti cahaya tampak yang belum diurai. Manusia bisa saja tampak sesederhana cahaya putih, tetapi sebenarnya menyimpan berbagai 'gelombang' dengan karakter yang berbeda-beda. *** Seperti inilah wujud cahaya langit yang sebenarnya. Citra di atas diambil dengan kamera ponsel, dari spektrometer buatan sendiri dan diarahkan kepada langit cerah tadi pagi. Sistem di atas menerapkan sifat cahaya yang dapat didifraksikan, dengan menggunakan permukaan CD yang tidak rata. Bicara soal langit... Ah, aku rindu menat...

Sepucuk Surat untuk Warna

Untuk Warna Hai, Warna. Warni ingin berkata sesuatu padamu. Tetapi dia tidak bisa bicara, maka izinkanlah aku yang mengutarakannya. Warni sudah lelah, Sayang. Menunggu waktu sampai kapanpun, dia takkan pernah siap mengatakannya karena memang tak akan pernah ada waktu yang tepat. Kau pun demikian; kau takkan pernah siap mendengarnya karena kau memang tak pernah mempersiapkannya. Kau tak mungkin pernah mempersiapkan kepergian Warni. Warni mungkin masih mencintaimu. Mungkin juga tidak. Ia telah memiliki dunianya yang bebas. Raga mengizinkannya mengeksplorasi diri meskipun itu bukan keputusan yang benar karena Warni mulai berjalan ke arah yang salah. Warni mulai tersesat. Matanya mulai buta semenjak Warna mulai rabun. Ah, iya, ia juga berkata bahwa ia tidak mau membawamu ikut serta dalam perjalanannya karena ia takut membuatmu tersesat. Sungguh, ia teramat takut membuatmu jatuh, menemui jalan buntu, atau terjerat belantara dan tak dapat kembali lagi. Cukuplah ia yang tersesat,...

Semoga Kau Tidak Bingung Membacanya

Aku bingung. Hanya bingung . Karena itu, jangan tanya kenapa aku bingung. Karena pertanyaan itu hanya akan menambah kebingunganku sampai tidak ada lagi yang dapat kujawab kecuali 'aku sedang bingung'. Ya, aku bingung, dan kupikir terkadang bingung tak memerlukan alasan. Sama halnya dengan pertanyaanmu tadi: "Mengapa kau bingung?" Bukankah pertanyaan itu sendiri menunjukkan kebingunganmu? Izinkan aku menjawab: "Sekarang, kenapa jadi kau yang bingung mengapa aku bingung?" "Karena kau membingungkan." "Kau tahu? Sekarang justru kau yang membingungkan." Hmmm. Aneh sekali. Kosong. Sepi. Sekosong langit-langit kamar Yang membatasiku dengan cakrawala Rinduku pada langit, kau tangkal

Ada Cinta dalam Santapan Kita

Jika kau ingin melihat cinta Maka datang dan nikmatilah Setiap jengkal dari langit biru biru biru biru awan biru biru matahari biru awan biru awan awan awan biru biru biru biru biru biru awan awan biru biru biru cerobong cerobong    atap genting penutup rumah bagian atas langit-langit dengan sedikit sarang laba-laba ---------dinding saja--hanya dinding----------- ------seperti itu seterusnya sampai ketika------ ada aku................jendela................dan dirimu duduk..................jendela.................pun duduk menyantap makanan terlezat di atas piring ini ...di meja makan yang hanya ada kita berdua... kemudian kuucapkan: "Selamat makan, sayang." "Kau terlalu banyak berkhayal," katanya. Aku tertawa. Dia melahap makanannya duluan.

Sekita Denganmu, Sendiri Diriku

Selengkung pelangi yang kubalik, Demikianlah senyummu yang berwarna-warni Sekabut tanya makna wajahmu, Menyisakan aku yang tak tahu Apakah masih bisa kumelihatnya lagi? . Sehening malam tanpa rembulan Kini kita terjebak kebisuan Sesepi lembar tanpa aksara Terasa hambar sejemu mengecap udara Udara yang tawar Bahasa menjadi tidak familiar bagi kita saat ini. Yogyakarta

Antara Teman dan Rekan

Seharusnya tadi sore saya kuliah, tetapi dosen tidak datang. Sebagai akibatnya, mahasiswa melakukan berbagai macam aktivitas yang dikehendakinya. Ada yang pulang sebelum waktunya, mengerjakan tugas, menonton anime , mengobrol, hingga berfoto. Saya sendiri memilih untuk mengajak bicara salah seorang rekan di kelas saya yang sebelumnya belum pernah saya ajak ngobrol secara personal. Saya tahu ia bukan lulusan SMA di angkatan yang sama dengan saya; ia lulus setahun di atas saya. Ia bahkan sudah berkuliah di kampus ini pada fakultas yang berbeda sebelum akhirnya bertemu dengan saya dalam fakultas yang menerima kami melalui ujian seleksi masuk perguruan tinggi pada tahun 2016 ini. "Kenapa ikut tes lagi? Dan kenapa masuk prodi (red. program studi) ini?" Tanya saya kepadanya. "Dari tahun lalu, aku memang memilih prodi ini sebagai pilihan pertama.. Tetapi jatuhnya di fakultas seberang, jadi kucoba jalani dulu, ternyata kurang cocok. Jadi daftar lagi tahun ini..." ...

Pernyataan, Ucapan

Di saat orang-orang ramai membuat vlog, ingin menjadi youtuber , aku justru ingin melanjutkan hobi yang telah lama kutinggalkan: menulis. Ya, rasanya dulu begitu mudah untuk menuangkan apa saja ke dalam rangkaian kata-kata, tanpa perlu memikirkan ini-itu seperti "Apakah tulisan ini cukup layak?", "Apakah cerita ini sudah cukup bagus?", "Apakah pesanku tersampaikan?", dan lain-lain. Mungkin cukup aneh karena dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini, aku telah mengisi blog ini dengan beberapa tulisan hasil 'nyampah' dari pikiran. Sebab tadinya, kupikir deklarasi semacam ini tidak akan dipentingkan oleh siapapun. Tetapi setelah kupikir-pikir lagi, mungkin tidak ada salahnya membuat pernyataan seperti ini. Oleh sebab itu, melalui entri ini, aku ingin meminta maaf sebelumnya karena mungkin setelah ini aku akan lebih rajin menyisihkan waktuku untuk mengisi blog ini dengan kicauan anak-anak pikiran yang berputar-putar di kepalaku dalam bentuk osil...