Tanya-Jawab-Cari-Pilih-Debat-Dalih

Kita bisa bertanya apa saja.
Mengapa aku di sini, di depanmu yang duduk termangu tanpa ekspresi. Bagaimana perasaan dapat timbul dan tenggelam. Apa arti hidup, apa arti mati. Mengapa aku mempertanyakan apa saja, bagaimana pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab. Mengapa gelisah, mengapa resah. Kenapa bersembunyi dari ketakutan yang kerap datang menerpa. Bagaimana caranya lari dari kekhawatiran, menuju kebahagiaan yang abadi. Apa arti abadi, apa arti fana. Mengapa tubuh yang basah terasa dingin. Bagaimana gelombang elektromagnetik merambat tanpa medium. Apa yang seharusnya kita lakukan, pikirkan, kemanakah pertanyaan-pertanyaan ini bermuara.

Kita bisa bertanya kepada siapa saja.
Kepada sosok idealis yang berpegang teguh pada keyakinannya. Kepada pemikir yang hobinya berkontemplasi. Kepada mereka yang menjalani hidup apa adanya, tanpa memikirkan sesuatu yang muluk-muluk. Kepada mereka yang tak bisa bicara. Kepada alam yang menjadi saksi bisu peradaban. Kepada hujan yang hanya basah dan memproduksi suara khas ketika berbenturan dengan apapun yang ada di bumi. Kepada daun yang baru tumbuh, menghijau, menguning, mengering, dan rontok. Kepada mobil-mobil di jalanan yang mengantre dalam kemacetan. Kepada milyaran manusia lain di bumi yang diperdebatkan bentuknya ini.

Konsekuensinya, kita bisa mendapati jawaban apa saja.
Bersiaplah karena jawaban itu fana; ia akan membuatmu memikirkan tanya berikutnya, lagi dan lagi.
Hidup soal pencarian.

Kemudian kita bisa menentukan sikap kita, apakah kita akan menerima jawaban, membuat jawaban, melanjutkan pertanyaan, ataukah berhenti.
Hidup soal pilihan.

Dan apakah jawaban atas pencarian jati diri? Bukankah pencari merupakan jati diri manusia.

***

Tahu-tahu aku ingat atas kalimat yang tak bosan-bosannya mengusikku.
Dengar:
L76GGa89bnMa.
A0LN477. A865, lp7E3 Hh69f2DZ?!

Kenapa tak paham perkataanku di atas? Kenapa kau bertanya?!
Tanyakanlah pada dirimu yang beranggapan bahwa diriku tak pernah benar-benar merasa bahagia karena selalu berada dalam keteraturan. Bahasa mengatur kita untuk berkomunikasi. Aturan huruf dan angka, kata dan frasa, klausa dan kalimat, menyambungkan ide-ide antar manusia--seperti yang kita lakukan saat ini. Meskipun memang pada masa praaksara, manusia pun bisa berkomunikasi dengan aturannya sendiri.
Keteraturan menjaga kita tetap menjadi diri kita, karena tiap atom menyusun struktur dalam keseimbangan yang tepat. Keteraturan melahirkan ilmu pengetahuan atas jawab yang disajikannya untuk memenuhi tanya manusia seperti yang kita lakukan saat ini.
Dan kautanya padaku, mengapa aku berdalih.
"Buat menenangkan diri saja," kubilang. Menghibur diri karena barangkali aku tak bisa lepas dari jeratan keteraturan.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri