'Hamba Nilai'-kah?

Tadi siang saya bertemu dengan dosen pengampu salah satu mata kuliah saya di semester sebelumnya, setelah menyepakati waktu pertemuan sebelumnya. Tujuan saya tak lain ialah sekadar mengetahui apa alasan beliau memberi saya nilai C, tidak ada maksud memperjuangkan nilai tersebut karena saya pikir saya memang pantas mendapat nilai itu.
Di awal pertemuan, saya memaparkan maksud saya mendatangi beliau. Saya jelaskan bahwa dalam pandangan saya, saya memang pantas mendapat nilai tersebut karena beberapa alasan. Saya pun meminta penjelasan dari sudut pandang beliau, sehingga selanjutnya saya mendapat evaluasi, masukan, dan motivasi baru. Bagaimanapun juga, tujuan awal saya berkuliah adalah untuk mencari ilmu, dan saya merasa puas bisa memperoleh ilmu-ilmu baru yang menarik ketika mengambil mata kuliah yang diampu beliau.
Malamnya, saya ceritakan pembicaraan dalam pertemuan tersebut kepada orang terdekat saya, yang menyarankan dan amat mendorong saya untuk mengagendakan pertemuan (dengan dosen) tersebut.
"Yaa.. beliau pun bahkan sempat bilang: 'sebenarnya nilai C Anda berbeda dengan C-nya ... (menyebut nama teman sekelas). Nilai Anda, C yang hampir B.'" Tuturku, setelah menceritakan pendapat-pendapat lain menurut persepsi dosen tersebut mengenai alasan mengapa saya mendapat nilai C.
"Lha, kalau dia sudah bilang begitu, kenapa nggak perjuangin nilaimu?! Minta, dong, supaya dapat nilai paling tidak C+, lah. Lumayan buat naikin IP-mu, kan," jawabnya. "Memang sih tujuanmu bukan untuk menaikkan nilai; kamu mau mendapat evaluasi, dan motivasi-motivasi baru. Tapi kalau memang beliau sudah membuka celah seperti itu, harusnya kamu perjuangin (nilaimu)! Kamu terlalu terpesona sama dosenmu itu, sih. Paling tidak, seharusnya menaikkan nilai menjadi salah satu agenda utamamu dalam pertemuan tadi," lanjutnya.
"Gimana, ya, aku mungkin masih percaya sama idealismeku: kalo hidup tuh, bukan buat ngejar nilai."
"Terserah, sih, tapi gimana? Nilai itu pengukur kuantitatifnya mahasiswa. Buat dapat beasiswa, studi lanjut, ikut internship, dan saat cari kerja, IPK-mu itu yang bakal dilihat. Orang-orang akan memandangmu dari situ, kan?!"
"Ya sudah, sih, masa aku mau minta nilaiku dinaikin lagi."
"Ya seharusnya kamu minta, sudah telat kalau sekarang. Masa kamu mau ngomong lagi, nggak, kan? Aku ngomong begini, juga, karena dosennya ngasih celah kayak tadi..."
...
.....
Dan saya teringat pada seseorang yang menyampaikan pada saya: lakukan saja dulu yang menurutmu benar.
Apakah dengan tidak menjadi 'hamba nilai', saya salah? Ataukah saya yang telah salah mendefinisikan 'hamba nilai', bahwa sebenarnya apa yang katanya seharusnya-saya-lakukan bukanlah representasi dari 'hamba nilai'?
Barangkali saya yang terlalu naif dan idealis, tetapi semudah itukah saya harus menelan ucapannya?
Saya tidak ingin terpaku pada angka-angka, tetapi pada kenyataannya memang manusia belajar angka-angka perhitungan dan rumus, sepanjang angka-angka dilewati jarum jam dan berganti di kalender, untuk mendapat angka-angka hasil studi yang akan digunakan untuk kerja sehingga dapat memperoleh angka-angka di atas lembaran bernama uang. Kehidupan mengajak serta diri saya untuk tergabung dengan sejumlah orang yang berada dalam siklus itu, sampai akhirnya memuja angka-angka yang fana.
Hmmm, tetapi hidup ini memang fana, bukan?
Dan bukan tak mungkin apabila suatu saat nanti muncul kejadian yang mengubah persepsi saya. Karena persepsi dibentuk dari pikiran, dimana pikiran tergantung pada informasi yang masuk, fakta-fakta yang diterima, serta informasi sebelumnya yang terkait. Persepsi bisa berubah seiring waktu, terutama di saat-saat seperti ini--saat-saat masih membentuk persepsi.

(*)
Dan saya teringat pada seseorang yang menyampaikan pada saya: lakukan saja dulu yang menurutmu benar.
--sedangkan saat ini, saya jauh dari kebenaran mendasar (menurut yang telah saya yakini selama ini).

Dan saya teringat pada seseorang yang menyampaikan pada saya: kamu cuma punya dua tangan, tidak akan cukup untuk menutup mulut mereka semua. Tanganmu itu hanya cukup untuk menutup telingamu.
--kontradiksi dengan perlunya keterbukaan pikiran untuk bisa menerima hal-hal di luar sana yang barangkali bisa membawa saya kembali kepada hal yang benar.

Ah, permasalahannya sebenarnya sederhana. Keraguan atas benar-salah itulah yang menjadi akar kecamuk pikiran saya saat ini. Karena saya telah jauh.
Jauh dari kondisi dimana seharusnya saya berada.


Sebenarnya
   Saya ingin berpikir sederhana
   saja.

Comments