(Akhirnya) Sebuah Tulisan
Tik.
Tik tik tik.
Sreeeeet--
Ctak!
hapus.
Ketik lagi, lalu hapus lagi.
***
PERINGATAN!
Terlalu banyak 'saya' dalam tulisan ini. Bila merasa ini tidak penting, tinggalkanlah. Apabila sebaliknya, terserah kausajalah.
--
Rasanya sudah lama saya tidak menulis. Yah, beberapa kali saya meluangkan waktu untuk itu, tetapi kemudian ada sesuatu hal di sudut pikiran saya yang lain, yang membisiki saya sesuatu sehingga pada akhirnya tulisan-tulisan itu hanya menjadi draft, atau bahkan pikiran-pikiran itu tak sempat tertulis sama sekali. Maka malam ini saya paksakan diri ini untuk menulis.
Menulis, buat saya, merupakan media untuk mengabadikan ide, momen, pikiran, hingga perasaan. Melalui menulis, saya dapat merunut isi dalam pikiran, menjadikannya tersistematis, sehingga menjadikan diri saya merasa lebih tenang. Melalui menulis pula, saya bisa mengekspresikan apa saja yang tidak bisa diekspresikan secara langsung. Ketika menulis untuk dipublikasikan kemudian, saya bisa memilih, apa yang ingin saya sampaikan dan apa yang tidak; serta bagaimana cara saya menyampaikannya, secara eksplisit atau menggunakan metafora. Menulis membuat kesendirian terasa seperti bercakap-cakap dengan pembaca--yang belum tentu ada--dan hal ini memberikan efek tenang.
Dapat saya simpulkan bahwa bagi saya, menulis adalah obat penenang.
Barangkali saya ingin berterima kasih kepada manusia-manusia kuno yang membuat simbol-simbol berupa aksara untuk berkomunikasi... Terima kasih!
Sekarang seharusnya saya menyalin catatan persamaan differensial tadi sore. Tetapi rasanya lelah, lelah sekali hari ini. Sampai-sampai rupanya tadi sore saya salah ingat hari. Haha. Dan saat ini, akhirnya saya menulis sesuatu yang tidak biasanya saya tulis.
Entahlah.
Sosok di pikiran saya tampaknya sudah lelah terpenjara oleh kungkungan idealisme yang saya ciptakan; ia menjebol paksa jeruji itu kemudian keluar dan mengambil alih kendali pikiran dan gerakan tangan saya. Ia memanfaatkan keadaan saya yang tengah kehabisan energi ini untuk menguasai jasad ini, lalu berbuat semaunya. Inilah hasilnya.
Ia, sosok yang saya tahan di dalam kerangkeng otak, mulai menguasai jasad ini. Seperti dulu. Bedanya, kali ini, ia membius sipirnya dengan obat penenang. Takut? Tentu saja. Tetapi ia adalah saya. Bagaimanapun juga, ia paling mengerti saya. Saya pun demikian.
***
Hei, sosok yang ada di dalam pikiran. Mari berbagi waktu saja, oke? Kali ini, waktu telah kuserahkan padamu.
Lihat saja lain waktu!
.
Salam,
Kumpulan atom temporer yang kerap bertanya 'mengapa?' dan hobi mencari jawaban. Yang sedang lelah atas persamaan differesial sederhana.
Comments
Post a Comment