Anak Perempuan, Musik, dan Orkestra
Anak perempuan itu telah jatuh cinta pada musik. Gelombang akustik yang keluar dari perangkat-perangkat pelantang, vibrasi senar gitar ketika dipetik, gesekan dawai pada senar biola, denting piano yang diketuk tari jemari, metronome yang selalu berfungsi dalam irama yang tepat, membran-membran alat musik ritmis yang ditepuk dan dipukul, aliran angin pada sela-sela lubang harmonika...
Terpadu dalam lagu. Harmoni dalam elegi.
(*)
Siang tadi, anak perempuan itu masuk ke dalam aula besar dengan banyak orang di dalamnya. Luar biasanya, meski orang-orang mengobrol, aula tidak bising. Bagaimana pula orang-orang memanipulasi gelombang akustik di dalam ruang? Rekayasa bangunan? Ah, menarik juga.
Tiba-tiba terdengar suara mikrofon sedang diuji coba. Layar lebar di kanan dan kiri podium aula yang semula menampakkan tampilan layar komputer, kini menayangkan siaran langsung suasana aula dalam real time. Tak selang berapa lama, layar lebar tersebut menampilkan wajah-wajah pemain orkestra bersama alat-alat musiknya yang mengilap di bawah sorot lampu temaram. Para pemain orkestra baru saja menempati sisi barat podium. Masing-masing dari mereka menyiapkan alat musiknya.
Lantaran tak menyangka akan adanya penampilan orkestra, anak perempuan itu terperanjat di bangkunya. Berusaha ia untuk bisa menyaksikan para pemain secara langsung, tetapi memang cukup sulit karena posisinya saat itu yang berada di timur podium, barisan kelima dari paling depan. Selain terhalang orang-orang yang duduk di depan dan arah timurnya, kamera-kamera, operatornya, dan panitia yang bolak-balik lewat, menutupi pandangannya ke arah para pemain orkestra. Sedikit sebal, tetapi, ya sudahlah.
Belum ada aktivitas apapun yang dimulai di dalam aula itu. Anak perempuan itu mengobrol dengan teman-teman di sebelahnya sambil makan roti cokelat. Menunggu apapun. Mikrofon semakin intens diuji coba. Tanda-tanda akan segera dimulai.
Cello mulai digesek. Deretan biola-biola itu juga. Oh, rupanya sang konduktor sudah berdiri di depan para pemain orkes, menggerakkan tangannya. Lagu Viva La Vida. Bukan lagu-lagu klasiknya Beethoven, Mozart, Bach, atau Tchaikovsky, rupanya orkestra membawa lagu-lagu yang lebih umum di telinga masyarakat Indonesia saat ini. Tetapi anak perempuan itu suka musik, ia tidak begitu peduli dengan genre. Diakuinya, aransemen musik itu cukup bagus dan enak didengar, meski entah mengapa terasa ada yang masih kurang mengena. Barangkali terletak pada permainannya yang sesekali kurang harmoni.
"Eh, aku penasaran. Konduktor itu bagaimana, sih?" Tanya seorang teman yang duduk di sebelah anak perempuan itu tiba-tiba.
"Apanya yang bagaimana?"
"Yaa... mereka menggerakkan tangannya, terkadang begini, lalu begitu, pasti ada maksudnya, kan. Apa, ya, maksudnya?"
Mata anak perempuan itu langsung tertuju pada konduktor. Ia tak menggubris pertanyaan tadi karena memang tidak tahu. Meskipun menyukai musik dan dapat memainkan beberapa alat musik, sesungguhnya ia tidak mampu membaca partitur. Mengerti aturan-aturan musik. Kunci-kunci mayor, minor, apalah. Ia hanya tahu main, paling-paling sekadar tahu do-re-mi dan naik-turun satu atau setengah nada. Dan mainkan sesuai tempo yang enak didengar saja; mana mengerti ia soal vivace, moderato, allegro, allegreto, adagio, dan lain-lainnya.
Kembali pada aula dan anak perempuan itu.
Kini matanya justru terpaku pada sang konduktor.
Di balik kacamatanya yang tebal, ada bola mata yang fokus pada pemain orkes di hadapannya. Rambutnya yang klimis tebal serta syal yang dikenakannya, bergoyang mengikuti irama gerakan tubuhnya. Konduktor menggerakkan jari, pergelangan tangan, lengan, bahu, dan sesekali memutar poros tubuhnya yang berdiri tegap dengan jas hitamnya untuk memimpin jalannya lagu. Tiap inci gerak tongkat di tangannya, seolah-olah sedang mengikuti gerakan tongkat penyihir yang hendak memunculkan sesuatu dari dalam musik yang dibawakan para pemain orkestra. Dan senyum itu--sesekali muncul ketika musik mulai terasa asyik--membuat bola mata anak perempuan itu terpaut pada sosoknya.
Dia memesona.
Namun perlu digarisbawahi bahwa ini hanya sesaat. Empat lagu yang dibawakan orkestra selesai sudah dimainkan semuanya. Dua lagu terakhir cukup bagus karena pemilihan lagunya, akan tetapi sungguh disayangkan sebab pemain biola utamanya sedikit tertinggal tempo di akhir lagu ketiga. Tetapi cukup; ini cukup menghibur hati anak perempuan itu dan sangat-sangat cukup untuk membuat rindunya pada musik semakin menggelora.
Aku juga mau main.
Comments
Post a Comment