Balada Angkringan dan Omelet
Aku cemburu.
Melihat bocah kecil itu menangis di atas matras, di depan gerobak angkringan sore itu. Kemudian bapaknya datang dan menyuguhkan sepiring sate usus kepadanya. Anak itu belum juga berhenti menangis, sementara kakak perempuannya asyik bercerita dengan ibunya sambil menikmati nasi kucing dan sate ati di meja makan mereka.
Kemudian lamunanku dipecahkan tawa dan olok-olokan orang yang duduk di depan, samping, dan serongku. Mereka saling bercanda, mengetawai satu sama lain, dan aku hanya bisa tersenyum mendengar lelucon mereka. Rasanya ada batas yang membuatku tidak betul-betul masuk dalam pembicaraan mereka. Aku juga ingin masuk ke dalam lingkaran mereka.
.
..
Terbang ke lamunan.
(*)
Ah!
Bawa aku kembali pada ketenangan.
Aku merinding, takut sendiri.
Aku mencoba memperbaiki apa yang kumiliki, tetapi mengapa justru aku memperburuk keadaan?
Apa yang bisa kuperbuat supaya mereka bahagia, mengapa aku terus-menerus mengecewakan mereka. Mengapa apa yang kuinginkan dengan apa yang seharusnya kulakukan, tidak berada dalam satu jalur yang dapat kutempuh sekaligus dengan sekali kayuh. Mengapa aku tak bisa memasukkan semua telur ke dalam keranjang. Selalu ada yang pecah.
Salahkah mencoba jujur.
Kautahu betapa payahnya aku memecah telur, kuupayakan agar telur yang kujaga dapat kaumasak menjadi omelet kesukaanmu. Tetapi justru kau terfokus pada pecahan cangkang yang tak sengaja tercampur ke dalam kocokan telur yang kupecahkan, kauinginkan supaya kubisa hasilkan omelet yang sempurna seperti dirimu. Namun kauperlu tahu, sekarang makanan kesukaanku tak lagi omelet! Aku berusaha untukmu--
PLAK!
Kautampar aku. Kutampar kembali pipiku sendiri. Sakit.
Aku tidak berusaha untukmu, aku berusaha memenuhi egoku supaya kausenang.
Tidak, bukan salahmu. Tidak, bukan egoku pula sebenarnya.
Jangan menangis lagi hanya karena anakmu tidak mau makan omelet lagi, tolong. Sungguh hidup bukan hanya soal makanan apa yang kita santap di piring. Kaubisa mengajari anakmu untuk menyukai makanan kesukaanmu, memasaknya, membeli bahan-bahan untuk membuatnya. Tetapi kautakkan bisa memaksa diriku untuk seumur hidup makan makanan kesukaanmu. Anakmu ini akan mencicipi berbagai hidangan ketika kau tak ada.
Izinkan kumencoba yang lain, semoga saja aku tak keracunan.
Kemudian lamunanku dipecahkan tawa dan olok-olokan orang yang duduk di depan, samping, dan serongku. Mereka saling bercanda, mengetawai satu sama lain, dan aku hanya bisa tersenyum mendengar lelucon mereka. Rasanya ada batas yang membuatku tidak betul-betul masuk dalam pembicaraan mereka. Aku juga ingin masuk ke dalam lingkaran mereka.
.
..
Terbang ke lamunan.
(*)
Ah!
Bawa aku kembali pada ketenangan.
Aku merinding, takut sendiri.
Aku mencoba memperbaiki apa yang kumiliki, tetapi mengapa justru aku memperburuk keadaan?
Apa yang bisa kuperbuat supaya mereka bahagia, mengapa aku terus-menerus mengecewakan mereka. Mengapa apa yang kuinginkan dengan apa yang seharusnya kulakukan, tidak berada dalam satu jalur yang dapat kutempuh sekaligus dengan sekali kayuh. Mengapa aku tak bisa memasukkan semua telur ke dalam keranjang. Selalu ada yang pecah.
Salahkah mencoba jujur.
Kautahu betapa payahnya aku memecah telur, kuupayakan agar telur yang kujaga dapat kaumasak menjadi omelet kesukaanmu. Tetapi justru kau terfokus pada pecahan cangkang yang tak sengaja tercampur ke dalam kocokan telur yang kupecahkan, kauinginkan supaya kubisa hasilkan omelet yang sempurna seperti dirimu. Namun kauperlu tahu, sekarang makanan kesukaanku tak lagi omelet! Aku berusaha untukmu--
PLAK!
Kautampar aku. Kutampar kembali pipiku sendiri. Sakit.
Aku tidak berusaha untukmu, aku berusaha memenuhi egoku supaya kausenang.
Tidak, bukan salahmu. Tidak, bukan egoku pula sebenarnya.
Jangan menangis lagi hanya karena anakmu tidak mau makan omelet lagi, tolong. Sungguh hidup bukan hanya soal makanan apa yang kita santap di piring. Kaubisa mengajari anakmu untuk menyukai makanan kesukaanmu, memasaknya, membeli bahan-bahan untuk membuatnya. Tetapi kautakkan bisa memaksa diriku untuk seumur hidup makan makanan kesukaanmu. Anakmu ini akan mencicipi berbagai hidangan ketika kau tak ada.
Izinkan kumencoba yang lain, semoga saja aku tak keracunan.
di Selasar Fakultas Seberang,
ditulis dalam pedih.
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete