Menulis Surel kepada Diri Sendiri
Jemariku beradu dengan sejumlah tombol yang terhampar di atas lapisan logam penutup mesin komputer lipat yang bukan milikku. Sudah lama sekali tidak melakukan ini; ah, aku rindu. Apa yang kulakukan? Sebetulnya, aku ingin mencoba menyelami diriku sendiri lagi. Sejauh ini, cara termudahku untuk berbicara dengan diri sendiri adalah dengan menuliskan setiap percakapan di dalam diriku. Menokohkan setiap peran di dalam kepalaku dengan memberinya nama. Mewujudkannya menjadi sebuah sosok agar mudah diidentifikasi. Aku pernah menjadi Kaku. Kemudian kunjungan rutinku ke Pohon melahirkan sesosok baru dalam diriku, Warni, yang selalu menentang apa yang selama ini Kaku pegang sebagai acuan hidup. Dimensi pikiranku pun penuh dengan pergelutan; selama ini ia lelah atas pertanyaan dan kemudian muncul peperangan antara Warni dan Kaku. Ditambah lagi dengan adanya tekanan dari luar yang terus mendukung atau menentang kedua sosok itu, tentu kekalutanku semakin dalam. Pertikaian Kaku dan Warni mem...