Posts

Menulis Surel kepada Diri Sendiri

Jemariku beradu dengan sejumlah tombol yang terhampar di atas lapisan logam penutup mesin komputer lipat yang bukan milikku. Sudah lama sekali tidak melakukan ini; ah, aku rindu. Apa yang kulakukan? Sebetulnya, aku ingin mencoba menyelami diriku sendiri lagi. Sejauh ini, cara termudahku untuk berbicara dengan diri sendiri adalah dengan menuliskan setiap percakapan di dalam diriku. Menokohkan setiap peran di dalam kepalaku dengan memberinya nama. Mewujudkannya menjadi sebuah sosok agar mudah diidentifikasi. Aku pernah menjadi Kaku. Kemudian kunjungan rutinku ke Pohon melahirkan sesosok baru dalam diriku, Warni, yang selalu menentang apa yang selama ini Kaku pegang sebagai acuan hidup. Dimensi pikiranku pun penuh dengan pergelutan; selama ini ia lelah atas pertanyaan dan kemudian muncul peperangan antara Warni dan Kaku. Ditambah lagi dengan adanya tekanan dari luar yang terus mendukung atau menentang kedua sosok itu, tentu kekalutanku semakin dalam. Pertikaian Kaku dan Warni mem...

Rendezvous

Aku akhirnya datang lagi. Ke depan pintu ruangan itu, aku datang dengan tangan hampa. Perlahan, kuketuk pintu yang menghadangku masuk ke dalamnya. Tidak ada jawaban. Mungkin mereka enggan menyambutku yang telah lama mengunci mereka di dalam ruangan itu. Atau mungkin mereka telah melupakanku. Atau jangan-jangan, mereka sudah mati. Ah, benarkah? Berhenti berasumsi, saatnya masuk. Kuputar gagang pintu yang telah berkarat itu. Sedikit demi sedikit, daun pintu terbuka, membiarkan udara kering di tempatku memasuki celahnya, menuju ruang gelap dan lembap. Pandanganku jatuh kepada kekosongan. Aku tidak melihat siapa-siapa di sana. "Warni?" Entah mengapa, nama itulah yang pertama kali kupanggil. Tidak ada jawaban. "Kaku?" Nama berikutnya dan tetap tidak ada jawaban. "Ini aku, Mirat. Mirat yang kosong tanpa bayangan, karena tidak ada apapun di hadapannya. Tidak ada kalian." Sahutku kembali. Lamat-lamat, aku mendengar jawaban. "Mengapa kembali ke si...

Ibu, Anakmu Bukan

Ibu, anakmu bukan lagi anakmu Sebab telah ia putus Hubungan yang katamu mengeluargakan Ia memohon maaf Atas segala ketidakjujuran Yang selama ini menghidupkannya Dari kejemuan hidup yang mengherankan Ia harus melakukan itu Ibu, anakmu bukan lagi putri yang kaukenal Sebab telah ia putar haluan pola pikirnya menjauhimu Ia telah pergi Meski raganya di sisimu (Yogya, 2018)

Dendam

Aku bisa merasakan cakaran kuku jemari tanganku di lenganku. Juga goresan gunting dan jarum pentul yang kuambil dari tempat pensilku. Aku bisa melihat kulit yang memerah, tetapi tidak darah. Kemanakah darah merah yang alirannya menggemaskan itu? Mengapa ia tak kunjung keluar? Sementara aku masih takut melukai lebih dalam lantaran khawatir merasa sakit. Aku hanya ingin melihat darah. Darah. Darah. Kemudian merasakan sambil menghirup aroma besinya. Aku bisa merasakan getaran di kepalaku saat aku membenturkannya ke dinding dan ke lantai. Tetapi suara keras itu menghentikanku dari tindakanku. Bum. Bum. Mati. Mari. Mari mati.

Sepenggal Kasih dalam Khayalan

"Aku rindu baumu," bisik perempuan itu kepada lelaki yang sedang menatap gawai di genggamannya. Lelaki itu seketika menoleh kebingungan. "Apa katamu?" Tanya lelaki itu. "Eh, tidak, tidak apa-apa, hehe." Lelaki itu kembali melanjutkan tarian jemarinya di atas layar sentuh gawainya. Perempuan itu mendengus, lalu menyandarkan kepalanya di atas bahu lelakinya, lalu memejamkan matanya. Ia membayangkan sedang pergi jauh untuk kemping dengan mobil, dimana lelaki itu telah menjadi suaminya dan lelakinya itulah yang mengendarai mobil mereka. Selanjutnya, imajinasinya melayang pada kunjungan mereka berdua ke rumah keluarga dengan memakai baju pasangan, dan perempun itu merapikan baju lelakinya sebelum berangkat. Perempuan itu membayangkan akan merengkuh lelakinya yang setelah menjadi suaminya, pulang dari kerja dan beristirahat di rumah. Sungguh, ia mendambakan akan mendampingi lelakinya sebagai pasangan seumur hidupnya suatu saat nanti. Lelakinya hanya m...

Bejatku

Image
Pernah pada suatu ketika, aku menanyakan bagaimana pandangan seorang teman terhadap norma-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat. Ia menjawab dengan pandangan pribadinya, kemudian bertanya balik: mengapa aku bertanya demikian. Aku bertanya atas dasar pencarian pembelaan terhadap apa yang kulakukan. Namun, jawaban itu justru kusembunyikan dengan pertanyaan balik: memangnya kenapa? Ia bilang, ia jadi mengkhawatirkanku. Ia berspekulasi macam-macam, khususnya tentang aku yang barangkali telah melangkah keluar dari norma-norma itu. Ia bahkan menduga satu nama yang juga berbuat hal di luar norma tadi bersamaku. Atas jawabannya, kukatakan padanya: "Kalau kaumendugaku baik, maka ia (nama-yang-kauduga) juga orang baik. Kalau kau mendugaku nakal, begitu pula ia. Bagaimana menurutmu?" "Hmmm. Kupikir kau baik... berarti dia juga baik-baik saja?" "Yaaa, kan kubilang terserahmu mau menduga bagaimana." Sesungguhnya aku tidak begitu peduli bagaiman...

Kampus, Tempat Apa?

Pertama-tama, perlu saya tegaskan bahwa kampus yang saya maksud dalam tulisan ini adalah universitas, sebuah wadah civitas akademika yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya. Ataukah mungkin ada yang saya lewatkan? Yang jelas, pada tulisan ini, saya memang hanya akan fokus pada subjek mahasiswa dan "pemegang kebijakan kampus" yang mungkin masih kurang saya pahami sosoknya. Sebab terutama di kampus saya, kadangkala kebijakan ditetapkan oleh pusat (rektorat), tetapi pada akhirnya ditentukan oleh fakultas kemudian diwujudkan oleh jurusan. Masing-masing tingkatan tersebut memiliki pandangan dan keberlakuannya sendiri-sendiri, sehingga fakultas saya mungkin memiliki kebijakan yang berbeda dengan fakultas lain. Semalam, saya menonton pementasan teater bersama mahasiswa S2 Fakultas Ilmu Budaya dan lulusan S1 Fakultas Teknik. Saya sendiri saat ini sedang mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa S1 Fakultas Teknik. Rupanya, teman saya yang merupakan mahasis...

Bumi Sehabis Hujan

Image
Tanah basah dan dedaunan yang tergeletak di atasnya, bersua dalam keteraturan alam, menghasilkan aroma cinta-Nya pada semesta. Berkas-berkas foton dari matahari bertumbukan, mencari celah untuk ditembus dan dihamparkan cahayanya. Menimbulkan bayangan yang dicintai atas keteduhannya. Menimbulkan terang yang dicintai atas warnanya. Angin berembus semilir, membisikkan kasih-Nya kepada siapa saja yang merasakan sentuhannya. Namun Ia berkata lain, keteraturan adalah ketidakteraturan yang teratur. Manusia timbul dan berkembang, dengan segala alasannya: cinta, kemajuan peradaban, inovasi, ego, bahagia, menghindari pedih, bumi, semesta, masa depan, generasi penerus, nama, sejarah, semua! Meningkatkan laju kenaikan entropi semesta. Ketidakseimbangan yang teratur lajunya. Aku manusia, malu ada di dunia. Melakukan kesenangan yang kata mereka tidak ada artinya. Kau tak mengerti, sebagaimana aku tak memahamimu... Melangkah bersama bukan jaminan saling paham, apalagi tidak bersama-sama....

Now and Tomorrow

...and finally, I come to this state Being a pervert jerk whom they left Back to the loneliness If there was no you Please stay aside, I beg Give me a light kiss under the starry night Hug me when I close my eyes and smile These feelings were lingered on me You are the only one whom I look for To be loved, for now Tomorrow never knows

Kemarin Sore

Senja segera tiba, namun jingga tak kunjung datang. Kami bertiga duduk di sana, menghadap ke arah barat namun dengan tatapan yang kosong. Lembah yang semula membatasi kami dengan sungai, kini telah ditimbun menjadi bakal jalanan. Tempat itu tak lama lagi akan menjadi terlalu terekspos untuk dijadikan tempat bercengkrama dan tinggal hanya akan menyisakan kenangan. Sebatang rokok telah habis ia isap, berkat lelakinya yang pergi bersama perempuan lain. Air mata telah habis kami tumpahkan bersama. Kami telah habis dengan masalah masing-masing. Kecuali perempuan yang duduk di tengah, matanya kering dari air mata. Namun bila kausingkap lengan bajunya, akan kaulihat luka di tangannya sebab depresi di benaknya. Bicara soal depresi; bicara kesehatan mental. Apakah kita pernah betul-betul sehat? Senja berangsur gelap, satu persatu serangga bermunculan dari balik semak-semak. Kami meninggalkan tempat itu, lalu aku berpindah ke suatu tempat dimana perhelatan pembukaan pameran sedang diselen...