Kemarin Sore
Senja segera tiba, namun jingga tak kunjung datang. Kami bertiga duduk di sana, menghadap ke arah barat namun dengan tatapan yang kosong. Lembah yang semula membatasi kami dengan sungai, kini telah ditimbun menjadi bakal jalanan. Tempat itu tak lama lagi akan menjadi terlalu terekspos untuk dijadikan tempat bercengkrama dan tinggal hanya akan menyisakan kenangan.
Sebatang rokok telah habis ia isap, berkat lelakinya yang pergi bersama perempuan lain. Air mata telah habis kami tumpahkan bersama. Kami telah habis dengan masalah masing-masing. Kecuali perempuan yang duduk di tengah, matanya kering dari air mata. Namun bila kausingkap lengan bajunya, akan kaulihat luka di tangannya sebab depresi di benaknya.
Bicara soal depresi; bicara kesehatan mental. Apakah kita pernah betul-betul sehat?
Senja berangsur gelap, satu persatu serangga bermunculan dari balik semak-semak. Kami meninggalkan tempat itu, lalu aku berpindah ke suatu tempat dimana perhelatan pembukaan pameran sedang diselenggarakan. Sendirian, aku duduk di baris ketiga dari paling depan. Tepat di sebelah perempuan tinggi berkemeja putih, celana pendek, dan sepatu kets abu-abu. Tak lama setelah itu, baru kuketahui namanya: Fey. Seperti sebagian orang sebelumnya, ia mendugaku sebagai anak sekolah. Bukan masalah berarti bagiku.
Ketika pintu pameran dibuka, aku memasuki ruang berdinding putih dan berlantai keramik putih. Di sana, pemain musik memainkan tiga instrumen musik yang belum kuketahui namanya. Yang satu alat musik melodis, yang dua ritmis. Sangat indah.
Aku mengamati lukisan yang dipajang satu persatu. Langkahku terhenti pada satu karya interaktif. Pada karya itu, terdapat tulisan cut to feel dan background silakan direspon. Awalnya, tidak ada yang berani mengukir karya tersebut dengan alat yang telah disediakan di atas meja yang ditaruh tepat di bawah karya tersebut. Tak lama kemudian, datang seorang pria berumur 40an yang kemudian langsung meraba karya tersebut. Menariknya, ia melakukannya dengan tangan kiri, sebab tangan kanannya ia gunakan untuk menutup telinga kanannya. Sambil melakukan hal tersebut, bibir Sang Bapak komat-kamit namun tiada satu kata pun meluncur dari mulutnya. Entah apa yang ia pikirkan atau katakan. Beberapa orang justru menghampiri, mengamati karya dan Sang Bapak.
Sang Bapak kemudian mengambil alat yang disediakan kemudian mengukir sebagian latar belakang karya tersebut. Hanya sedikit, lalu ia pergi. Akhirnya, tindakannya disusul oleh orang-orang yang penasaran. Aku juga. Menarik.
Comments
Post a Comment