Bumi Sehabis Hujan

Tanah basah dan dedaunan yang tergeletak di atasnya, bersua dalam keteraturan alam, menghasilkan aroma cinta-Nya pada semesta. Berkas-berkas foton dari matahari bertumbukan, mencari celah untuk ditembus dan dihamparkan cahayanya. Menimbulkan bayangan yang dicintai atas keteduhannya. Menimbulkan terang yang dicintai atas warnanya. Angin berembus semilir, membisikkan kasih-Nya kepada siapa saja yang merasakan sentuhannya.
Namun Ia berkata lain, keteraturan adalah ketidakteraturan yang teratur. Manusia timbul dan berkembang, dengan segala alasannya: cinta, kemajuan peradaban, inovasi, ego, bahagia, menghindari pedih, bumi, semesta, masa depan, generasi penerus, nama, sejarah, semua!
Meningkatkan laju kenaikan entropi semesta.
Ketidakseimbangan yang teratur lajunya.
Aku manusia, malu ada di dunia. Melakukan kesenangan yang kata mereka tidak ada artinya.
Kau tak mengerti, sebagaimana aku tak memahamimu...
Melangkah bersama bukan jaminan saling paham, apalagi tidak bersama-sama...
Kau yang menua dan aku yang membusuk, tak akan menjadi lebih baik bila seperti ini terus.
Bumiku, bumimu, persetan! Bumi siapakah bumi ini?
Apakah pemeran lakon seperti kita bisa mengubah takdir?


Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri