Kampus, Tempat Apa?
Pertama-tama, perlu saya tegaskan bahwa kampus yang saya maksud dalam tulisan ini adalah universitas, sebuah wadah civitas akademika yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya. Ataukah mungkin ada yang saya lewatkan? Yang jelas, pada tulisan ini, saya memang hanya akan fokus pada subjek mahasiswa dan "pemegang kebijakan kampus" yang mungkin masih kurang saya pahami sosoknya. Sebab terutama di kampus saya, kadangkala kebijakan ditetapkan oleh pusat (rektorat), tetapi pada akhirnya ditentukan oleh fakultas kemudian diwujudkan oleh jurusan. Masing-masing tingkatan tersebut memiliki pandangan dan keberlakuannya sendiri-sendiri, sehingga fakultas saya mungkin memiliki kebijakan yang berbeda dengan fakultas lain.
Semalam, saya menonton pementasan teater bersama mahasiswa S2 Fakultas Ilmu Budaya dan lulusan S1 Fakultas Teknik. Saya sendiri saat ini sedang mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa S1 Fakultas Teknik. Rupanya, teman saya yang merupakan mahasiswa S2 ini dulunya juga pernah beraktivitas dalam komunitas teater yang semalam saya saksikan.
"Dulu aku ikut teater ini juga, tapi teater ini dulu sempat mati. Aku baru tahu kalau sekarang aktif lagi dan disambut penonton sebanyak ini," jelasnya.
"Memangnya dulu kenapa sempat mati, mas?" Tanyaku.
"Yah, begitulah. Sejak akses kampus dibatasi: perizinan dipersulit, loker (re: sekretariat) dirubuhin, kegiatan di luar akademik semakin dibatasi dengan kampus yang semakin dibatasi jam aksesnya... kami kehilangan tempat untuk bertemu dan berkumpul. Dulu, kampus ini menjadi pusat mahasiswa seni di Jogja. Di tempat ini banyak lahir musisi, penulis, sampai pemain teater. Tapi semenjak akses semakin sulit, ya begini jadinya. Kami pernah ke Taman Budaya, tetapi di sana kan tempat untuk tampil. Untuk latihan, sulit sekali," keluhnya.
"Iya juga sih, di sini kurang ada tempat umum seperti taman... orang-orang cenderung bertemu di kafe, dan mana mungkin melakukan latihan teater di sana, haha."
"Iya, kan? Kamu, mahasiswa Teknik (yang kebijakan kampusnya tidak seketat itu), masih lebih enak. Kamu bisa bertemu seniman-seniman yang tidak sejurusan denganmu karena mudahnya akses berkegiatan di kampus. Pun, kalian lebih bebas mau nge-lab kapan saja. Kami, anak sastra, masa mau mentas saja dipersulit? Dulu, dimana-mana ada panggung. Di atas meja kantin, bahkan di atas tower itu, mahasiswa bisa membacakan puisi. Sekarang, coba kamu pikir. Dengan adanya batasan itu, mahasiswa ini akan jadi apa?"
Mau tidak mau, pertanyaan itu membuat saya berpikir. "Apa, ya... mahasiswa akan manut terus. Tapi pintar. Terus, yaaa... mungkin ujung-ujungnya hanya akan jadi pekerja?"
"Nah, begitulah! Jadi tidak ada bedanya, kan, dengan mesin. Hanya mengikuti siapa yang mengendalikan. Kita akan jadi buruh."
"Iya, dan kita menjadi buruh-buruh cerdas."
"Menurutmu, kenapa kampus berlaku demikian? Demi nama baik kampus. Prestasi kampus dinilai dari seberapa cepat dan banyak lulusannya, bukan dari bagaimana bentuk lulusannya. Sebenarnya masih bisa ditinjau dari banyak aspek; yang tadi itu dari segi politik terutama terhadap pembatasan waktu lulus mahasiswa."
"Yaa, tetapi kalau soal pembatasan akses kampus, sebenarnya kan kita menyadari itu, dan bagi orang seperti kita yang ingin mengeksplorasi ilmu-ilmu lain, akhirnya kita bergerak sendiri ke luar kampus. Namun benar juga, sih, untuk orang-orang yang mobilitasnya terbatas, mungkin akan menjadi sangat sulit, sehingga akan memang sangat baik jika ada wadah pembelajaran itu sendiri di dalam kampus..."
"Nah, iya kan... jadi, kampus itu tempat untuk apa?"
***
Tolong bantu saya; kampus, tempat apa?
Mengapa menyebut diri sebagai lembaga pendidikan tetapi membatasi ruang dan waktu mahasiswa di dalamnya untuk berkegiatan dengan tujuan mengenyam pendidikan?
Comments
Post a Comment