Posts

/Kesal/ahan, /Kekal/ahan, dan Am/arah/

/1/ Kesalahanku adalah Kesal akan kekalahanku Kemudian aku bertahan Kekal dalam kekalahanku Walau jadi lahan kewalahan /2/ Rebah Jadi marah Aku hilang arah Berdarah melawan pasrah Bernanah jadi lara Wajahmu merah merona merana Mataku biru sendu tersedu Kita putih letih bersedih Sembunyi dalam hitam padam tentram    Sandiwara kita

Aku Kering; Bawakan Air dan Akan Kutumbuhkan Bunga Untukmu

Kala aku mendengarkan lagu-lagu itu, seketika memoriku menyeruak. Tentang rumah dan keluarga yang satu lagi. Yang pernah selalu menjadi tempat untuk pulang. Tentang bagaimana kami beraktivitas bersama. Tentang kehidupan yang diajarkan. Diri ini telah berubah. Ya, perubahan memang selalu terjadi seiring berjalannya waktu. Tetapi kupikir ini bukan perubahan yang baik, dan aku tidak sanggup kembali ke idealisme yang dulunya kuyakini. Akankah aku mengulang siklus yang sama? Terjerembap dalam kegagalan diri, kemudian bertemu seseorang yang mampu menambatkan hati ini kepadanya. Setelah itu berpisah, hingga aku mundur, membentur tembok, dan tak bisa kemana-mana lagi. Satu-satunya jalan hanyalah pasrah sambil berdoa, kemudian aku kembali ke idealis yang kuanut. Apakah benar akan semudah itu? Ataukah aku memang tak bisa kembali? Sedang aku yang sekarang bukanlah lagi sama seperti dulu. Meski takdir sama menghantamku, respons diri ini belum tentu serupa. Bagaimana jika aku tak pedul...

Di Ambang Jatuhku

Dan sekarang, bagaimana bila aku jatuh? Adakah kebun bunga yang menghambatku berbenturan langsung dengan tanah? Akankah tanganmu merengkuhku ke dalam dekapanmu? Sedang aku terhuyung-huyung saat ini; Kupikir aku sebentar lagi akan jatuh, tetapi ke arah yang belum bisa diprediksi Siapa yang tidak takut jatuh? Siapapun takut terluka dan mati-- Aku juga. Tangkap aku, tolong? Atau aku yang jangan jatuh? Karena kalian hanya bermain di depanku Menikmati wahana lintasan yang kebetulan ada di depanku Dan kupikir, aku akan salah bila menjatuhkan diriku kepada seseorang yang hanya singgah untuk beranjak Tetapi kalau aku memang jatuh nantinya, Salah siapa?

Tentang Sejarah (Tulisan Random)

Ada berapa banyak orang yang telah Anda temui selama Anda hidup? Banyak, tentu banyak sekali. Di usia yang hampir menginjak 18 tahun ini, saya sendiri telah bertemu banyak orang dengan berbagai jenis. Walaupun tidak saya pungkiri, masih lebih banyak lagi jenis manusia yang belum pernah saya temui atau bahkan sekadar saya pikirkan. Akhir-akhir ini saya mulai mendekati ilmu-ilmu sejarah; berawal dari rasa penasaran seorang teman perihal kebudayaan yang berada di suatu wilayah. Hal itu membawa saya untuk mempelajari kebudayaan--dengan batasan "religi"--masyarakat di wilayah itu, sehingga saya juga perlu mempelajari sebagian sejarah yang melatarbelakangi kepercayaan masyarakat tersebut. Kemudian, dari pengalaman itu sendiri, dalam diri saya muncul pertanyaan-pertanyaan baru. Seperti, sebenarnya sejarah saya sendiri bagaimana? Saya ini orang mana, dari suku apa, ras apa; intinya mengapa saya bisa menjadi suatu entitas dengan nilai historis seperti itu? Selama ini mata saya ...

Sebenarnya, Orang Lainlah yang Memanusiakan Kita

Image
"Pemikiranmu kejauhan." "Ya nggak tahu kalau suatu saat nanti. Yang penting sekarang dijalani. Untuk apa dibuat terlalu serius?" "Pola pikir kamu aneh. Prinsip hidup kamu nggak jelas. Lantas, kamu mau seperti ini terus? Kalau saran saya sih, ubah saja. Ribet banget sih hidupmu? Saya kasihan sama cowokmu, atau orang yang deketin kamu nanti." "Aku kasihan sama kamu. Kamu menolak semua yang datang dengan pemikiran bahwa semua laki-laki itu sama. Kalau begini terus, lama-lama kamu jadi nggak peka. Kamu nggak tahu mana yang sebenarnya tulus ke kamu. Kasihan di kamu, kasihan di merekanya juga." "Sebenarnya bebas, sih. Terserah kamu." "Jangan terlalu ribet." "Ya kalau aku sih, lihat sekarang aja. Kenapa harus mikir sejauh itu." Ah. Kenapa saya jadi memikirkan omongan-omongan itu. Karena saya kembali ke 'keadaan itu'? Apakah saya merindukan menyayangi dan disayangi seseorang? Sedangkan saya tidak sia...

Nona, Bersabarlah

Akhirnya, tiba juga pertemuan yang ditunggu-tunggu gadis itu. Sudah setahun lebih, gadis itu duduk di atas bangku kayu panjang menunggu kedatangan lelakinya. Tak sekalipun gadis itu memeriksa arlojinya, atau menekuk senyum penantiannya, bahkan sekadar memejamkan matanya. Ia telah bersolek demi kedatangan lelakinya semenjak lebih dari setahun yang lalu. Senyum itu telah disetelnya persis seperti saat pertama kali mereka bertemu sebelumnya. Di kepalanya, rangkaian kata-kata tak henti-hentinya ia susun sedemikian rupa sehingga ia takkan kehabisan pembicaraan saat bertemu lelakinya. Dan hari ini, detik ini: lelakinya datang. Betapa bermekaran bunga yang hampir layu di hatinya itu. Gadis itu terdiam, menunggu lelakinya menyapa duluan. Sang Lelaki tidak berujar apapun, hanya diulurkannya tangannya untuk kemudian menggenggam lentik jemari Sang Gadis. Sang Gadis pun bangkit setelah setahun lebih tidak berpindah sedikitpun dari bangku itu; mereka berjalan bergandengan tangan tanpa percakap...

Sajak Pagi

/1/ Selamat pagi; Salam hangat dari dapur berantakan yang menunggu untuk dibereskan. Kacang, tempe, dan teri di nampan    tampak tenang, menanti untuk diolah jadi makanan. /2/ Selamat pagi; Salam hangat dari dasar hati yang berserakan dan menanti untuk ditata rapi. Rindu, cinta, angan, dan benci seolah siap bersemi lagi. /3/ Selamat pagi; Waktunya bangun dari mimpi.

Cinta dan Potongan Puzzle

"Cinta itu sederhana; bila tak bisa buat dia tertawa, cukup jangan buat ia terluka. Cinta itu sederhana; bila tak bisa bertahan lama, cukup buat ia percaya, dan terus yakinkan dia bahwa hanya dirimulah yang selalu ada." -sepotong lirik dari sebuah lagu berjudul ' Cinta Itu Sederhana'. Nyatanya cinta bisa sesederhana itu. Ataupun sangat rumit, jauh dari kata sederhana. Lama saya tidak merenungkan kata ini, barangkali sekitar semenjak ketakutan akan tanggung jawab yang begitu besar ketika kita harus mencintai; memilih dan hidup bersama pasangan, anak, dan keluarga yang baru muncul dan menguasai pikiran ini. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata saya menemukan sisi baru dari dalam diri ini. Saya menyukai perihal saling menyayangi--terkadang saya merasa berkelimpahan kasih sayang tetapi tidak tahu harus membaginya pada siapa semenjak tidak ada satu orang yang bisa saya sandarkan diri ini kepadanya. Menyayangi dan disayangi itu menyenangkan. Hal-hal...

Malam Itu

"Aku menulis, untuk mengingat." Demikianlah katamu dalam perbincangan kita malam itu. Ketika kita menyusuri jalan setapak diantara pepohonan yang tak bergerak. Bintang-gemintang tak terlihat; diselimuti awan mendung. Tidak ada senter, tidak ada lampu. Bias sinar rembulan izinkan kami tetap melangkah di jalan setapak itu. "Yah, entahlah. Aku merasa senang. Sangat senang. Tetapi aku merasa gelisah. Dan itu tak kupungkiri; sebab aku belum memahami maksud Tuhan." "Bagaimana maksudmu?" Tanyaku. "Aku berencana meninggalkan tempat ini jika aku terjatuh lebih dari lima kali. Kupikir, itu tandanya aku memang tak cocok berada di sini. Itulah sebabnya aku tidak membawa penerangan apapun. Tuhan bisa saja menaruh kerikil di jalanku, atau lubang di hadapanku. Bisa saja ia gelapkan malam ini sekelam gua yang dalam, bisa saja ia turunkan badai. Sehingga, aku jatuh dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Tetapi tidak. Tuhan justru membiarkan rembulan tetap...

Sepotong Percakapan (Teks) Tadi Malam

"Mungkin ini gara-gara saya patah hati, ya." "Ha? Patah hati kenapa? Lu ditolak?" "Kagak, ditolak mah gak sesakit ini.." "Terus?" "Ini gebetan saya ngaku, dia udah punya pacar. Pacarnya cewek." "Anjir! Doi lesbi? Atau biseks?" "Lesbi. Mana dia sempet ngode-ngode lagi sama saya." "Ngode gimana?" "Titip salam sama keluarga saya, lah. Ngajak nge- date . Tapi yang penting sih, saya punya prinsip. Kalo doi punya pacar kan, saingan saya cuma satu. Sekali jalan, ngapain berhenti di tengah jalan, hehehe." "Jadi lu tetep ngegas nih? Emang dia mau sama cowok?" "Yaa ngegas dikit-dikit. Pacarnya dulu cowok." "Ooh, jadi sambil tetep nge- keep  doi, lu sambil ngelirik yang lain? Iya mah, mending cari yang lain aja.." "Susah, belum ada yang menggetarkan hati. Hahaha!" "Dasar lu mah." ... ... "Temen-temen disana lagi pada 420....