Posts

Sepotong Percakapan (Teks) Tadi Malam

"Mungkin ini gara-gara saya patah hati, ya." "Ha? Patah hati kenapa? Lu ditolak?" "Kagak, ditolak mah gak sesakit ini.." "Terus?" "Ini gebetan saya ngaku, dia udah punya pacar. Pacarnya cewek." "Anjir! Doi lesbi? Atau biseks?" "Lesbi. Mana dia sempet ngode-ngode lagi sama saya." "Ngode gimana?" "Titip salam sama keluarga saya, lah. Ngajak nge- date . Tapi yang penting sih, saya punya prinsip. Kalo doi punya pacar kan, saingan saya cuma satu. Sekali jalan, ngapain berhenti di tengah jalan, hehehe." "Jadi lu tetep ngegas nih? Emang dia mau sama cowok?" "Yaa ngegas dikit-dikit. Pacarnya dulu cowok." "Ooh, jadi sambil tetep nge- keep  doi, lu sambil ngelirik yang lain? Iya mah, mending cari yang lain aja.." "Susah, belum ada yang menggetarkan hati. Hahaha!" "Dasar lu mah." ... ... "Temen-temen disana lagi pada 420....

Tabu

"Mengapa ada saya di sini?" *** Kiranya, itulah pertanyaan yang terlontar dari dalam lubuk hati gadis itu. Ia tengah duduk di atas lantai, berdampingan dengan seseorang yang berumur sekitar delapan tahun lebih tua darinya. Pun orang-orang di ruangan itu, kira-kira umurnya lebih tua sekitar sepuluh tahun darinya. Agaknya ia merasa asing di sana. Tetapi suasana syahdu malam itu, menyenangkan buat dirinya. Dari sudut matanya, terpantul dua musisi yang menyanyi di depan sana. Yang satu wanita berambut pendek, dengan suara yang lembut dan kerasnya menyesuaikan emosi lagu yang di bawakannya. Yang satunya lelaki berambut panjang juga beruban, dengan gitar akustik di pangkuannya serta mikrofon di dekat bibirnya untuk menyanyikan suara pengiring. Mereka membawakan musikalisasi puisi kesukaan gadis itu--inilah yang membawanya ke sana. Tetapi ini tidak biasa. Ini malam Ramadhan, dimana ia seharusnya di rumah. Beribadah dengan khidmat, mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang diy...

123, 1234

Image
Jangan menatapku terlalu tinggi. Aku tidak ada di atas sana, yang kaulihat hanya refleksiku. Proyeksi yang aku ciptakan. Aku di bawah sini. Di dalam lubang kelam yang pernah kutinggali sebelum mereka datang menolongku. Saat mereka pergi, aku kembali melompat, jatuh ke dalam lubang dalam. Menikmati pesta pora dalam kegelapan. Kau ada disini. Kau menatap langit, melihat wajahku, seolah-olah aku ada di atas sana--tidak! *** [1] Barangkali ini munafik, seperti yang dia bilang. Aku ingin menipu diri dengan tersenyum di hadapan cermin. Supaya kulihat wajah bahagiaku begitu menyenangkan, walaupun munafik, aku tak peduli. Walau menipu, biarlah! Aku ingin tersenyum dan menari. [2] Barangkali ini munafik, seperti yang dia bilang. Aku ingin jadi orang baik. . . [3] Namun, barangkali tidak ada yang peduli. Tentang kekanakanku ataupun dewasaku. Atau aku yang kurang bersyukur? Karena aku selalu kabur. Lihatlah, bahkan ketika mereka datang, senyum pun tak ...

Usailah Asa

Akhirnya kembali, sama seperti waktu itu. Tuhan, kupasrahkan pada-Mu. Engkau tahu yang terbaik untukku, Engkaulah yang membolak-balikkan hati. Barangkali bertahan di sini memang jalanku dan itu yang terbaik untukku, Engkau akan mempertahankanku di sini. Namun jika memang ini sungguh buruk bagiku, Engkau mampu membelokkanku dengan segala cara-Mu. Tuhan, aku pasrah. Telah lama kuterbuai dan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana, yang semakin tak jelas arahnya. Aku lelah berada dalam kegamangan, aku letih berputar dalam kegetiran. Dalam lubuk hati kecilku, aku berharap mereka berusaha mempertahankanku. Nyatanya aku sekarang yakin bahwa Engkau ciptakan kami sebagai makhluk individu. Yang mengejar sesuatu untuk diri sendiri. Mereka tidak akan memaksaku bertahan. Mereka membebaskanku. Pun mereka-mereka yang lain. Aku punya kebebasan memilih; namun sekarang kupasrahkan pada-Mu Tuhan, kemanakah kaki ini akan memilih langkahnya. Engkau dapat pertemukan aku dengan siapapun,...

Balada Seorang Penari

Image
"Inilah cinta seorang penari" ***           Tangan                Men                   cuat                      di                        at                        as                      penari Kami terus menari, Tiada berhenti Seolah kami tak peduli lagi Kami terus berlari, Mengejar mimpi-mimpi Meski ragu lantaran tak pasti Kami terus bernyanyi, Pada terbit dan tenggelam mentari Iringi siang dan malam yang berganti Mengisi kosong yang ada di hati      Nihil.           Sampai mati           Akan terus menari     ...

Kala Sepi Mencekat

Kala sepi mencekat Apa yang dapat kuperbuat Hatiku dirubung lalat; Yang belatungnya menggeliat. (*) Barangkali aku sempat Memekik, meraung, menyayat Luka dalam yang kudekap erat Hingga sekarat-- Berkarat. Bersama sajak yang tengah kubuat, Aku menunggu surat Dengan secarik kertas yang terlipat Dalam amplop yang tertutup rapat Datang lamat-lamat, bawakan ayat-ayat (*) Rindu adalah sepi yang mencekat Rasa pahit juga sepat Tambah kopi makin nikmat Sakau dekatkanku pada kiamat (*) Bejat!   --Kauka

Percakapan dengan Telaga

Halamanku sepi lagi. Burung-burung, lebah, kumbang, bahkan kucing, tak lagi mampir walau barang sesaat. Sepi, memang. Namun kupikir, justru inilah saatnya aku bisa menatap dalam-dalam telaga di tengah halamanku. Supaya aku bisa melihat refleksi diriku, sambil bercakap-cakap dengan mentari dan rembulan yang wajahnya terpantul di permukaan telaga. Duhai, mentari, rembulan; duhai wajah yang terpantul di riak air telaga. Tidakkah dirimu lelah, terus mengorbit, pancarkan cahaya, pantulkan cahaya; ceritakan dirimu, tanggapi yang lain. Barangkali kau belum sanggup mengatasi gejolakmu, emosi yang terbendung, pun kesepian. Bersabarlah. Jangan cepat memutuskan, jangan gelap mata. Berpikirlah dengan waras, gunakan rasionalitasmu. Apalah arti cinta dalam usia sedini dirimu. Lembut sinar rembulan, mengelus pipiku malam ini. Buatku ingin ceritakan semua; izinkanlah aku menikmati malam kesendirianku. Duhai, rembulan. Sungguh, aku belum mengerti mengapa kami--lelaki dan wanita, memang dicipta...

Laut

Saat purnama tiba di puncaknya dan air laut berada pada keadaan pasang tertingginya, aku justru memilih untuk berjalan di pesisir, membiarkan kakiku terendam asinnya air laut dan bayangan tubuhku terefleksi di atas permukaannya. Kemudian pagi menjelang, air laut mulai surut; aku yang tak mau lepas dari air laut karena sudah kepalang basah justru mengikuti surut laut. Menjauhi pesisir. Semakin jauh sampai aku tak sadar kini ada di mana. Laut tetap cantik dengan pesonanya, sementara fajar menyingsing dan aku kehilangan daratan. Kakiku semakin lelah untuk menopangku berdiri. Air setinggi leher; aku harus tetap bernapas. Namun diri ini semakin lelah. Matahari yang telah terbit, burung-burung yang terbang bebas di angkasa, langit biru, dataran hijau... Ah, manusia di tengah laut sama halnya dengan ikan di tengah darat. Sekali habis napasku, usailah semua. Kucelupkan kepalaku ke dalam laut, lalu kusaksikan betapa indahnya pemandangan di bawah laut. Kusadari bahwa ini adalah fana, ...

Sisa Kafein Semalam

Dua malam ini, telah saya lewati dengan mata terjaga sebelum fajar menyingsing. Ketika ayam mulai berkokok--sayup-sayup, tubuh ini menolak untuk tidur dan bercengkrama dengan hal-hal yang saya senangi. Di malam kedua, saya menggunakan kafein sebagai dopping agar kantuk tak perlu mengusik kesenangan saya. Saya pikir, saya sudah gila, haha. Kerusakan memang tak selalu tampak. Segala puji bagi-Nya yang mampu melindungi aib-aib saya. Saat ini, saya masih menikmati kesenangan saya. Alunan dawai gitar dari gawai di tengah suara rintik hujan sore hari. Pembacaan puisi dan musikalisasi larik-larik sajak. Ah, jauh sekali dari dunia yang saya tekuni saat ini. Begitu banyak keinginan dari dalam diri ini. Saya pernah merasa berpikir bisa menjadi manusia super, tetapi apa yang saya lakukan justru menjadikan saya manusia yang setengah-setengah. Setengah hidup-setengah mati. Setengah waras-setengah gila. Perkara macam apa ini. Saya (merasa) tidak bisa menjadi satu. Pun, menjadi nol. Saya ...

Takut

Hai. Namaku Warni. Dan aku takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut Dunia semakin gila. Takut. Duniaku semakin gila. Takut. Takut. Takut. Kaku datang. Takut. Lubang menelan. Takut. Takut. Langkah kaki mendekat. Takut. Tak. Tak. Tak. Takut. Tak takut. Kuharap ku tak takut. Nyatanya aku takut. Walau aku tak nyata. Tetap. Takut. Takut. Takut. Pergi. Takut. Tahu apa kau tentang kebebasan. Takut. Takut. Tahu apa kau tentang terpenjara. Takut. Tahu apa kau tentang kegamangan. Takut. Getir. Takut. Tidak mati-mati. Takut. Akan mati. Takut. Meninggalkan jejak. Takut. Menghadap-Nya. Takut. Menangisi mereka. Takut. Kehilangan. Takut. Mereka siapa. Takut. Mereka apa. Mengapa? Takut. Hapus. Habis. Takut. Mengapa jadi begini. Takut. Takut. Kapan berakhir. Takut. Detak jantungku Takut Takut Takut. Kaku datang kaku pergi Kaku beri takut-takut Kaku takut-takuti aku Kaki kaku tak-tak melangkah aku. Takut. Takut. Takut....