Posts

Warna

"Dia sempurna banget, ya, di matamu." Adalah perkataannya ketika Warni menceritakan tentang Warna. Ada sorot yang berbeda kala itu, entah bagaimana, itu tampak sekali di balik kedua bola matanya. Tetapi bukan itu yang ingin Warni utamakan, melainkan saat ini bagaimanakah penilaiannya sendiri terhadap Warna? Cukup aneh memang, karena hal-hal semacam ini bukanlah sesuatu yang tepat untuk diceritakan. Tetapi Warni mendesakku, untuk mencoba menata pikiranku , katanya. Baiklah, kaumemang selalu punya kemauanmu sendiri, Warni. Mari mulai sesi bincang-bincangnya, haha. *** W: Warna memang punya kepribadian yang baik. Bertanggung jawab. Risau pertamanya adalah soal orang tuanya. U: Bagaimana kautahu? W: Ia sering menceritakan tentang keluarganya. Persoalan serius pertama yang ia tanyakan padaku adalah bagaimana latar belakang keluargaku. Aku ingat betul bagaimana ia stres memikirkan kondisi bapaknya saat terjadi masalah. Aku pernah melihatnya langsung, beberapa kali,...

Sepuluh Bulan yang Lalu

Image
Ingatanku melambung, kembali ke masa itu. Sepuluh bulan yang lalu. Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis. (*) Dalam tidurku sebelumnya, kubertemu denganmu. Dalam kegelapan malam, kukayuh sepeda, kemudian entah mengapa kutinggalkan sepeda itu. Aku berjalan melewati rel kereta, menyusuri gelapnya hutan. Saat merasa telah kehilangan arah, kutemukan kamu. Dengan beralaskan sepatu olahraga sekolah yang tak pernah kauganti selama tiga tahun silam, dan dibalut gamis putih yang berpendar, kaulemparkan sebuah senyum paling tulus yang pernah kusaksikan. Aku pun berjalan mengikutimu; dedaunan pepohonan mulai terbuka, dan... Bulan itu penuh. Lingkaran sempurna, dengan kesempurnaan pendaran sinarnya. Di sekelilingnya, bintang-bintang gemerlap memamerkan pesonanya. Kau dan aku diam. Kemudian aku terbangun. Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis. Aku rindu. Bawa aku kembali ke jalan dimana seharusnya aku me...

Tidak Semua Rindu Perlu Dilunasi

Aku rindu mencintaimu, Saat aku hendak mencintainya Karena ada yang hilang dari dirinya Yang kutemukan saat mencintaimu. Aku rindu mencintaimu, Melantunkan doa-doa, harapkan kesehatanmu; Cemaskan sakit dan hilangmu. Aku Rindu Diam dalam pertemuan kita Perasaan yang terkungkung dalam rahasia Yang telah lama terkubur; hampir sirna Namun sedikitpun aku tak merindukanmu Aku hanya rindu mencintaimu Rindu dicintai olehmu Aku ingin memandangmu tanpa mengingat yang lalu Mencintaimu yang ada di hadapanku Bukan kenangan, ingatan Tetapi tidak semua rindu perlu dilunasi, bukan?

(Semoga) Akhir Seonggok Sampah

Bagaimana mungkin Warni tak sadar bahwa saudaranya telah berjalan-jalan jauh selama ini. Sedang ia selalu berada di dekatnya. Bagaimana bisa Warni abai akan perasaan keluarga yang selalu mengharap kebaikan baginya. Bagaimana bisa, ia tega mengkhianati kepercayaan itu. Apa yang kau berikan kepada mereka yang memberimu. Kau sibuk memikirkan kehancuranmu, tetapi kerjanya terus meratap dan sekadar berharap 'kan datang penolong. Kutahu kau tukang khayal, tetapi kaupikir dunia seindah imajinasimu? Lari dari kenyataan untuk keindahan semu. Kesenangan yang fana. Apa yang kaukejar? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, sampai-sampai tak sadar bahwa jasadmu telah bertransformasi menjadi kebusukan tak berguna. Sampah. NB. Pergilah.

Refleksi

Image
Diam dan berpikir, melakukan kontemplasi. Sinar datang menerpa. Foton berosilasi, elektron beresonansi. Cahaya terpantul dan realita timbul dalam imaji. Refleksi. (*) Aku ingin tahu diriku; beri aku kaca dan lapisan perak supaya aku dapat bercermin. Aku ingin kenal diriku; beri aku seseorang kemudian ajak aku bicara, tentu tanggapanmu merupakan respons dari sesuatu yang telah kukeluarkan. Aku ingin paham diriku; beri aku sekumpulan manusia, maka aku akan punya penilaian terhadap kelompok manusia tersebut sehingga aku akan memahami bagaimana paradigma yang kuyakini. Aku, aku, dan aku. Kepalaku sakit. Diriku, pergilah. Diriku, bercerminlah. (**) Cermin, datanglah, takkan kuremukkan dirimu karena aku butuh kamu. Paling-paling justru kepalaku yang akan kuhentakkan ke dinding itu, sampai dentumnya kaudengar karena menusuk hingga ke ubun-ubunmu. Supaya kautahu betapa hancurnya diriku melihat refleksiku. Dalam keributan ini, aku memilih diam. Untuk menangkap ...

Khayal?

Kembali ke Pohon. Warni sedang diam sore ini. Ia hanya ingin diam. Barangkali ia lelah. Ditambah lagi dengan datangnya pertanyaan dari salah seorang kawan tadi siang--sebuah pertanyaan sederhana yang justru mengaduk-aduk emosinya. Sebab pertanyaan itu adalah akar dari segala keraguan yang menggerayang pikiriannya. Rona Warni sore itu, semendung langit sehabis hujan. Tak kunjung cerah sebab hari pun tengah berganti malam. Pohon itu, tempatnya berteduh. Tetapi sebenarnya, aroma manis yang ditebar Pohon tak lain ialah halusinogen yang memabukkan Warni. Seolah terbang, pindah ke dalam ketenangan yang semu. Ketenangan sesungguhnya, yang pernah menyelubungi dirinya... kemanakah? Burung punai dalam genggaman, ia lepas. Ketenangan yang sejati, dilepasnya, digantikan kesenangan semu. Salahkah? Sudah, diamlah sejenak. Lihat. Saksikan. Pikirkan. Renungkan. Tetapi ada sesuatu yang mengacaukan pikiran Warni... Kecemburuan itu dijawab dengan sebuah pertanyaan lanjutan: ...

Balada Angkringan dan Omelet

Aku cemburu. Melihat bocah kecil itu menangis di atas matras, di depan gerobak angkringan sore itu. Kemudian bapaknya datang dan menyuguhkan sepiring sate usus kepadanya. Anak itu belum juga berhenti menangis, sementara kakak perempuannya asyik bercerita dengan ibunya sambil menikmati nasi kucing dan sate ati di meja makan mereka. Kemudian lamunanku dipecahkan tawa dan olok-olokan orang yang duduk di depan, samping, dan serongku. Mereka saling bercanda, mengetawai satu sama lain, dan aku hanya bisa tersenyum mendengar lelucon mereka. Rasanya ada batas yang membuatku tidak betul-betul masuk dalam pembicaraan mereka. Aku juga ingin masuk ke dalam lingkaran mereka. . .. Terbang ke lamunan. (*) Ah! Bawa aku kembali pada ketenangan. Aku merinding, takut sendiri. Aku mencoba memperbaiki apa yang kumiliki, tetapi mengapa justru aku memperburuk keadaan? Apa yang bisa kuperbuat supaya mereka bahagia, mengapa aku terus-menerus mengecewakan mereka. Mengapa apa yang kuinginkan dengan...

Tanya-Jawab-Cari-Pilih-Debat-Dalih

Kita bisa bertanya apa saja. Mengapa aku di sini, di depanmu yang duduk termangu tanpa ekspresi. Bagaimana perasaan dapat timbul dan tenggelam. Apa arti hidup, apa arti mati. Mengapa aku mempertanyakan apa saja, bagaimana pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab. Mengapa gelisah, mengapa resah. Kenapa bersembunyi dari ketakutan yang kerap datang menerpa. Bagaimana caranya lari dari kekhawatiran, menuju kebahagiaan yang abadi. Apa arti abadi, apa arti fana. Mengapa tubuh yang basah terasa dingin. Bagaimana gelombang elektromagnetik merambat tanpa medium. Apa yang seharusnya kita lakukan, pikirkan, kemanakah pertanyaan-pertanyaan ini bermuara. Kita bisa bertanya kepada siapa saja. Kepada sosok idealis yang berpegang teguh pada keyakinannya. Kepada pemikir yang hobinya berkontemplasi. Kepada mereka yang menjalani hidup apa adanya, tanpa memikirkan sesuatu yang muluk-muluk. Kepada mereka yang tak bisa bicara. Kepada alam yang menjadi saksi bisu peradaban. Kepada hujan yang hanya ba...

Anak Perempuan, Musik, dan Orkestra

Anak perempuan itu telah jatuh cinta pada musik. Gelombang akustik yang keluar dari perangkat-perangkat pelantang, vibrasi senar gitar ketika dipetik, gesekan dawai pada senar biola, denting piano yang diketuk tari jemari, metronome yang selalu berfungsi dalam irama yang tepat, membran-membran alat musik ritmis yang ditepuk dan dipukul, aliran angin pada sela-sela lubang harmonika... Terpadu dalam lagu. Harmoni dalam elegi. (*) Siang tadi, anak perempuan itu masuk ke dalam aula besar dengan banyak orang di dalamnya. Luar biasanya, meski orang-orang mengobrol, aula tidak bising. Bagaimana pula orang-orang memanipulasi gelombang akustik di dalam ruang? Rekayasa bangunan? Ah, menarik juga. Tiba-tiba terdengar suara mikrofon sedang diuji coba. Layar lebar di kanan dan kiri podium aula yang semula menampakkan tampilan layar komputer, kini menayangkan siaran langsung suasana aula dalam  real time . Tak selang berapa lama, layar lebar tersebut menampilkan wajah-wajah pemain ork...

Mood dalam Fungsi Sinusoidal

Image
Apakah sebenarnya aku hanya mengulang-ulang siklus, Sehingga aku merasa telah berpindah, padahal posisiku hanya kembali ke awal Dan usaha yang kulakukan sama dengan nol Salahkah aku mengabaikan jarak yang teramat kecil? Padahal jarak-jarak itulah yang menyusun sistem-sistem besar Ketidakpastian dalam selisih yang mendekati nol itulah yang terintegrasi menjadi kehidupan makro Mengapa merasa sepi? Sedang kita berada dalam kapsul raksasa bernama bumi yang selalu bergerak dengan kecepatan tinggi, sangat tinggi Dan menyimpan semesta mikroskopis, bahkan nanoskopis--bukan, mungkin masih banyak misteri yang lebih kecil lagi. Otak kita bisa lebih dari sekadar mendeteksi frekuensi, amplitudo, dan unsur-unsur lainnya yang terekayasa ketika mendengarkan lagu Adalah memori berisi momen yang terkadang muncul bersama sinyal suara Seperti elektron pada retina yang ikut berosilasi Ketika gelombang cahaya datang menerpa Barangkali manusia bukan sekadar sistem Yang perasaannya hanya ...