Posts

Nyala

Image
Nyala tiada berarti tanpa kegelapan. Kobar takkan timbul tanpa penghangusan. Merah muncul bersama hitam, kuning berganti abu. Di sela-sela gelak tawa, aku justru tenggelam dalam lamunanku. Seperti suara desir angin yang terselip di antara dedaunan dan suara hewan-hewan malam di balik pepohonan; seolah tak timbul, tenggelam oleh nyanyian bahagia malam itu. Bahagia menyertaimu. Bukan diriku. Kamu menyala dengan terangnya; Biarlah aku tenggelam bersama dinginnya malam. Tetapi nyalamu pancarkan kehangatan--menembus dinginku. Ditulis Di Kaliurang, Di akhir bulan, di awal tahun. Di antara akhir dan awal episode kehidupan. Di sela lingkaran ini, di tepi lingkaran itu.

Tentang Perasaan yang Terulang

Aku tahu, Suatu saat nanti kedekatan dan pertemanan akan bergilir. Yang dekat saat ini belum tentu akan tetap bersama. Tetapi kenapa sekarang? . Perputaran ini terlalu cepat! Hatiku terombang-ambing; setengah terkejut setengah bersedih. Mengapa terulang kembali? . Mengapa pendewasaan diri terasa menyakitkan?

Syukur

Saat kamu merasa bosan dengan hidupmu, bersyukurlah. Kalimat yang seharusnya selalu saya ingat, namun justru kerap kali saya lupakan. Sejak kapan saya jadi sering menyalahkan keadaan? Padahal apa yang ada di dekat saya saat ini sudah lebih dari cukup. Lantaran merasa ladang tetangga lebih hijau, saya lebih sering menatap ke sebelah dibanding memelihara rumput di tanah sendiri. Ketika tanah ini hendak diambil, barulah saya merasa bahwa bagaimanapun juga, tanah ini merupakan yang terbaik untuk saya. Sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu ingin mencapai kebahagiaan, kesempurnaan; padahal tidak ada yang benar-benar final kecuali akhir dari kehidupan. Itulah sebabnya mengapa kita terkadang merasa belum puas, selalu ada yang kurang. Sehingga, tak jarang bila rasa syukur abai dari benak. Akibat kekurangsyukuran itu, saya pikir saya sudah menyakiti orang-orang terdekat... rumah dan keluarga, saya rasa merekalah tempat pulang di dunia yang sesungguhnya. Suatu saat nanti ketika saya ber...

Warni Bercerita

Di antara suara jangkrik, alunan piano serta petikan gitar, kupandang sepucuk surat baru yang dialamatkan kepadaku. Kuamati goresan tulisannya--ah, surat tak bernama ini pasti tak lain dari Warni. Isinya: "Terima kasih. "Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pohon dan Rumah, serta siapa saja yang ada di dalamnya. Tanpa bisikan mereka, barangkali aku tidak akan melakukan pengembaraan selama tujuh hari ini." Tawaku tergelak. Benar juga, sudah beberapa hari sejak ia terakhir kali menitipkan surat padaku. Pengembaraan macam apa yang ia maksud? Mungkin akan lebih menarik jika kuteruskan membaca suratnya. Masih ada lanjutan tulisannya di bagian bawah surat. "Maaf lama tidak mengabarimu, berikut aku lampirkan catatan pengembaraanku selama tujuh hari. Dan latar belakangnya. Yah, tidak rinci, sih. Aku ingin menyampaikan apa yang ingin kusampaikan saat ini saja. Kau tahu aku, bukan? Haha!" *** Semua dimulai dari pembicaraan Warni dengan ...

Degup Tanpa Ritme

"Apa yang kaurasakan?" "Aku tak tahu. Sulit dijelaskan." Sudah normal, katanya. Tidak ada masalah; semua beres. Tak perlu diperiksa lagi, kau sudah baik-baik saja. ... Jadi apa yang mesti saya lakukan?-- Batin perempuan itu. Degup jantung yang tak biasa itu muncul lagi malam ini. Barangkali sudah sekitar sepuluh menitan. Tetapi, sudah sejak lama ia menepisnya. Ia selalu berkata dalam hati bahwa barangkali degup tak biasa itu hanya perasaannya. Apalagi, dokter mengatakan bahwa semua sudah beres dan bersih. Jika demikian, apa yang dirasakannya saat ini? Apakah itu gejala akibat ketakutannya--mungkinkah di alam bawah sadarnya, sesungguhnya ia sedang mengalami ketakutan? Ataukah memang gejala itu timbul di fisiknya, sehingga memicu ketakutannya perlahan-lahan? . Tujuh belas tahun berlalu dan mengapa dirinya masih belum sepenuhnya memahami bahasa dari tubuhnya?

Sangatta: Kota Tambang dan Romantika Tahun Baru

Image
Perumahan Batu Putih masih tenggelam dalam keheningan seperti biasanya. Tak ada suara kembang api atau sekadar bunyi kendaraan yang lewat. Bahkan, suara cicak tak terdengar malam ini. Hanya bunyi kipas angin membelah udara kamar ini yang terdengar di telingaku. (*) Malam ini, saya nyatakan bahwa Sangatta, ibukota Kabupaten Kutai Timur, memang benar merupakan Kota Tercinta. Mungkin bukan Tercinta sebagai akronim dari Tertib Ceria Indah Aman Takwa seperti yang dimaksudkan. Sangatta ialah Kota Tercinta dalam artian layak untuk dicintai. Kota yang tak lepas dari debu pertambangan batu bara ini elok dalam kesederhanaannya. Di malam tahun baru ini, pemandangan Swarga Bara--nama salah satu daerah di Sangatta Utara--masih tetap sama seperti yang dulu. Lapangan becek sisa hujan sebelumnya, sebuah panggung beserta seperangkat lighting dan sound system -nya, stan-stan yang diisi oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan UMKM lainnya, serta ramai penduduk (yang sebenarnya jumlahnya sedikit apabil...

Pesan Akhir Tahun

Barangkali setelah tahun berganti, Warni perlu lebih bersabar. Satu. Bersabarlah menunggu waktu yang ditentukan untuk bertemu (kembali) dengan Warna. Sembari menunggu, Warni, kau bisa memikirkan dengan jernih apa yang ingin kausampaikan. Susun semua pemikiran secara tersistematis; gunakan logika dan singkirkan sejenak perasaanmu itu. Diskusikan dengan jelas dan tanpa emosi. Jangan lupa berdoa supaya diberi kelancaran, yakinlah bahwa apapun jalan keluarnya nanti, itu semua merupakan takdir-Nya. Dua. Bersabarlah atas hatimu yang mulai bertanya-tanya tentang perasaanmu terhadap-"nya". Yang kaukenal di bawah Pohon. Ingatlah bahwa perasaan perlu dibekali logika, Warni. Meski terkadang, kehadiran logika melukai perasaan, sementara hanya waktu yang mampu menyembuhkan perasaan. Datang darimanakah perasaan itu? Mengapa perasaan itu timbul? Seperti apakah sebenarnya perasaan itu? Dan, bagaimanakah sebaiknya menyikapi perasaan itu? Renungkanlah. Tiga. Bersabarlah dalam belajar, te...

Menyapamu

Di tengah kebimbangan hati ini, sungguh, saya rindu kamu, wahai saudariku. Kamu yang selalu tersenyum dalam kesederhanaanmu. Tertawa riang ketika orang-orang iba melihat pahit kehidupan yang mesti kautelan. Membantu orang lain meski dirimu tak sedang dalam kemudahan. Tutur katamu melipur lara orang-orang di sekitarmu. Saudariku, kamu inspirasiku. Memori adalah prasasti yang kita ukir bersama. Ingat canda tawa ketika kita mendendangkan laguku dan lagumu? Ingat sajak-sajak alam semesta yang kata-katanya kita rajut bersama? Ingat bintang jatuh yang kita saksikan bersama subuh itu? Ingat ketika aku bercerita dan kauhanya sanggup mendengar lalu tersenyum, begitu pula ketika dirimu yang bercerita. Dan ingatkah ketika hari terakhir kebersamaan kita; tak satupun dari kita sanggup berkata-kata. Hanya kerlingan air mata yang sanggup berbicara tentang semua yang kita lewati dan yang akan kita lewati. Peluk hangat itu menjadi satu-satunya ekspresi yang mampu kita ungkapkan. Kini semua t...

Lepas Landas

Image
Di bandara, nama-nama dipanggil Orang datang dan pergi Berjumpa dan berpisah Silih berganti Aku juga Di hatiku, namamu aku panggil Orang datang dan pergi Berjumpa dan berpisah Silih berganti Aku tetap Perjalanan Selalu demikian Relakan Dan melangkah ke depan

Kabar Hari Ini

"Hei, Warni. Ada apa denganmu? Kautampak bahagia; bukankah begitu, hmm?" Ia mematung, menatap mataku dengan tatapannya yang kosong. Dua puluh tiga milisekon kemudian, tawa tanpa suaranya meledak. Entah apa maksud tawa itu. Aneh sekali. Baru dua hari yang lalu, kondisinya tidak keruan. Pikirannya acak amburadul, bicaranya tak jelas, kerjaannya melontarkan pertanyaan ini-itu dan bercerita tentang alur penuh lubang. Hari ini, sejak tadi pagi tepatnya, Warni berubah 180 derajat. Ia sudah tertawa seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Padahal tidak ada yang betul-betul ia lakukan untuk menolong pikirannya yang kacau itu. Yah, kuucapkan selamat sajalah padamu. Karena keresahanmu merepotkan banyak orang, semoga seterusnya bahagia.